Dirut PDAM Kabupaten Malang Syamsul Hadi akui kehilangan air di Kabupaten Malang masih di atas standar nasional yaitu 20 persen saat di acara tasyakuran HUT PDAM ke-36 di Kantor PDAM Kabupaten Malang, Rabu (09/08) (Foto: Nana/ MalangTIMES)
Dirut PDAM Kabupaten Malang Syamsul Hadi akui kehilangan air di Kabupaten Malang masih di atas standar nasional yaitu 20 persen saat di acara tasyakuran HUT PDAM ke-36 di Kantor PDAM Kabupaten Malang, Rabu (09/08) (Foto: Nana/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - Selain meningkatnya pendapatan dengan adanya penambahan pelanggan sambungan rumah (SR) setiap tahunnya, PDAM Kabupaten Malang harus terus berjibaku dengan adanya kehilangan air yang terbilang tinggi.

Tercatat kehilangan air PDAM Kabupaten Malang walaupun mengalami trend penurunan setiap tahunnya, tapi masih di atas standar yang ditetapkan nasional yaitu 20 persen. Hal ini terlihat dari data PDAM Kabupaten Malang mengenai kehilangan air yang penurunannya setiap tahun hanya berkisar antara 1- 2 persen saja.

Baca Juga : Kasus Covid-19 Terus Bertambah, Bupati Malang Klaim Penyebabnya Tertular dari Luar

Sebagai ilustrasi, kehilangan air di tahun 2015 sebesar 27,92 persen turun menjadi 25,26 persen di tahun 2016. Bahkan, untuk tahun 2017 ini PDAM Kabupaten Malang hanya berani menarget penurunan kehilangan air sebesar 1 persen dari tahun lalu, yaitu 24,26 persen.

Syamsul Hadi, Direktur Utama PDAM Kabupaten Malang menyikapi permasalahan kehilangan air yang terjadi memang tidak bisa dihindari dengan luas wilayah dan topografi Kabupaten Malang. Dia mengatakan ada dua faktor penyebab kehilangan air yang kini terus dicoba untuk ditanganinya, yaitu faktor teknis dan non teknis.

"Penyumbang terbanyak dari kehilangan air adalah faktor teknis. Hal ini yang akan terus kita tingkatkan di tahun ini dan kedepannya," kata Syamsul Hadi, Rabu (09/08) kepada MalangTIMES.

Faktor teknis yang dimaksud oleh Syamsul adalah mengenai kondisi jaringan air yang masih banyak merupakan peninggalan jaman Belanda seperti di wilayah Pakis dan Kepanjen.

Jaringan air dengan kondisi inilah yang menurut Syamsul menjadi salah satu faktor kehilangan air yang terjadi di wilayah kerjanya. "Proses rehabilitasi dan penggantian butuh waktu dan dilakukan secara bertahap," ujarnya.

Baca Juga : 6 Gunung Erupsi Bersamaan, Mulai di Tanah Jawa, Maluku, hingga Sumatera

Dia juga menyampaikan dalam mempercepat penurunan kehilangan air, pihaknya kini akan mempergunakan teknologi informasi yang nantinya perangkat-perangkat tersebut akan mendeteksi tekanan atau debit air.

Ditanya mengenai faktor kehilangan air dari non teknis, seperti rendahnya komitmen pimpinan dan tidak pahamnya tupoksi di PDAM atau adanya permainan meter air antara pelanggan dan petugas meter air, Syamsul mengatakan tidak ada hal tersebut.

"Tidak ada itu, kita bekerja secara maksimal. Untuk hal ini kita kejar sesuai standar nasional sampai tahun 2019," pungkasnya.