Pemimpin Redaksi JatimTIMES Herianto (kiri) saat mewawancarai Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di kantor Kementerian Agama (28/7/2017) menjelang pelantikan rektor UIN Malang Prof DR Abdul Haris.
Pemimpin Redaksi JatimTIMES Herianto (kiri) saat mewawancarai Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di kantor Kementerian Agama (28/7/2017) menjelang pelantikan rektor UIN Malang Prof DR Abdul Haris.

MALANGTIMES - Drama panjang polemik pemilihan rektor (pilrek) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang yang dimulai sejak Februari lalu, hari ini (Jumat, 28/7/2017) berakhir. Tamatnya episode polemik pilrek berakhir setelah Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin melantik Prof. Dr. Abdul Haris sebagai rektor UIN Malang.

Haris yang dilantik di kantor Kementerian Agama RI akan menjabat rektor UIN Malang untuk periode 2017-2021. Dengan dilantiknya Haris, maka secara otomatis keinginan incumbent Prof. Dr. Mudjia untuk mempertahankan kursi yang dijabatnya sejak 2013, kandas.

Baca Juga : Aksi Tak Terpuji Bule di Bali, Pandemi Covid-19 Malah Party

Untuk diketahui, selain Haris dan Mudjia, ada satu calon lain yang memperebutkan kursi UIN 1, yakni mantan rektor STAIN Jember Prof. Dr Khusnuridho. 

Proses pilrek UIN periode 2017-2021 bisa dibilang yang terpanjang dalam sejarah UIN Malang selama ini. Tak hanya memakan waktu, pilrek kali ini juga dipenuhi dengan intrik dan strategi dari berbagi pihak yang terlibat.

Salah satu intrik yang terlihat adalah adanya perang rekom NU antarkandidat. Sang petahana Mudjia mengantongi rekom dari PCNU Kabupaten Malang dan rekom PBNU yang ditandatangani langsung oleh Rais Syuriah KH Ma'ruf Amin. 

Tak hanya itu, petahana juga getol melakukan lobi dengan mendatangkan ketua PPP  Ir. H.M. Romahurmuziy, MT, KH Salahuddin Wahid, dan juga KH Ma'ruf Amin. Incumbent juga menggelar pengukuhan guru besar ekonomi syariah untuk KH Ma'ruf Amin yang mengundang langsung Presiden Joko Widodo.

Berbeda tapi tak serupa dengan Mudjia, Haris dan Khusnuridho juga menggunakan rekom NU untuk pilrek. Mereka berdua mendapatkan rekom dari PCNU Kota Malang dan PWNU Jatim untuk bekal memimpin UIN Malang.

Di tengah perjalanan proses pilrek, nama Khusnuridho sempat dicoret oleh panitia seleksi pilrek lokal. Sebab, pencalonan Khusnurido dianggap tidak memenuhi syarat administrasi karena pencalonannya tidak disertai oleh izin atasannya, yakni rektor STAIN Jember.

Baca Juga : Aksi Tak Terpuji Bule di Bali, Pandemi Covid-19 Malah Party

Namun, pencoretan Khusnuridlo oleh panitia seleksi lokal akhirnya dianulir oleh Kementerian Agama. Dan nama Khusnuridho pun kembali dimasukkan sebagai salah satu calon.

Sebenarnya, tanda-tanda tak akan terpilihnya Mudjia sudah terlihat sejak akhir April lalu. Sebenarnya, jabatan rektor Mudjia untuk periode 2013-2017 berakhir pada 30 April lalu. Tapi, hingga berakhirnya jabatan rektor, Menteri Agama masih belum juga menetapkan rektor terpilih.  Saat itu, menteri agama hanya menunjuk Mudjia sebagai pelaksana tugas (Plt) rektor.

Tanda-tanda Mudjia tak akan ditunjuk lagi sebagai rektor mulai terlihat ketika pada saat pengukuhan guru besar KH. Ma'ruf Amin 24 Mei lalu, Menteri Agama Lukman Hakim tak bersedia hadir. Padahal saat itu acara pengukuhan guru besar dihadiri oleh presiden.

Wartawan MalangTIMES Herianto yang hadir langsung ke kantor Kementerian Agama menjelang pelantikan Haris, sempat mewawancari Lukman Hakim. Hanya saja, dalam kesempatan itu, Lukman tak mau berbicara banyak mengenai pelantikan Haris sebagai rektor UIN. "Lihat saja sendiri bagaimana perkembangannya," ucap Lukman Hakim. (*)