Puisi Pendek (9)

Jun 18, 2017 10:22
Ilustrasi puisi pendek (istimewa)
Ilustrasi puisi pendek (istimewa)

Puisi Pendek (9)
dd nana


Menyepi di Ragamu


"Padahal yang kuinginkan hanyalah Sekedar mengelus kepalamu Lalu kubiarkan kau pergi lagi. (Yeats)"


- Aku masih puisi dan kau tak lagi sepi. Mari reguk saja sisa kopi semalam ini.

Baca Juga : WORO & The Night Owls Gebrak Maret dengan Album Perdananya


- Pingin mudik lagi ke hatimu, tapi jalanan terlalu penuh dengan derum dan deru. Akhirnya hanya bisa menunggu, lagi


- Takbir di surau-surau, sepi di hatiku. Masih saja aku menunggumu.


- Jemari pasi, hujan dan alun yang tak lagi di fahami. Ah, kau begitu gegas menghapus jejak puisi.


- Segala menyepi. Segelas kopi, beberapa kalimat serupa puisi dan ingatan-ingatan yang mulai pasi. Betapa aku ingin menyepi di ranum ragamu itu.


- Pucuk-pucuk daun jati telah merekah di sini, puan. Walau tidak dengan rindu ini.


- Mungkin, kau masih ingat. Sore dan aduh di bibirmu yang segera ku pungut sebelum menjelma keluh yang langut.


- Yang saling berpagut dalam kemelut. kita, akhirnya harus saling melonggarkan, juga. bukan begitu, cinta?


- Tengoklah, pekarangan yang kita cipta, telah jelma taman- taman dalam cerita. Masih perlukah kita pupuk dengan duka.
Iya ?


- Kita kemas ingatan dengan gegas. Sebentar lagi hujan. Kita tak ingin kembali dengan gigil, saat tiba di rumah masing-masing.


-Jangan batu/Rindu itu alir air yang menyusuri tubuh/Serupa aku yang tak lelah membaca inginmu/Yang kau sembunyikan pada ceruk tergelapmu.

Baca Juga : Film Dokumenter The Beatles 'Get Back' Rilis September 2020


- Lalu aku menyeret kenangan yang terlalu cerewet
Pada lekuk tubuhmu yang maut.


- Kita menepi pada titik yang dianggap paling tepi. Di lembar lain, garis- garis mencairkan diri. Jelma titik kembali.


- Kita adalah diagram yang dilukis jemari hujan. Jemari yang begitu lentik. Hujan yang demikian baik.


- Belum malam, kata- kata masih mencari ceruk terdalam. Dalam sepasang mata yang terbakar Ingatan-ingatan.


- Dan kita siapa saat rindu bertamu. Pada raga yang berlumut waktu.


- Tuhan sedang bermurah hati, meruangkan ingatan-ingatanku begitu lapang. Tentangmu.


- tubuh kita jelma mangkuk-mangkuk bermotif bunga yang menampung butir-butir cinta. mari mengisi lapar kita, bersama.


- aku yang menyalakan bara, kau yang memilah biji-biji rindu untuk di tanak. kita terlalu lapar, bukan?


"Jiwa cinta yang tercenung; ragu-ragu untuk membebaskan diri, akhirnya pergi juga, lembut dan dingin," (vicente alexandre)

 

Topik
Menyepi di Ragamupuisi pendek

Berita Lainnya

Berita

Terbaru