Puisi Pendek (11)

Jun 25, 2017 11:07
Ilustrasi puisi pendek (istimewa)
Ilustrasi puisi pendek (istimewa)

Puisi Pendek (11)

dd nana

Gema Takbir

'Gema itu gaung. Suara yang memantul, resonansi. Getar yang entah menggentarkan hati kita atau tidak,' sungut pejalan kaki yang selalu dicintai para peri yang menghuni butiran debu.

- Seekor anak kucing berwarna coklat dengan larik-larik putih di punggungnya. Serupa tidur mengeja jutaan kaki yang melangkahinya. Aku mendengar gema suaranya,"betapa pesona dunia, hingga para kaki lebih memilih tujuan dunia, malam ini,". Aku gemetar mendengarnya.

Baca Juga : 8 Film Netflix Ini Raih Nominasi Oscar 2020

- Di tengah pekuburan muslim. Nisan-nisan teguh di dera musim. Lafal kitab suci, taburan kembang setaman, dan angin yang malas untuk datang. Aku berkeringat oleh suara-suara yang masih saja cemas. Id kah aku nanti di sini ?.

- Mungkin, surau sudah sekedar nama, di sini. Padahal aku rindu gema suci yang memantul-mantul sederhana darinya. Aku membayangkan anakku, empat tahun, yang riang memainkan bola. Pantulannya begitu ritmis walau sederhana di telinga.

"Bukankah hal-hal suci berahim di kesahajaan, tuan?"lirih suara gema yang entah dilahirkan apa.

- Rumah-rumah berubah paras. Dapur terus mendesiskan api yang tak mati-mati. Tapi, kenapa hari ini aku selalu merasa sepi. Dimana gema takbir tadi pagi ?

- Adakah yang mengetahui umur gema dari suara. Langit lebaran diam, sibuk merekam kepala-kepala yang dibawa kaki ke ruang-ruang hampa, dunia.

Baca Juga : Dengarkan 10 Lagu Hits Dunia yang Hangatkan Suasana Natal di Sini

- Sebagai pemburu, aku selalu pulang tanpa hasil buruan. Hanya gema langkah kaki yang lupa bagaimana caranya kembali bertakbir.

- Kita mencintai bayang-bayang dengan terlalu. Andai kau mampu mendengar gemanya bayang-bayang, "betapa aku lelah mendampingi raga,".

- Anakku mulai fasih melantunkan takbir. Dinding rumah menyerap suaranya. Jelmalah aku yang menangis menghitung usia. "Semakin senja, padahal untuk alif saja belum mampu kuluruskan,".

- Kenapa tidak mudik? Kata perempuan mawar pagi itu. "Karena hatimu menolakku untuk pulang, puan,".

- Padahal aku merindu mudik di hatimu yang hangat menyamankan panasku. Seperti dulu, saat kita memerdekakan cinta.

Topik
puisi pendekserial puisigema takbir

Berita Lainnya

Berita

Terbaru