Yosi Al Muzanni, seorang ustadz pendiri KLIK (Klinik Nikah) dan juga penulis buku Nikaphobia (foto: Wahida Rahmania Arifah/MalangTIMES)
Yosi Al Muzanni, seorang ustadz pendiri KLIK (Klinik Nikah) dan juga penulis buku Nikaphobia (foto: Wahida Rahmania Arifah/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Sosoknya humoris. Selama ceramah, tak jarang ia melontarkan joke-joke segar menghibur. Mengisi kajian di depan mahasiswa di Masjid Ramadhan Perum Griya Shanta Kota Malang, penampilan sang ustadz terbilang trendi.

Jika biasanya ustadz berpeci, ustadz satu ini memilih kenakan topi. Ia pun seringkali mengenakan celana jins dan atasan baju koko. Dialah Ustadz Yosi Al Muzanni. 

Nama Yosi Al Muzanni cukup dikenal. Sebab selain mengisi kajian Islami, Yosi juga menulis buku berjudul Nikaphobia. Buku yang diterbitkan oleh Javakarsa Media itu berisi nasehat Yosi tentang pernikahan. Menikah, kata Yosi, haruslah diperjuangkan. 

Soal itu pula, Yosi tak segan menjadi mediator bagi anak muda yang memang serius ingin menikah. Mak Comblang, begitu istilah anak muda sekarang. Lewat jalan yang disyariatkan agama Islam, Yosi berhasil menjadi jalan banyak insan muda di Malang menikah. 

"Awalnya saya ditunjuk sebagai imam sholat di Masjid Ramadhan ini. Nah, sekitar tiga tahun lalu tujuh anak muda saya bantu proses mereka menikah. Dari situ akhirnya lahir ide Klinik Nikah," cerita pria yang pernah mengenyam studi di Suez Canal University, Mesir itu. 

Diberi amanah sebagai imam Masjid Ramadhan Perum Griya Shanta Kota Malang, Yosi lantas mengumpulkan anak muda di lingkungan tersebut. "Saya kumpulkan anak-anak muda, kami mulai gerakkan remaja masjid. Dan bagaimana kalau kita bikin edukasi pernikahan," imbuh bapak tiga anak itu. 

Sekitar bulan Februari tiga tahun lalu, Yosi mulai membuat program Klinik Nikah yang disingkat menjadi KLIK. "Awalnya kita masih sederhana saja. Lalu mulai akhirnya pelan-pelan membuat website Klinik Nikah," kata Yosi.

Klinik Nikah memasuki angkatan ke sembilan. Dalam satu tahun, program edukasi pernikahan itu dilakukan selama tiga bulan sekali dengan jeda satu bulan tiap angkatannya. Melalui program KLIK ini pulalah Yosi menularkan semangat untuk segera menikah pada generasi muda Malang.

"Dan bukan hanya di Malang lho, ada alumni KLIK Malang yang buat program serupa di Medan. Dan juga menular di kota-kota lain pokoknya total sekarang ada tiga belas kota," ujar pria yang pernah menjadi santri di sebuah Ponpes di Solo itu. 

Ditanya suka dan duka selama mengkomando program edukasi pernikahan, Yosi menjawab dengan santai. "Asik asik aja, ya kami sekarang bukan hanya nyomblangin aja tapi memberikan ilmu pranikah bagaimana dan menikah nanti juga bagaimana," ungkapnya. 

Di awal perjalanan KLIK, Yosi sempat khawatir. Sebagai manusia biasa, tentu ia sedikit ragu bila gagal menjadi fasilitator bagi anak muda untuk melangkah ke gerbang pernikahan. 

"Awal saya deg degan, takut dibilang gagal. Untung waktu itu, sudah ada puluhan orang yang berhasil menikah. Kalau sekarang alhamdulillah sudah ratusan," katanya.

Yosi menekankan benar bahwa apa yang ia upayakan lewat klinik nikah merupakan bagian perjuangan menjemput jodoh dengan cara yang diridhoi Allah SWT. "Bukan karena Yosi, bukan karena KLIK, tapi karena Allah." (*)