Puisi Pendek (7)

Jun 10, 2017 11:15
Ilustrasi puisi pendek (istimewa)
Ilustrasi puisi pendek (istimewa)

dd nana

Tera Namamu

"Kegelisahanmu mengingatkanku Pada burung-burung migrasi yang membenturkan diri ke menara api pada malam-malam badai. (Montale)"

- Malam ini, rengkuh di tubuhmu bukan sepasang tanganku. Malam terkekeh begitu jenaka. Manusia.

Baca Juga : KITAB INGATAN 98

- Selalu ada yang tanggal. Tanggal-tanggal dalam kepala yang diganjilkan malam.

- Kelak, malam yang menuliskan puisi untukmu; agar gelap lebih genap di mata sucimu.

- Menghitung mundur, menuju silam. Matanya kembali malam.

- Begitu ramai nyalak anjing dalam kepala yang kembali malam.

- Maka, di daraslah setiap lengkung yang tak selalu pelangi. Selalu dengan tertatih dan nafas yang tersendak.

- Cinta seringkali menyaru aksara-aksara rumit yang menjengkelkan.

- Dalam kepala, kau perompak yang dipersilakan memporandakan segala isinya. Dengan ikhlas tanpa cemas

- Dalam puisi, kau menjadi lautan yang tak selesai ku gambar tepinya.

- Bulan bulat dan rindu yang mengakar, erat pada alun tubuhmu, pada lesung pipimu.

- Kita jatuh cinta, lalu menjadi pujangga. Tidak, katamu. Kita jatuh cinta, lalu menjadi kata-kata. 

- Lalu, aku ingin menceritakanmu kepada ibu. Tentang lengkung sabit yang sama di bibirmu, yang dulu- pernah membuat ibu jatuh cinta pada ayahku.

- Ada yang membeli kesedihan dengan bungkus indah dan mahal. Lantas di simpannya dalam lemari berkaca. Serupa piala, serupa aku yang cedera.

- Siang ini, betapa ingin kuajak tuhan ngopi. di sebuah warung kecil dengan penjual berusia lansia.

- Semoga puisi tidak mengganggu mereka yang sedang merayakan bahagia. Disana.

- Kasmaran yang rupawan, sentuhan-sentuhan yang diakrabi kenangan. Peristiwa-peristiwa yang diawetkan musim penghujan. Kamu masih di sana, puan?

- Kita telanjang, tidak mencari ruang birahi, lagi. Tenang.

Baca Juga : KITAB INGATAN 95

- Tadi malam, rindu menyembuhkan demamnya sendiri. Adakah kau siapkan air hangat untuk meluruhkan gigilnya, puan.

- Cinta itu hujan dengan parasnya yang paling rupawan. Digenapkan Juni dengan bara yang selalu menyala dalam dada.

- Rindu, masih serupa kembang puteri malu, yang mekar dalam sentuhan pagi. Sepertiku.

- Rindu, katamu, serupa rahim dopamine. Menujumu, menujumu; selalu

- Pada tuhan yang mencipta ceruk, puisi selalu bisa sembunyi. Menunggu untuk mengkhianati, lagi.

- Di luar puisi, tak ada yang benar-benar bersuara, katamu. Seperti juga kita dan rindu-rindu yang diam di bawah bantal.

- Saat kau lelah mencintaiku, ingatlah pada akar yang mengkhidmati takdirnya. Merawat dengan adil segala yang tumbuh di atas dan sekitarnya.

- Mencintai aduhmu, sebelum taman surga begitu riuh, seperti ini. Sepi.

- Puisi yang mati serupa dada yang tak berpenghuni.

- Kau menabuh luka yang telah lama bisu dalam kepala.

- Pulanglah, pada asal bunyi. Serupa kayu kering yang disempurnakan derak. Di setubuhi bara api.

- Jemari pasi, hujan dan alun yang tak lagi di fahami. Kau, begitu gegas menghapus jejak puisi.

"Sudahlah, aku selalu kalah di namamu yang serupa pagi itu,".

Topik
sastrapuisicinta

Berita Lainnya

Berita

Terbaru