Basiri dengan pupuk organik dari kotoran ayam yang diproduksinya bersama warga sekitar dengan omset Rp 4,8 Juta sehari. (Nana)
Basiri dengan pupuk organik dari kotoran ayam yang diproduksinya bersama warga sekitar dengan omset Rp 4,8 Juta sehari. (Nana)

MALANGTIMES - Kotoran ayam yang selama ini dihindari oleh banyak orang, ternyata di tangan petani Desa Kanigoro, Pagelaran ini bisa menjadi rupiah menggiurkan.

Betapa tidak, dari kotoran ayam yang tidak bernilai dan dianggap menjijikan bagi banyak orang ini, bagi Basiri adalah bagian dari pundi-pundi pendapatannya sejak tahun 2007.

Baca Juga : Hama Tikus Bikin Petani Gagal Panen, Hampir 100 Ha Sawah Rusak karena Ulahnya

Dari kotoran ayam inilah Basiri yang beralamat di jalan Kyai Mojo, Kanigoro, Pagelaran ini bisa meraup penghasilan Rp 4,8 Juta setiap harinya.

Tentunya Basiri tidak menjual kotoran ayam secara langsung, tapi mengolahnya menjadi sesuatu yang berguna bagi dunia pertanian, yaitu pupuk organik.

"Kotoran ayam ini bahan utama pembuatan pupuk organik saya selama bertahun-tahun. Dan alhamdulillah dari kotoran ayam inilah saya bisa juga memberdayakan warga,"kata Basiri, Senin (04/09).

Pemilihan kotoran ayam sebagai bahan utama pupuk organik, menurut Basiri dikarenakan unsur hara-nya tinggi dibandingkan dengan kotoran ternak lainnya. Unsur hara yang tinggi membuat proses fermentasi tidak membutuhkan waktu lama. Selain ketersedian kotoran ayam sangat mudah didapatkan dan berlimpah di berbagai peternakan ayam.

Pupuk organik dari kotoran ayam yang diolah oleh Basiri yang dibantu oleh 20 orang pekerja yang berasal dari desa Kanigoro sendiri, hasilnya telah diakui oleh beberapa pabrik pupuk, seperti di Desa Ganjaran, Gondanglegi yang menjadi langganan tetapnya.

Artinya, pupuk organik kotoran ayam yang diproduksi oleh Basiri dan warga setempat tergolong berkualitas baik, karena telah lulus dari prasyarat ketat pabrik yang membelinya.

"Tentunya melalui seleksi ketat kalau produk ingin masuk pabrik. Alhamdulillah pupuk kita bisa masuk dan kontinyu suplainya ke pabrik,"ujar Basiri.

Baca Juga : Deretan 15 Kabar Baik di Tengah Pandemi Covid-19 yang Melanda Dunia

Dia menambahkan dalam sehari dia bersama warga bisa memproduksi pupuk organik sebanyak 18 ton yang dikirimnya ke pabrik atau dua kali kirim. 

Omset sekali kirim ke pabrik sebanyak 9 ton sebesar Rp 2,4 Juta. Jadi untuk dua kali kirim Basiri bisa meraup sebesar Rp 8,4 Juta dalam sehari. Harga jual per kilogram (Kg) pupuk organik koyoran ayam ini adalah Rp 280.

Selain mendapatkan penghasilan yang cukup menggiurkan, Basiri juga telah mengaplikasikan proses pemberdayan masyarakat secara langsung dengan merangkul warga sekitar.

"Tujuannya memang ke sana. Kita bersama-sama berdiri dan maju dengan konsep saling membantu,"pungkas inovator hidroganik tumbuhan asal Kanigoro ini.