Mogok Lagi, Angkot Mulai Kehilangan Simpati Warga (9)

Paling Jengkel kalau Angkot Ngetem Lama dan Oper Penumpang

Sep 26, 2017 17:24
ara penumpang telantar diangkut bus sekolah menuju titik-titik tertentu, misalnya Stasiun Kotabaru. (Foto: Nurlayla Ratri)
ara penumpang telantar diangkut bus sekolah menuju titik-titik tertentu, misalnya Stasiun Kotabaru. (Foto: Nurlayla Ratri)

MALANGTIMES - Sejak pelarangan operasional bemo pada 1997, angkutan kota (angkot) menjadi 'penguasa' moda transportasi umum di Kota Malang. Sayangnya, 20 tahun berselang hingga 2017 ini, banyak warga yang melihat tidak ada perubahan dan perbaikan pelayanan oleh angkot.
Meski berbagai aplikasi transportasi masuk, keberadaan angkot dinilai cukup vital bagi penggunanya. Aksi mogok masal yang dilakukan ribuan sopir siang ini (26/9/2017) membuat pelanggan angkot kerepotan. Dampak negatif demo itu, angkot justru makin kehilangan simpati warga. 

MalangTIMES berupaya menghimpun harapan masyarakat soal gambaran angkot ideal bagi mereka. Sebagian mengaku masih akan bertahan menjadi penumpang jika ada perbaikan layanan. Jika layanan tetap saja buruk, moda transportasi pribadi dan online dipertimbangkan untuk jadi pengganti.
Seperti yang disampaikan Nurul Aini, warga Jalan Cemorokandang. Nurul mengaku sudah menjadi pelanggan angkot sejak bersekolah SMA. "Saya naik angkot sejak tarif untuk pelajar itu Rp 700 rupiah. Meski kerja, saya juga masih naik. Tapi memang ya layanannya seperti itu saja," ungkap Nurul. 

Perempuan 28 tahun itu mengaku paling kesal saat angkot 'ngetem' atau berhenti lama untuk menunggu penumpang. Juga saat angkot sengaja berjalan dengan kecepatan rendah alias pelan-pelan sembari membuat jarak yang relatif jauh dengan angkot lain. "Kan penumpang inginnya cepat sampai. Kalau langsung jalan, ya nggak masalah meski lebih lama sampai daripada ojek online. Tapi kalau sudah ngetem, jalan pelan-pelan banget, janji bisa batal," ujarnya. 
 

Jevian Ayu beserta temannya tengah menunggu relawan untuk diantar ke Terminal Arjosari. (Foto: Nurlayla Ratri)Jevian Ayu beserta temannya tengah menunggu relawan untuk diantar ke Terminal Arjosari. (Foto: Nurlayla Ratri)


Nurul mengakui awal tahun sudah mulai beralih ke moda transportasi online. Dia hanya menggunakan angkot jika sedang tidak terburu waktu. "Jadi, kalau masalah ngetem ini dihilangkan, tepat waktu dan jalan cepat sewajarnya, pasti banyak yang mau naik. Apalagi kalau pemerintah mau kasih subsidi biar tarifnya lebih murah," ucap ibu satu anak itu saat akan naik kendaraan satpol PP di area Stasiun Kotabaru. 

Ditemui di lokasi yang sama, Jefian Ayu mengaku menjadi penumpang angkot sejak SMP. Aremanita yang tinggal di Jalan Teluk Etna itu menyesalkan tindakan mogok masal yang kerap dilakukan sopir angkot. "Ini baru dari daerah Tlogomas. Mau ke Surabaya tapi angkotnya nggak jalan. Untung ada relawan," kata Jevi. 

Belasan tahun menjadi pelanggan angkot, Jevi mengaku paling tidak suka saat harus dioper dari angkot satu ke angkot yang lain akibat sepi penumpang. "Yang bikin males ini kan kalau yang arah Arjosari, sering dioper. Sudah gitu, disuruh bayar dua kali," keluh karyawan swasta itu.

"Nggak ada angkot itu juga susah. Tapi kalau nggak bisa diandalkan, ya lama-lama ditinggal. Kalau bisa pemerintah bisa membuat aturan untuk angkot biar tertib," harapnya. Peraturan yang dimaksud, contohnya jarak keberangkatan antar angkot, lama perjalanan terukur dari satu titik pemberangkatan ke titik yang lain, tidak boleh mengoper penumpang seenaknya. 

Jevi juga mengaku sering tidak simpati pada tampilan sopir yang sering terlihat seadanya, bahkan kumuh dan bau. Beberapa oknum sopir juga merokok saat angkot jalan serta dinilai kurang santun. Ada juga yang menarik tarif di luar batas kewajaran. "Saya pernah itu disuruh bayar Rp 10 ribu dari rumah ke Jalan Panglima Sudirman. Kalau bisa nggak usah demo-demo lagi, seperti di Surabaya itu ada angkot ada online. Semuanya jalan cari rezeki," ucap dia. 

Seperti diberiitakan sebelumnya, ratusan angkutan kota (angkot) benar-benar kembali melancarkan aksi mogok masal siang ini (26/9/2017). Selama kurang lebih empat jam mulai pukul 08.00 hingga 12.00 para sopir angkot melakukan unjuk rasa di depan Balai Kota Malang. 

Demonstrasi tersebut merupakan kali ketiga para sopir menolak kehadiran transportasi berbasis aplikasi alias transportasi online. Aksi mogok sebelumnya dilakukan Maret 2017 lalu. Ketika itu, banyak penumpang yang 'telantar' karena sehari-hari menggunakan moda transportasi berwarna biru itu. (*)

Topik
angkot mogokDemo Angkottransportasi onlineKota Malangtransportasi online

Berita Lainnya

Berita

Terbaru