Kafe di Pinggiran Kota Malang Gaet Pengunjung (2)

Kafe Bukit Delight, Unggulkan Interior Meski Menu Kuliner Minim?

Oct 03, 2017 19:35
Syahdu malam di Kafe Bukit Delight Jalan Joyo Agung, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang (foto via Instagram @gebyfirdana)
Syahdu malam di Kafe Bukit Delight Jalan Joyo Agung, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang (foto via Instagram @gebyfirdana)

MALANGTIMES -  Menyusuri wilayah perbukitan Jalan Joyo Agung, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang Anda akan menemui setidaknya enam buah kafe yakni Bukit Delight, Camilo Colours and Garden, Cokelat Klasik, Lingling Green Barn Eatery, Soima Bar and Kitchen, dan Ala Lala Cafe. Kafe pertama yang berada di sisi kanan jalan ialah Bukit Delight.

Sang pemilik ialah Febry Pradhana. Ia tak sendiri. Bersama seorang rekan semasa sekolah, Oktavinus Benny, mereka beri nama kafe itu dengan sebutan Bukit Delight.

Baca Juga : Transparansi Anggaran Disparbud Dipertanyakan, Pemkab Malang jadi Paling Disorot

“Enggak ada makna khusus, ya lihat ini bukit ya sudah pakai nama Bukit Delight saja. Udah itu saja. Kami mulai semua ini dari nol dan enggak tahu apa-apa. Termasuk biaya kami nol rupiah,” cerita pria yang akrab disapa Break itu kepada MALANGTIMES, Selasa (3/10/2017).

Memulai semua dari nol, mereka berdua menyewa sebuah lahan seluas 1400 meter persegi. Alasan memilih lokasi di Jalan Joyo Agung juga karena biaya sewa yang jauh lebih murah dibandingkan menyewa lahan di pusat Kota Malang. “Karena murah. Itu saja. Ada lahan oke, kita berusaha hutang dulu dan buat Bukit Delight ini,” jelas dia.

Dua orang pemilik Kafe Bukit Delight yakni Oktavinus Benny (kiri) dan Febry Pradhana. Febry ialah konseptor serta arsitek kafe tersebut (foto: Istimewa)

Usai menemukan lokasi yang pas. Break memutar otak. Sarjana seni Universitas Negeri Malang (UM) itu mendesain sebuah kafe bernuansa alam lengkap dengan meja-meja taman dan lampu-lampu temaram bergelantungan di atas.

“Saya tempatkan meja-meja garden istilah yang saya pakai. Enggak semua baru kok. Saya banyak dapat barang bekas dari kafe-kafe di Kota Malang,” ungkap bapak satu anak itu.

Break mengakui diawal-awal buka, Bukit Delight lebih banyak ‘jual’ interior kafe bernuansa alam dibanding menu kuliner.

“Saya akui karena kami kan enggak ada latar pebisnis kuliner. Jadi waktu itu saya ingat kami baru jual menu burger dan nasi lah. Belum banyak seperti sekarang,” ujarnya.

Bulan Oktober 2016 lalu, baru dibuka Bukit Delight langsung mencuri perhatian. Break mengungkapkan semua itu berkat bantuan seorang kawan yang tak lain ialah fotografer spesialis makanan, Akbar Umara.

“Hari pertama sepi. Lalu ada Akbar bawa sekitar enam belas teman dia anak sosial media. Hari kedua langsung ramai kayak stadion,” aku Break.

Ia mengakui banyak pengunjung kesengsem dengan interior yang disuguhkan di Bukit Delight terutama penataan meja-meja taman berhias lampu dan bendera. Apalagi bila malam tiba, pancaran lampu berhias langit malam Kota Malang menambah syahdu suasana di Bukit Delight.

Baca Juga : Ada Dua Warung Masakan Babi di Kota Malang yang Rasanya Mirip dengan Masakan Babi di Thailand, Penasaran?

Soal interior, Break mengklaim konsep kafe taman terbuka yang ia usung merupakan yang pertama di Kota Malang.

“Soal interior memang yang jadi fokus kami. Tapi, beberapa bulan belakangan kita mulai nambah beberapa menu makanan karena banyak saran dari pengunjung juga supaya menunya enggak itu-itu saja,” imbuhnya.

Menu kuliner anyar yang ditawarkan di Bukit Delight ialah noodle super pedas. Meski sering disebut meniru produk mie pedas sejenis, tetapi Break mengungkapkan bahwa kualitas mie yang mereka jual beda. Oleh sebab itu, harga yang ditawarkan juga bersaing sebab paling mahal menu kuliner di Bukit Delight ditawarkan dengan harga Rp 25 ribu.

Disinggung soal persaingan kafe di kawasan Jalan Joyo Agung, Break memilih fokus memperbaiki layanan.

“Kalau kami terus saya perbaiki apa yang ada. Khususnya layanan. Kalau dulu tenaga masih sepuluh, sekarang sudah dua kali lipatnya,” ungkapnya.

Tak saja perbaiki layanan, rupanya Break akan membuka lahan baru. Ditanya apakah masih menggusung konsep interior yang sama dengan apa yang sudah ia lakukan, pria asli Malang itu menolak berkomentar. “Rahasia, lihat nanti saja seperti apa lahan baru Bukit Delight,” tandasnya. (*)

Topik
Kafe Bukit Delightkafe malangkafe pinggiran malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru