Tetap Buka Koalisi, Golkar Ngebet Sandingkan Sofyan Edy dengan Abah Anton

Sep 14, 2017 19:19
Ketua DPD Partai Golkar Kota Malang Sofyan Edy Jarwoko dalam salah satu kegiatan internal partai. (Foto: Dok/MalangTIMES)
Ketua DPD Partai Golkar Kota Malang Sofyan Edy Jarwoko dalam salah satu kegiatan internal partai. (Foto: Dok/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Berbeda dengan partai politik lain dalam menyambut Pilkada 2018 Kota Malang, Partai Golongan Karya (Golkar) tidak melakukan penjaringan terbuka.

Pilihan tersebut dilakukan karena partai berlambang beringin itu sudah memiliki nama bakal calon wali kota (bacawali) dan bakal calon wakil wali kota (bacawawali) yang bakal dijagokan.

Partai tersebut mengusung Ketua DPD Partai Golkar Kota Malang Sofyan Edy Jarwoko pada Pilwali 2018 mendatang. Sofyan Edy digadang-gadang dapat bersanding dengan petahana, yakni Wali Kota Malang Moch Anton alias Abah Anton. 

Bahkan dalam beberapa kegiatan internal partai, gambar Sofyan Edy itu sudah disandingkan Moch Anton.

Meski demikian, Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Cendekiawan DPD Golkar Kota Malang Nurmala mengungkapkan bahwa rekomendasi resmi terkait majunya Sofyan Edy ke panggung Pilkada belum turun. 

"Rekomendasi belum turun, tetapi wacana itu (mengusung Sofyan Edy) sudah mencuat dari seluruh kader internal.  Sejak awal para kader sudah banyak menyuarakan agar Bung Edy kembali maju," ujar Nurmala. Seperti diketahui, pada 2013 lalu Sofyan Edy sempat mencalonkan diri sebagai calon wakil wali kota malang.

Saat itu, dia berpasangan dengan Heri Pudji Utami. Kesepakatan internal tersebut yang menjadi landasan Golkar tidak membuka penjaringan terbuka.

Golkar pun mengaku enggan ikut-ikut melakukan konvesi atau membuka pendaftaran bagi masyarakat yang ingin menjadi bakal calon.

"Jadi kesannya memang adem ayem karena kami tidak melakukan konvensi. Bung Edy adalah kader terbaik, kami sepakat mengusung beliau," tegasnya.

Terkait gambar Edy yang disandingkan dengan Anton, dia menjelaskan, beberapa waktu lalu memang sempat mengemuka wacana Edy didorong mengisi persaingan kursi N2.

Edy diharapkan bisa mendampingi Anton yang berupaya mempertahankan kursi N1. Namun, seiring berjalannya waktu, spekulasi itu goyah.

"Partai Golkar saat itu jadi yang pertama berkomunikasi dengan PKB. Tetapi yang terjadi akhir-akhir ini, peta politik berubah," ujarnya.

Sementara itu, Edy tidak menampik dirinya sempat didorong mendampingi Anton. Namun kedatangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Kota Malang beberapa waktu lalu menurutnya membuat peta politik berubah. Sehingga keputusan mendampingi petahana di pertimbangkan ulang.

"Sempat didorong (mendampingin Anton), tapi ada KPK ke Malang, ada perubahan konstelasi politik. Kami perlu meminta pertimbangan kader dan masyarakat," ujarnya.

Edy mengakui bahwa dengan kekuatan Golkar saat ini tidak memungkinkan mengusung calon sendiri. Sebab jumlah kursi yang diperoleh pada pemilu legislatif 2013 lalu memberi Golkar lima kursi saja.

Artinya masih dibutuhkan koalisi dengan partai lain agar bisa mengusung bakal calon, sebab dibutuhkan minimal sembilan kursi. "Hingga saat ini kami menjalin komunikasi dengan partai lain, namun belum sampai tahap koalisi," pungkasnya.

Topik
KoalisiPartai Golkar Kota MalangSofyan Edypilkada 2018 kota malang
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru