Kota Malang Kehilangan Tokoh Karismatik, Gus Lukman (2)

Mengenang Gus Lukman, Tirakat Dua Tahun Dirikan Bahrul Maghfiroh

Sep 08, 2017 09:25
foto istimewah
foto istimewah

MALANGTIMES - Nama Gus Lukman Karim bin Abdullah Fattah tidak bisa lepas dari keberadaan pondok pesantren (ponpes) Bahrul Maghfiroh. Kepulangan Gus Lukman ke haribaan Yang Maha Kuasa meninggalkan duka mendalam bagi para santri dan umat Islam Malang Raya pada umumnya.

Baca Juga : Tiga Tenaga Kesehatan Positif Covid-19 di Kota Malang Sembuh

Berasal dari Betek, Kelurahan Penanggungan, Gus Lukman lahir pada 21 Mei 1964. Dikutip dari laman website Ponpes Bahrul Maghhfiroh, Beliau merupakan putra dari seorang Kiai yang mastur (tidak terkenal) KH. Abdullah Fattah bin Mbah Daim Jcitranegara.

Gus Lukman dikirim oleh ayahandanya, ke salah satu ponpes terkemuka di Jawa Timur. Yakni Pondok Pesantren Salafiyah Tebuireng, Jombang. Namun,Gus Lukman tidak hanya menimba ilmu di pondok yang didirikan KH Hasyim Asyaari itu saja. Beliau juga belajar merantau tabarukan (mencari berkah) ke pondok-pondok yang ada di Jawa dan Madura. 
Selepas menuntut ilmu, sejak 1995 dirintislah Ponpes Bahrul Maghfiroh. Sebelum diresmikan, pondok dengan arti nama lautan maaf tersebut ditirakati dengan berdoa dan terjaga sepanjang malam (melekan). Tak hanya sekali, tetapi rutin dilaksanakan oleh Gus Lukman dan kakaknya, Gus Khoiri, setiap malam Jumat kurang lebih selama dua tahun. Ponpes yang berlokasi di Jalan Joyo Agung Atas, Kelurahan Tlogomas tersebut akhirnya diresmikan pada 1997 silam. 
Ponpes tersebut sebelumnya berada di tengah area persawahan. Dengan lahan kurang lebih 500 meter persegi, sejak awal pondok itu menerapkan sistem balasi. Yakni pembelajaran yang tidak dipungut biaya sepeserpun.

"Dulu sebelum pesantren jadi seperti sekarang, pondok masih mempunyai tiga santri saja. Belum ada kegiatan pendidikan sama sekali karena masih baru, bahasa Jawanya babat alas," demikian yang tertulis dalam laman website tersebut. 
Santri-santri awal hanya diajari riyadho/tirakat di malam hari dengan melakukan ibadah Qiyamullail tiap malam. Khususnya pada hari Kamis malam Jumat. Kegiatan tersebut pun tetap dijalankan hingga saat ini. 
Dapat Suatu Perlambang
Pada suatu malam kira-kira tahun 1998 Pengasuh (Gus Lukman) masuk ke sebuah kamar yang berada di sebelah masjid di lingkungan ponpes. Setelah beribadah malam, sekitar pukul 03.00 dini hari menjelang Subuh, Gus Lukman tertidur.

Antara sadar dan tidak, dalam mimpinya itu diberi oleh Allah isyarat atau perlambang. Beliau melihat di dalam pondok ini ada sumber mata air yang besar sekali. 
Airnya bersih jernih kemudian banyak orang berduyun-duyun datang untuk meminumnya. Semakin banyak orang yang minum, semakin besar keluar air sumber tersebut. Akhirnya Beliau tau dan yakin bahwa Ponpes Baghrul Maghfiroh ini suatu saat akan didatangi dan dibutuhkan oleh banyak orang.

Baca Juga : Tanggap Covid-19, Fraksi PKS DPRD Kota Malang Bagikan Ratusan APD ke Petugas Medis

Dalam perkembangannya, pada 26 Juni 2015 lalu Ponpes Bahrul Mahgfiroh ditunjuk sebagai Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) pecandu narkotika oleh Kementerian Sosial (Kemensos). Pondok itu mendapatkan fasilitas pembangunan pusat rehabilitasi sosial korban penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya.
Saat itu, pengasuh pondok bersama jajaran pemerintahan melakukan teleconference bersama Presiden RI Joko Widodo didampingi Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa. Pada kesempatan tersebut, Gus Lukman menyampaikan bahwa sejak berdiri, pondok tersebut sudah merehabilitasi ratusan pengguna narkoba. 

 

Topik
Gus LukmanBahrul MaghfirohMeninggal Dunia

Berita Lainnya

Berita

Terbaru