Kafe di Pinggiran Kota Malang Gaet Pengunjung (3)

Di Kafe Cokelat Klasik, Pengunjung Rela Antri Berjam-jam Hanya untuk Dapat Tempat Duduk

Oct 03, 2017 21:15
Foto via Instagram
Foto via Instagram

MALANGTIMES – Bersebelahan dengan Bukit Delight, Anda akan menemukan Cokelat Klasik. Kafe itu berada di area seluas 2800 meter persegi.

Baca Juga : Dewan Nilai Dirut PDAM Tak Penuhi Kompetensi, Usul Konkret Dicopot

Dibanding kafe lain yang ada di kawasan Jalan Joyo Agung, lahan Cokelat Klasik terbilang luas. Bahkan saking luasnya sampai dibagi menjadi lima area, yakni area atas, tengah, dan bawah.

Bila Bukit Delight baru buka pada sore hari, maka Cokelat Klasik buka lebih awal yakni mulai pukul 10.00 WIB. Khusus hari Senin jam buka dimulai pukul 12.00 WIB. Lantas, apa keunikan kafe ini hingga membuat pengunjung harus ekstra sabar mengantri?

Konsep Cokelat Klasik bertema alam sama halnya dengan kafe-kafe lain di kawasan Jalan Joyo Agung. Pesona kafe itu terletak pada area bawah. Spot meja taman dengan latar tulisan Cokelat Klasik sedang menjadi buah bibir di kalangan warganet terutama kawula muda.

“Memang banyak yang rebutan untuk spot-spot kita yang baru. Bukan hanya itu sih sampai kita buat area baru lagi di bagian bawah juga karena saking banyaknya pengunjung yang enggak aja terjadi saat weekend,” tutur Business Development CV Klasik Lalu Wendy Wirasanjaya pada MALANGTIMES, Selasa (3/10/2017).

Pria yang akrab disapa Wendy itu mengungkapkan bahwa lonjakan pengunjung tidak saja terjadi pada akhir pekan. Stabil, kata Wendy, ratusan orang setiap hari berkunjung ke kafe yang berdiri pada 2015 silam itu.

“Sampai harus antri apalagi kalau weekend ya, tapi kadang di hari biasa banyak yang rela mengantri demi dapat spot di area bawah kafe ini,” ungkap pria asal Lombok itu.

Business Development CV klasik Lalu Wendy Wirasanjaya (foto: Wahida Rahmania Arifah/MalangTIMES)

Diakui Wendy, pengunjung tidak hanya berasal dari kalangan anak muda. Bahkan, kian hari pengunjung Kafe Cokelat Klasik berasal dari berbagai lapisan usia mulai anak-anak hingga orang dewasa.

“Segmentasi awal kita memang anak muda. Tapi lama-lama banyak juga keluarga yang datang. Mulai dari situ akhirnya manajemen mulai terus kembangkan lahan termasuk juga rencana kita buat playground,” jelasnya.

Pengembangan demi pengembangan terus dilakukan Cokelat Klasik. Soal konsep pengembangan pun manajemen lebih banyak mengakomodir keinginan sang pemilik, Martalinda Basuki.

Baca Juga : Pipa Terus Bocor, Wali Kota Malang Sutiaji Beri Komentar Ini

“Sampai saat ini kalau ditotal bisa muat sampai 700 pengunjung lah. Tapi melihat animo kita enggak tahu ke depan ada rencana untuk pengembangan lahan,” imbuh Wendy.

Lebih lanjut, disinggung soal persaingan bisnis kafe di kawasan Jalan Joyo Agung, Wendy menganggap hal tersebut justru memotivasi manajemen.

“Kalau itu sih menurut kita malah bagus ya.  Karena sedari awal kita memang ingin kawasan Joyo Agung ini ramai. Jujur kita yang mengawali kafe di sini enggak nyangka kalau akan banyak tetangga-tetangga kita di sini. Dan menurut kita itu positif. Malah kita ingin sama-sama kerjasama gimana caranya memajukan kafe di Joyo Agung ini,” papar dia.

Cokelat Klasik mengklaim sebagai motor penggerak geliat kafe di kawasan Jalan Joyo Agung. Berdiri pada 2015 silam, kafe ini awalnya hanya berbentuk stan yang menjual aneka minuman cokelat.

Lambat laun animo pengunjung mendorong manajemen melakukan pengembangan yakni kafe bernuansa taman dengan pemandangan perbukitan.

Pengembangan manajemen Cokelat Klasik tidak berhenti sampai disitu. Melihat antusias kafe bernuansa alam, manajemen pun membuka dua kafe lain dengan suguhan kuliner berbeda.

Benarkah itu merupakan cara mereka menumbuhkan geliat kafe bernuansa alam sebagai alternatif wisata baru di Kota Malang? Simak ulasan lengkapnya pada bagian selanjutnya di media online MALANGTIMES. (*)

Topik
Kafe Cokelat KlasikBukit Delightkafe malangbisnis kafe

Berita Lainnya

Berita

Terbaru