Teh Asli Malang, Kabarnya Kini (5)

Tinggalkan Gaji Rp 25 Juta demi Bisnis Teh

Oct 04, 2017 18:41
Owner Teh Racek Eko Sugiarto saat ditemui di kantornya beberapa waktu lalu. (Foto: Hezza Sukmasita/MalangTIMES)
Owner Teh Racek Eko Sugiarto saat ditemui di kantornya beberapa waktu lalu. (Foto: Hezza Sukmasita/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Sebelum sukses hingga terdapat ratusan outlet, ternyata The Racek memiliki sejarah panjang di Kota Malang. Kepada MalangTIMES, owner The Racek Eko Sugiarto membeberkan kisah suksesnya membangun bisnis minuman segar ini.

Kisah berdirinya The Racik tahun 2009 silam berawal dari dipindahtugaskannya Eko dari tempat kerjanya yang lama. Sebelum memiliki brand sendiri dengan nama The Racek, Eko telah lebih dulu melakukan franchise dengan minuman berbahan dasar teh asal Kediri. Seiring dengan kepindahannya ke Kota Malang, teh tersebut juga mulai dipasarkan di kota pendidikan ini.

Baca Juga : Dewan Nilai Dirut PDAM Tak Penuhi Kompetensi, Usul Konkret Dicopot

Jatuh bangun dirasakan Eko saat itu, gaji tiap bulan dari perusahaan ternama tempatnya bekerja pun digunakannya untuk membangun bisnis barunya ini. Dua tahun dia menjalankan franchise sejak 2007. Tahun 2009 Eko memberanikan diri membuat brand miiknya sendiri.

Sempat mengalami kebingungan akan logo yang akan digunakannya sebagai branding produknya, akhirnya wangsit itu datang saat Eko terbang ke Jakarta untuk menghadiri sebuah pertemuan.

“Di pesawat saya utak-atik aja sendirin gambar logo. Saya pingin punya logo yang gampang diingat. Akhirnya saya buatlah nama Teh Racek karena saya pikir waktu itu the ini kan racikan saya sendiri,” cerita alumnus Teknik Kimia ITS Surabaya ini.

Nama Teh Racik ini selain mengandung filosofi minuman racikan Eko sendiri, juga memiliki makna lain. Yakni Teh Ratih dan Cak Eko. Jika digabung menjadi The Racek. Ratih sendiri adalah nama istri dari mantan manajer distribusi PT Philip Indonesia ini.

Meski sempat mendapat cemooh dari rekan sekantornya, Eko tetap getol mengembangkan bisnisnya. Hingga akhirnya memiliki 15 outlet di tahun pertama The Racek berdiri. Padahal mulanya dia hanya memiliki satu outlet di Malang Town Square.

Tahun berikutnya Eko memutuskan untuk lebih fokus dengan bisnis yang tengah dijalaninya dan meninggalkan pekerjaan lamanya. Padahal saat itu gaji Eko tergolong besar, yakni mencapai Rp 25 juta setiap bulan.

Baca Juga : Pipa Terus Bocor, Wali Kota Malang Sutiaji Beri Komentar Ini

“Setelah resign saya ekspansi besar-besaran ini Teh Racek. Sampai akhirnya baru berani buka kemitraan karena bagi saya penghasilan itu harus dibagi. Akhirnya kami gunakan system sharing profit untuk mengembangkannya,” jelas suami Ratih ini.

Hingga hari ini Eko memiliki sekitar 200 outlet The Racek. Dan 150 di antaranya menduduki Kota Malang. Sisanya tersebar di Surabaya, Kota Batu dan kabupaten Malang.

Untuk semakin membuat bisnisnya menggeliat, Eko telah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Terbaru, dirinya mengantongi izin langsung dari Pertamina pusat untuk membuka outlet-outlet produknya di Jawa, Bali dan NTT.

Untuk menjadi pesaing kuat brand-brand nasional, Eko telah merancang sebuah strategi jitu untuk bersaing. Salah satunya dengan membuka cabang yang rencananya akan difokuskan di Yogyakarta. (*)

Topik
teh malangteh asli malangbisnis teh malangthe racek

Berita Lainnya

Berita

Terbaru