Puisi Pendek (15)

Sep 02, 2017 15:20
Ilustrasi puisi pendek (istimewa)
Ilustrasi puisi pendek (istimewa)

dd nana

Puisi yang Bersembunyi Pada Ruas-ruas Bambu di Belakang Rumahmu

Kasihku,

Mata kita telah lama dirabunkan waktu. Rambutmu yang gelombang samudera dulu, kini telah mulai di huni warna perak. Serupa aku. Serupa cinta yang dirajut dari serpih kulit kita. Yang kini kisut.

Masihkan ada sakit, kasihku. Masihkah bara yang selalu kita ruahkan di setiap ruang tanpa cahaya itu, nyala dan membakar setiap helai puisi di kulit kita.

Di sini, waktu mengejaku yang selalu alpa bahwa semua peristiwa akan bersua titik. Di sana, kasihku, apakah telah kau temukan ruang-ruang kosong tempat puisiku bermukim.

Ruang serupa koma yang dulu kau lukis di dada terbuka ini. 'Di sini, tepat di sini, kasihku, aku akan selalu membaca detak puisimu'.

Kasihku,

Entah kesadaran apakah yang membuatku ngilu. Dan aku takut, ruas-ruas bambu yang tumbuh di belakang rumahmu, tak lagi kau rawat. Dengan binar matamu yang luluhkan sepi nyeriku, dengan lentik jemarimu yang ampuh mengusir jenuhku sebagai lelaki.

Aku bermimpi, kasihku, ruas-ruas bambu di belakang rumahmu yang mengandung anak kita, telah lama dicuri waktu yang cemburu. Dan kau, kasihku, dalam ruang antara mimpi dan jagaku, mengirimkan bocah kecil dengan mata puisi.

'Jangan kau baca aku. Hadirku adalah hasratmu. Lihatlah garis telapak tanganku ini. Serupa puisi yang kau tanamkan di ruas bambu ibuku,'.

Ah, kasihku

Aku melihat sengkurat di telapak bocah yang kau kirim itu. Sebuah garis dengan ruang-ruang kosong. 'Iya, seperti inilah Ibuku. Perempuan yang kau nikahi dalam sunyi. Dalam ruang tak berpenghuni,'

Aku tergagu

Sebelum terbangun sempurna, pelatuk itu telah digerakkan jemariku sendiri. Aku melihat pendar berwarna, kasihku, tidak serupa rindu yang sering kita tumpahkan bersama di ruas-ruas kosong tak berpenghuni itu. Tidak serupa semu dadu di sepasang pipimu yang tak pernah jenuh aku telusuri. Bukan juga serupa lenguh kita yang berwarna semburat jingga.

Aku melihat pendar yang tak asing di tubuhku.

Pendar kematian ruas-ruas bambu yang aku tanami puisi-puisi untukmu.

Pendar yang berkata-kata, 'sudahlah lelaki, dia telah menjalani hidupnya dengan baik-baik saja. Tanpa puisi yang selalu kau sembunyikan di ruas-ruas bambu di belakang rumahnya,'.

Kasihku,

Tapi aku tetap mencintaimu. Sejak mata kita penuh dengan cahaya. Sejak rambut kita serupa alunan gelombang samudera. Sejak kita sama-sama memiliki mimpi yang sama. 

'Aku adalah Kau. Kau adalah Aku. Yang menyatu yang akan hidup dalam cinta,'. 

Topik
puisi pendekruangsastra

Berita Lainnya

Berita

Terbaru