Mogok Lagi, Angkot Mulai Kehilangan Simpati Warga (4)

Warga Malang Telah Beralih ke Transportasi Online. Ini Alasannya

Sep 25, 2017 16:39
Ilustrasi foto pengguna jasa transportasi berbasis online, Go-Jek (foto: Wahida Rahmania Arifah/MalangTIMES)
Ilustrasi foto pengguna jasa transportasi berbasis online, Go-Jek (foto: Wahida Rahmania Arifah/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Pertengahan tahun 2016, wajah transportasi umum di Kota Malang mulai berubah. Sejak tahun lalu, di jalanan Kota Malang berseliweran pengendara motor mengenakan jaket hijau bertuliskan Go-Jek. 

Ya, Malang berubah seperti halnya kota-kota lain di Indonesia bahkan dunia. Sudah ada layanan transportasi berbasis aplikasi online. Usai Go-Jek, dua aplikasi onlinelain yakni Grab dan Uber mulai singgah di Kota Pendidikan ini. 

Baca Juga : Pemuda Muhammadiyah dan GP Ansor Kota Malang Sepakat Tempat Hiburan Malam Ditertibkan

Tiga aplikasi online itu sudah barang tentu familiar bagi Anda. Tetapi, Malang juga punya aplikasi transportasi berbasis fasilitas chat LINE.

Jauh sebelum Go-Jek menapaki jalanan Kota Malang, setidaknya ada layanan transportasi online berbasis LINE yakni Kuy-Jek, AyoJek, dan Ojek Baper. Tiga aplikasi itu dicetuskan oleh mahasiswa Malang.

Aplikasi transportasi online menjadi pilihan warga Malang meski angkutan umum (angkot) menolak kehadiran transportasi online hingga melakukan aksi demo dan mogok massal.

Seorang warga Malang mengaku kepada MALANGTIMES ia malah tidak simpatik dengan aksi sopir angkot.

Ia adalah arek Malang asli bernama Dinu Imansyah. Lahir dan besar di Malang, ia tak simpatik mendengar kabar adanya aksi mogok massal sopir angkot pada Selasa (26/9/2017) esok. 

"Alasannya lagi-lagi karena mau boikot transportasi online? Mau berharap simpati dari masyarakat yang seperti apa? Bagiku mereka tidak ingin memahami perubahan zaman, tidak mau memahami bahwa kebutuhan orang makin berkembang dan berubah," komentar Dinu saat ditemui MALANGTIMES, Senin (25/9/2017).

Dinu mengaku sejak adanya layanan Go-Jek di Malang, ia lebih memilih menekan aplikasi tersebut ketimbang harus menunggu angkot lewat di pinggir jalan.

"Praktis dan efisien, dan menurutku dibanding lainnya Gojek armadanya lebih banyak, fasilitasnya juga lebih beragam," kata Dinu. 

Usia Dinu baru menginjak 30 tahun. Warga Malang yang berusia lebih matang adalah Assaratul. Wanita itu memasuki usia 55 tahun dan sehari-hari memilih transportasi online baik Go-Jek maupun Grab. Apalagi sejak 2017 ini ada layanan Grab-Bike di Malang, ia makin memilih transportasi online

"Ya praktis dan enak saja. Kenapa harus repot naik angkot kalau bisa pesen Go-Jek. Sekarang saya pakai Grab yang motor itu juga," katanya pada media online ini. 

Baca Juga : Soroti Tagihan Cekik Pelanggan, Bupati LIRA : PDAM Jangan hanya Mau Uangnya Saja

Rencana demonstrasi sopir angkot pada Selasa esok, juga sangat disayangkan olehnya. Menurutnya, tidak ada gunanya sebab zaman sudah berubah. Wanita yang mengajar di sebuah perguruan tinggi itu menilai sopir angkot tidak legowo. 

Dinu dan Assaratul adalah gambar warga Malang Raya berusia dewasa yang lebih memilih transportasi online. Di usia masih sangat muda, dua orang siswa SD di Malang malah menjadi pelanggan setia Go-Jek. 

Kami pernah mengulas pengalaman dua siswa SDN Kauman 1 Malang yakni Tyo dan Meha yang setiap hari berlangganan Go-Jek pada tulisan berjudul 'Siswa SD di Malang Setiap Hari Pakai Jasa Go-Jek dan Grab'. 

Tyo dan Meha adalah potret generasi muda Malang masa kini. Bahkan mereka terbilang belia lantaran masih duduk di bangku SD. Dari pendapat mereka, kedua bocah itu merasakan bahwa transportasi online lebih baik lantaran aman, mudah, dan praktis. 

Meha bahkan lebih kritis. Di usianya yang  belum beranjak 12 tahun, ia berpendapat  sudah saatnya orang melek teknologi. Ia berkali-kali menggelengkan kepala saat ditanya mengapa tidak memilih naik ojek atau naik taksi konvensional. "Tidak aman, tidak. Sudah ada aplikasi transportasi online kenapa tidak dipakai," ujarnya. 

Lagi-lagi, soal transportasi online masyarakat kita masih pro dan kontra. Tidak semua orang, terutama bukan generasi milenial, memahami bahwa zaman sudah berubah. Orang tidak lagi mencari ojek di pangkalan. Atau menunggu di pinggir jalan lantas berteriak, "taksi."

Lantas, masihkah angkutan umum di Kota Malang ngotot dengan sikap mereka menolak transportasi online dan melakukan aksi mogok massal lagi?

Bagaimana tanggapan pakar transportasi terhadap konflik angkutan umum dan moda transportasi online? Simak pada bagian selanjutnya. (*)

Topik
demo angkot di malang 2017angkot mogoktransportasi onlineKota Malangtransportasi online

Berita Lainnya

Berita

Terbaru