Kiri. Kadinkes Kabupaten Malang Abdurrachman menyampaikan bahwa dirinya optimis imunisasi MR bisa 100 persen tercapai di bulan September 2017. (Nana)
Kiri. Kadinkes Kabupaten Malang Abdurrachman menyampaikan bahwa dirinya optimis imunisasi MR bisa 100 persen tercapai di bulan September 2017. (Nana)

MALANGTIMES - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang sebagai leading sektor di dunia kesehatan, optimis program imunisasi Measles dan Rubela (MR) bisa terlaksana 100 persen di bulan September 2017.

Optimistis Dinkes Kabupaten Malang yang disampaikan langsung oleh Kepala Dinasnya, Abdurrachman kepada MalangTIMES, didasarkan kepada progres di lapangan yang telah mencapai 66,33 persen di bulan September dari total sasaran imunisasi sebanyak 605 ribu anak dengan rentang usia 9 bulan sampai kurang dari 15 tahun.

"Alhamdulillah tahap pertama untuk imunisasi MR bagi usia 9 bulan sudah terlaksana dan kini terus dilaksanakan di usia SD dan SMP," kata Abdurrachman, Minggu (27/08) melalui telepon genggam.

Keberhasilan Dinkes Kabupaten Malang dalam program imunisasi MR dikarenakan seluruh tenaga kesehatan sampai tingkat desa langsung terjun ke sekolah-sekolahan, baik pendidikan dasar anak usia di bawah lima tahun sampai SMP.

"Dengan metode ini kita yakin september seluruh sasaran imunisasi MR bisa 100 persen,"ujar Gus Dur, sapaan Kadinkes Kabupaten Malang kepada MalangTIMES.

Permasalahan imunisasi dalam masyarakat Indonesia memang mengalami pasang surut dalam aplikasinya. Hal ini dikarenakan masih adanya anggapan imunisasi merupakan vaksin berbahaya yang beredar sejak tahun 2003 yang bersumber dari berita-berita lama tahun 1950-1960-an. 

Anggapan tidak benar tersebut dampaknya cukup besar. Banyak anak Indonesia tidak di imunisasi polio, sehingga tahun 2005-2006 terjadi wabah polio di beberapa provinsi. "Akibatnya 352 anak Indonesia lumpuh, cacat, dan menjadi beban keluarga seumur hidup,"ujar Gus Dur.

Selain pilio, wabah difteri dan campak di tahun 2007 sampai 2014 telah membuat ratusan anak-anak Indonesia meninggal dan diperlukan pengobatan secara intensif. Wabah difteri mengakibat 2.869 anak dirawat di rumah sakit, 131 anak meninggal dunia. Campak telah menyerang sekitar 1.008 kali dan mengakibatkan sejumlah bayi dan anak-anak sekitar 83.391 menderita.

"Adanya publikasi yang keliru di tahun-tahun lalu mengenai imunisasi menjadi bumerang bagi pertumbuhan kesehatan anak,"ujar Gus Dur yang juga menyampaikan sejak tahun 2010-2015 di Indonesia berdasarkan pemeriksaan laboratorium terbukti 6.309 anak terserang rubela, 77 % berumur kurang dari 15 tahun.

Dari data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Agustus 2017, pada tahun 2015-2016 virus rubela telah membuat 556 bayi cacat dengan kelainan jantung (79,5 %), buta karena katarak (67,6%), keterbelakangan mental (50%), otak tidak berkembang (48,6%), tuli (31,3%), dan radang otak (9,5%).

Dengan kondisi tersebut, Badan Kesehatan Dunia (WHO) melancarkan program imunisasi  MR serentak dalam satu periode pada semua anak umur 9 bulan sampai < 15>

Bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan rekomendasi tertanggal 31 Juli 2017 No. U-13/MUI/KF/VII/2017 yang isinya memberikan dukungan pelaksanaan program imunisasi termasuk imunisasi Measles dan Rubela (MR) dalam menangkal adanya wacana imunisasi haram karena mengandung zat dari babi.

"Seluruh kalangan mendukung untuk dilakukan imunisasi yang terus digencarkan dalam menghasilkan kekebalan yang merata dan tinggi sehingga virus tersebut sulit menyebar," terang Gus Dur yang juga menegaskan imunisasi MR bermanfaat menurunkan kejadian wabah, sakit berat, cacat atau kematian karena campak dan rubela.

"Sampai saat ini lembaga penelitian resmi nasional dan internasional menyatakan bahwa imunisasi terbukti aman dan bermanfaat mencegah wabah, sakit berat, cacat dan kematian,"pungkasnya.