Horor HIV/AIDS di Kota Malang (1)

Penderitanya Tentara-Polisi hingga Pelajar, Tertinggi Kedua di Jawa Timur

Oct 03, 2017 11:21
Ilustrasi.(Foto : google images)
Ilustrasi.(Foto : google images)

MALANGTIMES - Jika dulu stigma penderita HIV/Aids adalah orang-orang yang doyan 'jajan' alias pengguna jasa penjaja seks komersial, kini tidak lagi. Horor penyakit yang menyerang imunitas tubuh itu telah menyebar di semua lini masyarakat.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, hampir tidak ada profesi yang steril. Dari total 3.858 penderita yang terdata sejak 2005 hingga pertengahan 2017 di Kota Malang, terdapat 3.421 orang yang terkategori berdasarkan pekerjaannya. Yang umum seperti ibu rumah tangga, karyawan swasta, wiraswasta.

Tapi yang barangkali jarang diungkap atau tak terduga, penderita juga ada dari anggota TNI/Polri, siswa/mahasiswa, pegawai negeri sipil hingga dosen dan guru. Bahkan jumlahnya lebih besar daripada yang terdata sebagai pekerja seks komersial. Selain itu, ada profesi-profesi lain yang terjangkit seperti buruh kasar, petani, tukang becak, dan pekerja serabutan.

Tingginya angka penderita HIV/AIDS yang terdeteksi itu menempatkan Kota Malang menjadi nomor dua tertinggi di Jawa Timur. Jumlah kasusnya berada setingkat di bawah Surabaya. Ini menjadi kontradiktif dengan penghargaan-penghargaan kota sehat yang selama ini disematkan kepada Kota Malang.


Dinkes Kota Malang mencatat adanya pergerakan yang fluktuatif dalam temuan kasus baru penderita HIV/AIDS tiap tahunnya. Grafik tidak menunjukkan satu pola, naik atau menurun. Jika dilihat pada 2005 silam, jumlah penderita terdata hanya 20 orang. Angka itu naik tajam tahun berikutnya menjadi 184 orang. Grafik terus naik hingga pada 2014 mencapai 466 orang. 

Dua tahun lalu, atau pada 2015, jumlah temuan baru menurun hingga angka 304 orang. Tapi grafik kembali naik karena tahun lalu tercatat ada 316 penderita. Sementara hingga Juni atau semester pertama 2017 ini, angkanya mencapai 219 orang atau 69,3 persen dari jumlah tahun lalu. 

Bukan hanya dari sisi profesi. Tampaknya juga tidak ada wilayah yang bebas HIV/AIDS. Sebab, terdata ada penderita di masing-masing kawasan dari 57 kelurahan di Kota Malang. Jumlah temuannya mencapai puluhan. di antaranya di Kelurahan Purwantoro, Sukun, Lowokwaru, Jodipan, Sawojajar, dan lain-lain. Sementara di Kelurahan Tlogowaru, Tunggulwulung, Bakalan Krajan, dan Arjowinangun jumlahnya lebih sedikit dengan masing-masing hanya satu kasus yang terdata. 

Kepala Dinkes Kota Malang dr Asih Tri Rachmi Nuswantari mengakui bahwa kondisi ini merupakan sinyal bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Malang musti menyalakan alarm tanda bahaya. "HIV seperti gunung es. Kami baru tahu yang muncul di permukaan. Jadi, ketika setiap tahun meningkat, bukan berarti jumlahnya meningkat, tapi yang ditemukan dan ditolong lebih banyak," ujar Asih.

Asih mengungkapkan, pertumbuhan kota yang makin mengarah ke kota urban dan metropolitan menjadi salah satu pemicu meningkatnya kasus. "Karena kita daerah yang semua bisa masuk ke sini. Ada mahasiswa, pekerja dan pariwisata yang jadi pintu terbuka di Kota Malang," ungkap alumni Universitas Brawijaya (UB) itu.

Meski memiliki angka yang cukup besar, Asih berharap masyarakat tidak berkecil hati. Pemerintah bersama sejumlah pihak akan berusaha mengatasi hal ini. Dalam hal ini mengupayakan melibatkan masyarakat umum untuk mencegah penyakit tersebut, termasuk membantu meningkatkan kualitas hidup para pengidap. 

Asih menerangkan, Kota Malang memiliki Komisi Penanggulangan HIV/AIDS yang melibatkan 24 lembaga terkait. Di antaranya 11 organisasi perangkat daerah (OPD) seperti badan perencanaan, penelitian dan pengembangan (barenlitbang), dinas perberdayaan, perlindungan prempuan dan anak - pengendalian penduduk dan keluarga berencana (DP3A-P2KB), dinas pendidikan, dinas pemudadan olah raga, serta lainnya.

Juga didukung unsur masyarakat dari lima kecamatan, LSM, Badan Narkotika Nasional (BNN), Polres Malang Kota, Majelis Ulama Indoneisa (MUI), dan lain-lain. "Jad,i tidak bisa gerak sendiri. Semua elemen harus ikut andil sesuai tusi (tugas dan fungsi) masing-masing. Harapannya zero new infection, atau tidak ada lagi temuan kasus baru," btegas ibu tiga anak itu.

Menurut Asih, pemerintah selama ini telah menyiapkan obat antivirus yang telah tersedia di puskesmas Kota Malang. Warga dapat memperolehnya tanpa dipungut biaya seperti di Puskesmas Dinoyo dan Kendalsari. "Ada 27 pusat kesehatan yang menyediakan screening atau pemeriksaan awal serta pelayanan pengobatan. Gratis. Kami harap kesadaran masyarakat tinggi untuk datang," tuturnya. 

Mengenai penderita yang ternyata tidak didominasi profesi tertentu, Asih menegaskan bahwa semua orang berpotensi terjangkit. Selain itu, sebagian bisa jadi korban. Misalnya ibu rumah tangga, atau bayi yang dikandung. 

Namun, dia meminta masyarakat untuk tidak melakukan diskriminasi. Sebab, kemajuan teknologi membuktikan bahwa penderita aman untuk membaur dan berkegiatan seperti halnya orang biasa. "Jangan dikucilkan kalau tahu ada teman atau tetangga yang terjangkit. Jangan malah ditinggal. Bantu dia, laporkan ke puskesmas terdekat sehingga mendapat pengobatan yang layak," tegasnya. 

MalangTIMES berupaya menelusuri sisi-sisi lain kehidupan penderita HIV/Aids, terutama di kalangan yang citranya 'jauh' dari jangkauan penyakit itu. Pada tulisan selanjutnya akan dikuak mengenai penderita HIV/AIDS di kalangan penegak hukum dan penjaga masyarakat seperti TNI/Polri. Seperti apa? Ikuti kelanjutannya. (*)

Topik
Horor HIV/AIDSKota Malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru