Carut Marut Penerimaan Siswa Baru di Kota Malang (7)

SMPN 26 Malang Berdalih Anak Pembantu Itu Ditolak karena Telat Menyerahkan Keterangan Tidak Mampu

Jul 21, 2017 14:51
Dokumen kegiatan Masa Orientasi Siswa di SMPN 26 Malang (Foto : Google Image)
Dokumen kegiatan Masa Orientasi Siswa di SMPN 26 Malang (Foto : Google Image)

MALANGTIMES – Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 26 Kota Malang berdalih Iam Punata, anak pembantu rumah tangga yang sempat diterima namun beberapa jam kemudian dibatalkan oleh pihak sekolah lantaran yang bersangkutan terlambat menyetorkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang menjadi salah satu syarat mendaftar ulang.

Demikian disampaikan Kepala SMPN 26 Malang yang diwakili Umi Kalsum, salah seorang panitia Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di sekolah tersebut.

Baca Juga : Dewan Nilai Dirut PDAM Tak Penuhi Kompetensi, Usul Konkret Dicopot

Menurutnya, calon siswa yang tinggal di Jalan Ikan Arwana, Blok A7, RT 5, RW 4, Kelurahan Tunjung Sekar, Kota Malang ini menyatakan SKTM itu dibawa oleh keluarga Iam Punata setelah proses pendaftaran selesai dan sudah diumumkan sehingga secara otomatis akan ditolak oleh sistem.

"Jadi SKTM itu dibawa ke kami sebelum pengumuman pasti kejadiannya tidak akan seperti itu. Setelah pengumuman dilakukan baru ada SKTM, jadi kan sistem sudah tidak bisa menerima. Kalau memang memenuhi syarat jalur wilayah pasti akan kami terima," jelas Umi Kalsum kepada MalangTIMES, Kamis (20/7/2017).

"Pagi itu, orang tua Iam memang datang ke sekolah  menghadap kepala sekolah. Tidak ada janji apa-apa lho dan kepala sekolah juga tidak menjanjikan apa-apa. Saat itu orang tuanya memohon supaya diterima di sini. Cuma bawa SKTMnya memang setalah pengumuman," imbuhnya.

Kasus serupa memang tidak hanya terjadi pada Iam saja, namun juga dialami beberapa anak kurang mampu di Kota Malang.

Mereka yang merasa memiliki keterbatasan mengakses sistem tersebut mengadu ke MalangTIMES (JatimTIMES) sebagai pintu terakhir yang bisa dilakukan untuk memperjuangkan hak-haknya.

Mereka ini adalah keluarga calon siswa yang terpaksa gigit jari karena tidak bisa belajar di sekolah yang diidamkan lantaran sistem dan prosedur  baru. Padahal, mereka mengaku dengan sistem yang baru ini sebagian besar tidak memahami secara utuh tata cara mendaftar di SMP negeri dengan sistem dan ketentuan itu.

"Powernya SKTM itu sangat besar. NUN 0,46 kami terima karena memang ia sesuai prosedur yang benar yakni membawa SKTM yang masih di wilayah kuota kami. Tapi kuota kami untuk  jalur wilayah hanya 36 sehingga kami terpaksa menolak 4 anak yang mengajukan.  Selanjutnya kuota untuk kelurahan 36, sehingga jalur wilayah 72 terpenuhi, siswa miskin 20 persen, siswa keluraham 20 persen," bebernya.

Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD Kota Malang Imam Fauzi mengatakan kuota untuk  siswa prasejahtera  sebenarnya sudah ditambah dari sebelumnya hanya 25 persen menjadi 40 persen.

Baca Juga : Pipa Terus Bocor, Wali Kota Malang Sutiaji Beri Komentar Ini

Dengan menunjukkan Kartu Keluarga (KK) dan SKTM maka calon siswa yang bersangkutan akan diterima sesuai pagu yang ada.

"Nah kalau memang kuota wilayah sudah terpenuhi, sedangkan pendaftar membludak, maka selebihnya mungkin ya bisa langsung ke sekolah swasta. Namun sosialisasi dan pmeberian pemahaman harus tuntas sehingga tidak muncul persepsi yang salah di masyarakat,” ujarnya.

Kasus yang dialami Iam Punata seperti yang  disampaikan pihak keluarga kepada MalangTIMES, Kamis (20/7/2017) dari kaca mata awam memang akan membuat siapapun berkomentar bahwa ini wujud ketidakadilan sistem.

Betapa tidak, Iam Punata dan keluarganya hanya diberi kesempatan senang beberapa saat setelah ditelpon pihak SMPN 26 Malang bahwa anak pembantu rumah tangga ini resmi diterima di sekolah tersebut namun beberapa jam kemudian dibatalkan.

Peristiwa ini lagi-lagi mengundang ribuan bahwa puluhan ribu komentar netizen karena kasus ini menjadi viral di berbagai media sosial. Tidak hanya warga Malang Raya yang menyampaikan betapa ironinya sistem pendidikan di Indonesia dan Kota Malang pada khususnya namun juga masyarakat luar Malang dan dunia Internasional.

Sebagian besar  netizen dalam komentarnya hanya bisa berharap agar kejadian serupa tidak terulang di tahun-tahun selanjutnya sehingga  mereka yang tidak mampu memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan yang layak sesuai perintah UUD 1945.

Topik
SMPN 26 MALANGanak pembantuketerangan tidak mampuPenerimaan Siswa Baru

Berita Lainnya

Berita

Terbaru