Empat anak muda asal Malang Adeka Rahman (Deka), Suci Ulfani (Fani), Haryansyah Rizki (Rizki), dan Adi Qahudin (Adiq) saat berfoto di tengah perjalanan traveling mereka. (foto: Istimewa)
Empat anak muda asal Malang Adeka Rahman (Deka), Suci Ulfani (Fani), Haryansyah Rizki (Rizki), dan Adi Qahudin (Adiq) saat berfoto di tengah perjalanan traveling mereka. (foto: Istimewa)

MALANGTIMES - Empat anak muda asal Malang punya cara unik menjalin persahabatan. Dipertemukan saat keempatnya bekerja di sebuah hotel berbintang di Kota Malang, mereka memilih menikmati hari libur dengan bepergian ala backpacker. 

Sebulan sekali keempatnya pergi ke luar kota. Traveling ala backpacker bukan saja irit soal biaya. Padatnya pekerjaan buat waktu liburan mereka amat singkat. 

Bahkan hanya hitungan semalam mereka nekat menjelajahi Pulau Tabuhan, Bengkak, Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi. Seperti apa kisah seru keempat anak muda asal Malang itu? 

Suci Ulfani, Adeka Rahman, Adi Qahudin, dan Haryansyah Rizki. Empat anak muda itu baru saja melakukan perjalanan singkat ke Kabupaten Banyuwangi. 

"Kita Agustus kemarin ke Pulau Tabuhan. Enggak ada planing pulang kerja ngumpul langsung berangkat jam sepuluh malam dan nentuin kemananya pun waktu di perjalanan dan besok jam tujuh malam langsung balik lagi ke Malang," cerita Suci Ulfani atau yang akrab disapa Fani pada MALANGTIMES. 

Traveling mereka ke Pulau Tabuhan bukan saja amat singkat, Fani mengungkapkan mereka sempat ketinggalan bus dan harus berjalan cukup jauh. "Sedihnya sih hampir ditinggal kereta sama enggak dapat bus jadi jalan jauh banget," kenangnya. 

Fani satu-satunya wanita di aaaaaaaaaaaaaaaantara mereka berempat. Ia bertemu dengan tiga rekannya saat bekerja di Savana Hotel and Convention Malang. Karena memang penghobi traveling, mereka berempat akhirnya kompak berlibur bareng. 

Di tengah padatnya pekerjaan, setiap bulan mereka pasti pergi berlibur. Perjalanan liburan mereka pernah dihabiskan dalam sebulan. Mengunjungi beberapa tempat sekaligus yakni Gunung Bromo, Taman Safari Prigen Pasuruan, dan Wisata Bahari Lamongan. 

"Yang sebulan itu pernah minggu pertama kita ke Batu, minggu kedua naik Gunung Bromo, minggu ketiganya kita ke Taman Safari, trus terakhir ke Lamongan," cerita Fani.

Ia menjelaskan liburan mereka selama sebulan itu tidak bisa sesuai harapan. Keinginan liburan ke beberapa lokasi di luar Jawa Timur terpaksa batal lantaran jatah libur dari pihak hotel tempat mereka bekerja terbatas. 

Traveling ala backpacker yang dilakukan keempatnya sejak 2016 itu terbilang irit. Rata-rata biaya mereka tidak sampai Rp 2 juta. Itu pun jarak sudah cukup jauh.

"Untuk per orang Kalo tempat deket sih sekitar Rp 100 sampai Rp 200 ribu saja. Tapi kalau misal keluar kota yang jauh estimasi tiga atau empat hari sih ya sekitar Rp 1 sampai Rp 2 juta per orang," jelas dia. 

Bisa mengirit biaya, kata Fani, lantaran salah satu dari mereka kerap update promo tiket. "Temen kami yang namanya Deka itu yang jadi nahkodanya. Dia paling sering update promo dan lebih sering kami dapetnya dadakan juga sih ada tiket tentuin waktu yang semua bisa langsung beli deh," imbuhnya. 

Karena sering traveling itulah persahabatan keempatnya kian rekat. Meski Fani mengungkapkan tak jarang sewaktu berlibur itu mereka bertengkar. Meski begitu sejak persahabatan mereka terjalin hingga kini sudah beberapa daerah mereka jelajahi bersama. 

'Kalau di luar kota kita udah ke Lamongan, Probolinggo, Banyuwangi, Jogjakarta, Lombok, dan bulan depan kami ke Bali," tandasnya. (*)