Mantan (seri 1)

Jun 11, 2017 14:47
(lustrasi)
(lustrasi)

Namaku Air Senja, mereka memanggilku Senja. Aku berasal dari keluarga yang biasa saja cenderung melarat. Aku tinggal di sebuah rumah mungil di sebuah kampung kecil di Tangerang Utara, lebih dekat dengan pesisir pantai lebih tepatnya.

Orang tuaku keduanya seniman. Ibuku Dewi. Dia seorang pemahat. Banyak karyanya yang diminati oleh kolektor nasional. Tapi sayang manajerial dan pengelolaan dirinya kurang baik. Sehingga banyak dari mereka yang kecewa karena moodnya yang naik turun. Bagaimana tidak? Baginya mood yang baik bisa melahirkan karya yang memiliki nilai estetika yang tinggi. Karyanya memang bagus. Sayang hanya ketidak konsistenan yang membuatnya gagal berkembang.

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

Ayahku, Anto. Seorang pelukis dengan idealisme yang cukup tinggi. Entah aliran apa yang dianut. Mungkin Fauvisme, mungkin ekspresionisme, mungkin juga impresionisme. Yang jelas bagiku lukiasannya sulit dimengerti karena tak beraturan bentuknya. Mungkin itu juga yang membuat lukisannya tidak pernah laku waktu pameran.

Ya, alirannya tidak sesuai dengan selera orang Indonesia kebanyakan, yang masih terpaku dengan aliran realisme minded. Ah, entah istilah apa ini yang ku pakai. Dan dia tidak ingin mengikuti keinginan pasar karena baginya mengikuti keinginan pasar hanya akan melatihnya menjadi orang munafik. Entah apa maksudnya. Ekspektasinya begitu tinggi terhadapa hasil karyanya yang sebetulnya biasa-biasa saja. sifatnya yang cenderung angkuh dan arogan memicu munculnya masalah besar di keluargaku.

Oh iya, aku lupa memperkenalkan ke empat adikku. Adik laki-lakiku, yang pertama namanya Bumi. Dia anak yang keras dan pembangkang, lebih keras dari batu. KataIbu, dia jadi seperti ini karena terlalu banyak dimanja dan tumbuh dalam lingkungan yang keras. di usianya yang masih 19 tahun dia sudah berani minggat dari rumah. Adik keduaku perempuan, namanya Embun. Terbiasa mengalah dengan kakak lelakiya, dia tumbuh jadi gadis yang 'nriman', tidak pernah membangkang. Hatinya lembut dan mudah tersentuh, mungkin karena dia perasa.

Adik keduaku usianya 14 tahun. Lebih muda 4 tahun dari Embun. Namanya Langit. Layaknya anak laki-laki diusianya, bermain dengan teman sebayanya adalah agenda yang tidak bisa ditinggalkan setiap harinya. Walaupun hobi main, tapi manjanya minta ampun. Mungkin dia akan tumbuh jadi laki-laki yang cuek karena diusianya saat ini dia cenderung tidak pernah peduli dengan sekitar. Yang dia tau hanya main, pulang untuk mandi dan makan, lalu main lagi. Ah sudahlah. Yang terkahir, Kejora. Dia lahir dengan normal dan lucu, tapi sayang usianya hanya 20 hari. Dia meninggal karena kesalahan dokter memberinya obat.

Baca Juga : KITAB INGATAN 100

Aku dibesarkan dengan kondisi pas-pasan karena kesalahan kedua orang tuaku yang sama-sama egois. Tidak jarang pertengkaran mencuat di depan kami - aku dan adik-adikku - hanya karena hal sepele yang kemudian jadi pertengkaran hebat. Nada tinggi, kalimat kasar, hingga piring yang melayang terbang hingga hancur berkeping. Itu sudah jadi makanan sehari-hari.

Dari sinilah kisahku bermula. Aku memutuskan untuk hijrah. Ah, bukan, aku hanya pergi mengamankan diri, menhgamankan jiwa dan mentalku saat itu. Kali ini, ijinkan aku curhat. Tolonglah, kali ini saja. Rasanya aku buntu, tak tahu akan ku bawa ke mana hidupku. Tunggu, akan kuceritaan di naskah selanjutnya. Kalian masih bisa menunggu bukan?? Tunggu sebentar ya...
                        ***

Topik
MalangBerita Malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru