Istimewanya Peringatan Hari Batik Nasional di Kota Malang (3-Habis)

Industri Batik Malangan Bersaing dengan Produk Malaysia

Oct 03, 2017 19:20
Kepala Dinkop UMKM Kota Malang Tri Widyani Pangestuti saat ditemui di sela peringatan Hari Batik Nasional. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Kepala Dinkop UMKM Kota Malang Tri Widyani Pangestuti saat ditemui di sela peringatan Hari Batik Nasional. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Peringatan Hari Batik Nasional yang digelar secara meriah di Balaikota Malang kemarin (2/9/2017) tentunya tidak lepas dari pengembangan industri batik lokal. Meski belum menjadi produk unggulan daerah, Kota Malang juga memiliki perajin batik-batik khas Malangan. 

Baca Juga : Tiga Tenaga Kesehatan Positif Covid-19 di Kota Malang Sembuh

Dinas Perindustrian Kota Malang mendata ada 28 perajin batik yang eksis. Perajin-perajin itu tergabung dalam delapan sentra, yakni Brian Java, KUB Batik Tlogomas, Batik Blimbing, Bhre Tumapel, Tansah Binerkahan, Batik Celaket, Batik Mboring, serta Batik Antik.

"Sebenarnya ada 30 perajin, tetapi yang dua tahun ini tidak aktif,"  ujar Kepala Dinas Perindustrian Kota Malang Subkhan. 

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Malang Tri Widyani Pangestuti menambahkan, selama ini produk batik belum berkembang maksimal.

Namun, pihak Pemkot Malanng terus berupaya mendukung tumbuh kembang produksi yang ada, mulai skala kecil hingga menengah.

"Kami rutin melakukan pelatihan pengembangan produk, termasuk berkolaborasi dengan para desainer lokal yang menasional untuk mengkreasikan batik-batik Malangan," ujar Yani, sapaan akrabnya.

Selain itu, produk batik juga tidak absen dalam gelaran-gelaran pameran yang diikuti Pemkot Malang. Baik di tingkat nasional maupun internasional. Para perajin juga diajak untuk tidak berkutat di pasar offline, melainkan juga memasarkan secara online.

Termasuk juga menggunakan batik lokal untuk kegiatan-kegiatan nasional yang diselenggarakan pemkot.

Baca Juga : Tanggap Covid-19, Fraksi PKS DPRD Kota Malang Bagikan Ratusan APD ke Petugas Medis

"Misalnya saat Rakernas Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonsesia (Apeksi) lalu, seragam seluruh tamu dan panitia kami gunakan batik Malangan," terangnya.

Terpisah, Direktur Utama Small and Medium Enterprises and Cooperatives (Smesco) Indonesia Emilia Suhaimi mengungkapkan bahwa posisi batik sebenarnya memberikan kontribusi tertinggi untuk industri di bidang fashion.

"Karena anak muda sejak 2009 mulai mengenal batik karena mulai disentuh para desainer. Anak muda ini kan pembaharu, pendobrak, mereka kalau diberikan senntuhan kekinian, mereka nggak malu lagi pakai batik," ujar Emilia.

Untuk diketahhui Smesco Indonesia merupakan unit di Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi dan UKM (LLP-KUKM) Kementerian Koperasi dan UKM RI.

Meski demikian, Emilia menekankan bahwa semua elemen pemerintah baik pusat maupun daerah harus benar-benar mendukung pengembangan batik.

"Kalau tidak dibina, maka akan terllidas oleh batik luar yang notabene lebih murah. Saiingan batik Indonesia itu produk batik Malaysia, meski secara kualitas produk kita lebih baik," tegasnya. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
Industri Batik Malanganhari batik nasional

Berita Lainnya

Berita

Terbaru