Puisi Pendek (6)

Jun 04, 2017 08:43
Ilustrasi puisi pendek (istimewa)
Ilustrasi puisi pendek (istimewa)

Puisi Pendek (6)
dd nana

Merayakan Diam


'Bahkan jika aku tak lahir, puisi harus ada. Sebab apa yang puisi persiapkan adalah suatu keharusan cinta'. (Paz )

Baca Juga : Film Dokumenter The Beatles 'Get Back' Rilis September 2020


- Karena mencintaimu, aku memilih sunyi yang tak pernah bisa kau mengerti.
- Kemana perginya puisimu. Matamu bertanya pada gelas berisi kopi pekat yang menggigil sejak dini hari, tadi.
- Matamu mantra yang kini membuat ku tabah mengasuh segala peristiwa.
- Jangan masuk dalam sengketa, saat kita belum berdamai dengan diri kita sendiri. Secangkir kopi meriuhkan pesan pada tubuh aksara.
- Inilah cinta, kata diam mu yang jauh. Mungkin ini cinta, kataku yang luruh. Cinta yang sunyi agar mereka tidak menghardik kita lagi.
- Sebenar-benarnya percakapan, mungkin yang sedang kita jalani ini. Sama-sama tanpa suara dan saling menunggu. Di kepala kata-kata menyalak riuh.
- Apa senja yang telah ku bungkus lewat kata-kata, telah kau simpan rapi di laci mejamu, puan?
- Mari saling memunggungi dan menjauh, biar tuhan saja yang tahu, dada siapa yang paling tabah.
- Aku tak ingin kelak, yang kau gambarkan serupa hangat ruang tamu yang kau sebut dada.
- Aku burung yang lama lupa atas kepak. Sedang kau masih saja begitu jauh untuk diringkas langkah.
- Pada aksara yang berebut dan tercerabut, kesadaran serupa lampu di jalanan; parak pagi yang menggelisahkan.
- Aku masih puisi dan kau tak lagi sepi. Mari reguk saja sisa kopi malam ini.
- Ku sapa puisi itu disela lantunan takbir. Siapa namamu? Aku adalah aksara yang tak pernah kau beri cahaya, jawabnya.
- Kutemukan seekor puisi yang cantik malam ini dengan t-shirt hitam bertulisan "tidur lebih baik daripada menungguku. "
- Cinta ditanamkan di bilik hati dengan titah yang pasti; tujulah belikatmu yang hilang dalam puisi awal yang kau cipta.
- Sudah sepi sayang, tak ada lagi nubuat untuk mata malammu. Tidurlah
- Raga itu fana, maka rindu begitu jumawa.
- Dimana tuhan disisa malam ini, aku menantinya. Dengan secangkir kopi dan sepi yang berurat ayat-ayat dalam kitab yang ku baca.
- Bahkan, ayat-ayat dalam kitab, tak mampu meredakan demam rindu ini.
- Akhirnya, dalam pejam yang lelap, aku bisa lari. Walau sesaat, walau sekelebat.

Topik
puisi pendekserial puisimerayakan diam

Berita Lainnya

Berita

Terbaru