Tersangka pencabulan anak di bawah umur, IP (45) warga Peniwen, Kromengan saat diperiksa di kantor PPA Reskrim Polres Malang atas perlakuan bejatnya menyetubuhi 'Mawar' sampai hamil, Senin (28/8/2017) (Foto : Nana/MalangTIMES)
Tersangka pencabulan anak di bawah umur, IP (45) warga Peniwen, Kromengan saat diperiksa di kantor PPA Reskrim Polres Malang atas perlakuan bejatnya menyetubuhi 'Mawar' sampai hamil, Senin (28/8/2017) (Foto : Nana/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kasus pencabulan anak di bawah umur kembali terjadi. Kini, kasus asusila orang dewasa terhadap anak-anak terjadi di Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan.

PS (45) warga Dusun Purwosari, Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan ditetapkan menjadi tersangka setelah perbuatannya mencabuli anak di bawah umur, sebut saja Mawar (15).

Baca Juga : Mokong Keluyuran Malam Hari, Warga Jalani Rapid Test Covid-19 di Tempat

Tidak hanya sekali PS mencabuli Mawar, tapi sampai 6 kali dan hamil hingga 8 bulan. Peristiwa ini membuat warga Peniwen geger dan melaporkan kasus pencabulan di bawah umur ini kepada kepolisian.

Dalam rilis yang dilakukan di Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Malang, tersangka mengaku melakukan pencabulan sejak bulan Januari 2017 terhadap Mawar yang merupakan tetangga sebelahnya.

Ketagihan, tersangka mengulang perbuatan bejatnya sampai 6 kali dan membuat korban hamil besar. Perbuatan bejat terhadap korban yang masih siswi SMP ini dilakukannya di rumah tersangka. 

"Awalnya saat dia servis sepeda ontelnya ke bengkel saya. Saya tertarik, suatu hari saat pulang sekolah saya panggil dan saya minta belikan rokok," kata PS yang lupa hari dan tanggalnya, Senin (28/8/2017) di ruang PPA Reskrim Polres Malang.

Dari permintaantolongnya untuk membelikan rokok tersebut, PS menyeret korban ke rumahnya dan menyetubuhinya.

Kelakuannya terus diulang setiap kali nafsu birahinya memuncak. Korban terkadang dikasih uang sebesar Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu dan dirayunya setiap kali berhubungan badan di rumah tersangka.

"Tersangka merayu korban kalau terjadi sesuatu akan bertanggungjawab," kata Iptu Sutiyo Kanit PPA Reskrim Polres Malang.

Baca Juga : Usul Pemakaman Nakes Covid-19 di TMP & Anugerah Bintang Jasa Berujung Bully untuk Ganjar

Sutiyo juga menyampaikan IP yang ditinggal kerja istrinya selama 17 tahun ke Hongkong, merasa leluasa untuk melampiaskan nafsu bejatnya yang membuat masa depan Mawar hancur.

Sedangkan korban yang hidup hanya dengan neneknya, tidak terpantau gerak geriknya. Kedua orang tua Mawar bekerja di luar kota. "Kondisi inilah yang membuat tersangka merasa leluasa mencabuli korban yang masih di bawah umur," ujar Sutiyo.

IP yang terus berkelit bahwa dirinya tidak memaksa dan memperkosa korban, tetap harus berurusan dengan pihak berwenang karena melakukan perbuatan yang diancam pidana yaitu Pasal 81 jo Pasal 76D dan atau Pasal 82 jo Pasal 76 E Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

"Hukumannya maksimal 15 tahun penjara bagi tersangka pencabulan anak di bawah umur," pungkas Sutiyo.