Areal persawahan wilayah Kepanjen mulai diserang hama wereng. Peringatan bagi seluruh pengambil kebijakan dalam dunia pertanian untuk segera mencari solusi produktif atas program kedaulatan pangan. (Nana)
Areal persawahan wilayah Kepanjen mulai diserang hama wereng. Peringatan bagi seluruh pengambil kebijakan dalam dunia pertanian untuk segera mencari solusi produktif atas program kedaulatan pangan. (Nana)

MALANGTIMES - Satu persen target produksi beras nasional tak terpenuhi dan 1,9 juta ton beras impor memasuki pasar. Begitulah gambaran yang terjadi tahun 2010-2011 saat target beras nasional tidak tercapai. Salah satu pemicunya adalah hama. 

Baca Juga : Tiga Tenaga Kesehatan Positif Covid-19 di Kota Malang Sembuh

Impor beras tentunya menjadi kontradiktif dengan semakin digalakkannya swasembada beras dan kedaulatan pangan oleh pemerintah. 

Kini, ancaman tidak terpenuhinya target beras nasional mulai terlihat dengan banyaknya padi petani yang diserang hama wereng. Hama tersebut mulai mewabah di berbagai persawahan, baik di Jawa maupun luar Jawa.

Wabah hama wereng bahkan sudah menyerang persawahan di Jawa Barat semenjak awal 2017. Secara nasional, antara Januari-Juni 2017, dari hasil pemantauan Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI), sawah yang diserang hama wereng seluas 407.000 hektare (ha) dari total luas sawah sekitar 14 juta ha.

Ancaman hama wereng ini pun kini menjangkiti persawahan padi di Kabupaten Malang. Misalnya yang terjadi di wilayah Penarukan, Kecamatan Kepanjen. Puluhan hektare lahan padi milik petani rusak berat selama satu bulan belakangan ini menjelang masa panen.

Supardi, petani padi Penarukan, mengatakan, karena serangan hama wereng, panennya menjadi gagal. Dia juga merugi puluhan juta rupiah. "Panen padi saya turun sampai 80 persen dari biasanya. Wereng menyerang dari batang sampai padi tidak berbutir," ungkapnya, Kamis (27/07).

Dalam kondisi normal, Supardi yang memiliki luas lahan sawah 2 ha biasanya menghasilkan 8-10 ton per hektare. Kini, dari 1 hektare, dia hanya mampu menghasilkan 1,5 ton padi.

Hal serupa juga terjadi pada Muslimin, petani yang mengeluhkan hasil panen padinya mengalami kegagalan karena wereng yang terkenal rakus.

Baca Juga : Tanggap Covid-19, Fraksi PKS DPRD Kota Malang Bagikan Ratusan APD ke Petugas Medis

Maraknya hama wereng, selain karena anomali cuaca, juga dipicu penggunaan insektisida berlebih yang ikut membunuh musuh alami wereng. Juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah meningkatkan perluasan areal tanam padi.

Dari pemantauan AB2TI dinyatakan, pola penanaman padi terus-menerus untuk menggenjot produksi beras menyimpan efek samping. Yaitu padi menjadi rentan diserang wereng. Perkembangbiakan wereng yang kini terus menjalar di berbagai sentra beras di Indonesia pun dikarenakan wereng memiliki cukup makanan sepanjang waktu untuk melipatgandakan jumlahnya dengan adanya pola 2-3 kali panen padi dalam setahun.

Pantauan AB2TI ini dikuatkan dengan hasil penelitian Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta yang menyatakan, agar efektif melawan wereng, perlu mengistirahatkan lahan dari menanam padi sekali dalam satu tahun.

Peneliti UGM Sri Nuryani, seperti dilansir nusantara.news, menyampaikan perkembangan populasi paling cepat dan pengancam turunnya produksi padi selama dua tahun terakhir ini ditempati hama wereng. "Bahkan prediksi tahun ini bakal lebih luas. Terutama jika ada langkah tidak bijak dalam penggunaan pestisida yang justru akan bisa mendorong terjadinya ledakan populasi dan luas serangan yang lebih tinggi di musim mendatang," ujar dia. (*)