Mogok Lagi, Angkot Mulai Kehilangan Simpati Warga (11)

Enggan Tinggalkan Kebiasaan Ngetem, Saling Bersaing Antarsopir Satu Jurusan

Sep 26, 2017 20:04
Suasana aksi mogok massal yang dilakukan sopir angkot di depan Balaikota Malang, siang ini. (Foto: Hezza Sukmasita/MalangTIMES)
Suasana aksi mogok massal yang dilakukan sopir angkot di depan Balaikota Malang, siang ini. (Foto: Hezza Sukmasita/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Pelayanan angkutan kota (angkot) yang dinilai kurang maksimal menjadi sorotan banyak warga Kota Malang. Namun, tampaknya sebagian sopir enggan berbenah untuk memberikan pelayanan yang lebih baik.

Sebelumnya, MalangTIMES menjaring kriteria angkot ideal di mata masyarakat. Hasilnya, moda transportasi dengan tarif resmi Rp 3.500 itu musti mengubah banyak aspek. Seperti tidak lagi ngetem alias berhenti menunggu penumpang dengan waktu lama, tidak kebut-kebutan sekaligus tidak berjalan di bawah kecepatan normal, memiliki jadwal keberangkatan yang pasti, tidak menaikkan tarif seenaknya, sopir lebih sopan dan rapi, hingga tidak mengoper penumpang sebelum sampai di lokasi. 

Menanggapi hal itu, sejumlah sopir mengaku keberatan memenuhi harapan masyarakat. Mereka bersikeras tetap seperti kondisi saat ini. Hendra, bukan nama sebenarnya, salah satu sopir angkot jalur ADL yang ditemui MalangTIMES di depan Stasiun Kotabaru mengaku persaingan antar-sopir yang menyebabkan mereka sering ngetem.

Baca Juga : Dewan Nilai Dirut PDAM Tak Penuhi Kompetensi, Usul Konkret Dicopot

"Kalau nggak ngetem nggak dapat penumpang. Kalau nggak gitu  ya musti kejar-kejaran sama angkot lain, jadinya ngebut," ujarnya.
Pria yang selama tujuh tahun terakhir menjadi sopir itu mengaku, kepastian jadwal keberangkatan sebenarnya bisa dilakukan jika jumlah angkot ideal. Masalahnya, banyak jalur angkot yang 'gemuk' alias memiliki jumlah armada banyak.

"Kalau yang angkotnya sedikit seperti AT misalnya, bisa dijadwal. Kalau ADL ini ada 125 angkot, AMG ada 280, AG ada 315, lalu GA sekitar 200. Kami semua saingan setiap hari rebutan penumpang yang sedikit," paparnya.
Komentar senada disampaikan Wahyudi, bukan nama sebenarnya, sopir angkot jalur AMG. Jalur tersebut beberapa kali disorot masyarakat di media sosial akibat terdapat oknum-oknum yang kerap menaikkan tarif melebihi ketentuan.

"Nggak cuma AMG, ada juga jalur-jalur lain yang naikkan harga, cuma tidak disorot. Untuk oknum AMG sebenarnya sudah ditindak oleh paguyuban. Itu yang merusak citra angkot, padahal nggak semua seperti itu," ujar Wahyudi. 
"Kalau mau dibilang menaikkan, semua sopir gitu. Kan selama ini tarif resmi Rp 3.500 tapi teman-teman narik ke penumpang yaa Rp 4 ribu," terangnya.

Baca Juga : Pipa Terus Bocor, Wali Kota Malang Sutiaji Beri Komentar Ini

Untuk kenaikan itu, menurut Wahyudi para penumpang tidak mengeluh. Hal itu dilakukan untuk mengejar setoran yang harus diserahkan setiap hari pada pemilik angkot. "Beda-beda tiap jalur, mulai Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu per hari. Sekarang cari penumpang susah, ngejar segitu sulit," ungkapnya. 
Mengenai tuntutan berubah, Wahyudi mengaku tidak bisa jika harus menggunakan jadwal dan tidak ngetem. Tapi jika soal penampilan, pria tersebut mengaku bisa menyanggupi. "Penumpang kan datang satu-satu, kalau nggak ditunggu (ngetem) ya nggak bisa. Misalnya di stasiun ini, kami nunggu penumpang turun dari kereta," ujarnya. 

Topik
angkot mogokDemo Angkottransportasi onlineKota Malangtransportasi online

Berita Lainnya

Berita

Terbaru