Ritual Takbir Keliling Tak Pernah Padam di Desa- desa

Takbir keliling menyambut hari raya Idul Adha merupakan budaya dalam syiar Islam yang masih terus berjalan sampai saat ini, seperti di Gondanglegi. (Nana)
Takbir keliling menyambut hari raya Idul Adha merupakan budaya dalam syiar Islam yang masih terus berjalan sampai saat ini, seperti di Gondanglegi. (Nana)

MALANGTIMES - Ritual takbir keliling menyambut hari raya Islam, baik Idul Fitri maupun Idul Adha menjadi fenomena menarik dalam masyarakat.

Dari anak-anak sampai orang dewasa tumpah ruah memadati rute takbir keliling dengan membawa obor dan peralatan bunyi-bunyian penggugah semangat. Tambur, drum, kendang jimbe, terbang, jidor dan aneka tetabuhan lainnya. 

Hal ini terlihat, kemarin Kamis (31/08) malam di wilayah Kromengan, Sumberpucung maupun di Gondanglegi. Ratusan santri dan orang dewasa bersuka cita melantunkan takbir dan menerangi rute dengan obor yang dibawa para peserta sepanjang jalan.

Didin Fahlefi Guru Madrasah Nurul Irsyad yang berlokasi di Gondanglegi mengatakan, takbir keliling merupakan bentuk atau sarana syiar agama Islam yang dibalut dengan kearifan lokal masyarakat setempat.

"Budaya takbir keliling sudah ada sejak lama. Selain sebagai syiar Islam, takbir keliling ini juga difungsikan sebagai perekat masyarakat dalam maraknya perpecahan umat," kata Didin yang juga menyampaikan takbir keliling tadi malam diikuti oleh 400 peserta dari berbagai Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah di Desa Putukrejo, Gondanglegi, Jumat (01/09).

Suka cita menyambut hari raya Idul Adha juga terpantau di Kecamatan Sumberpucung dan Kromengan yang melibatkan anak-anak Sekolah Dasar (SD).

Ratusan anak-anak dengan berbusana muslim menyusuri jalanan desa dengan obor di tangan. Gema takbir berkemundang dari mulut-mulut kecil anak-anak tersebut.

Kemeriahan malam takbir dengan cara berjalan bersama-sama mengelilingi jalanan desa tersebut, menurut Ahmad Sujai, warga Ngebruk yang mengantar anaknya, memiliki nilai positif dan filosofi tinggi.

"Minimal anak-anak dikenalkan dengan budaya takbir keliling daripada main, nonton tivi, main hape, mas," ujarnya.

Dari pantauan MalangTIMES, takbir keliling yang diikuti anak-anak menyeruakkan semangat jihad. Jarak cukup jauh tidak membuat mereka mengeluh. Sebaliknya terlihat keceriaan, kepolosan dalam menggemakan kebesaran Tuhan.

Kebo nusu gudel, istilah yang tepat guna menggambarkan peristiwa takbir yang diikuti anak-anak tersebut.

"Para orang tua, seperti saya kembali diingatkan dalam acara tersebut. Bahwa pelajaran moral terkadang bisa berasal dari anak-anak," ujar Ahmad.

Anak-anak yang tulus ikhlas nguri-nguri takbir keliling guna napak tilas keikhlasan Nabi Ismail kecil yang secara total pasrah sumarah atas dawuh agung yang harus dijalankan oleh Ramandanya yakni Kanjeng Nabi Ibrahim. 

"Inilah yang disebut Kebo nusu gudel,"pungkas Ahmad.

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Raafi Prapandha

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top