MALANGTIMES - Inilah kali pertama Hari Kelahiran Pancasila yang telah berusia 72 tahun diperingati secara serentak di Indonesia. Dari pusat yang langsung dipimpin Presiden RI Joko Widodo sampai ke daerah-daerah.

Di Kabupaten Malang, Hari Lahirnya Pancasila digelar di halaman Pendapa Agung Kabupaten Malang yang langsung dipimpin Bupati  Malang Dr Rendra Kresna sebagai inspektur upacara. Tahapan acara seperti menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, mengheningkan cipta dan pembacaan pidato tertulis presiden RI oleh bupati berjalan secara khidmat dan diikuti ratusan peserta dari berbagai elemen, Kamis (01/06).

Tetapi dari rangkaian acara Hari Kelahiran Pancasila yang sangat menarik adalah mengenai penuturan sejarah Pancasila yang disampaikan Rendra Kresna setelah upacara selesai.

Lahirnya Pancasila, menurut Rendra, merupakan fase perjalanan panjang bagi bangsa dan negara Indonesia. Memperingatinya merupakan momentum mengembalikan jati diri bangsa yang sejak dulu solid dalam persatuan dan kesatuan.

"Momentumnya di sana. Untuk memahami dan melaksanakannya, kita perlu mengetahui sejarah dari lahirnya Pancasila itu sendiri," kata Rendra Kresna kepada MALANGTIMES sambil menuturkan lahirnya Pancasila.

Lahirnya Pancasila adalah judul pidato yang disampaikan oleh Soekarno dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) pada tanggal 1 Juni 1945. Dalam pidato inilah konsep dan rumusan awal "Pancasila" pertama dikemukakan oleh Soekarno sebagai dasar negara Indonesia merdeka. Pidato ini pada awalnya disampaikan oleh Soekarno secara aklamasi tanpa judul dan baru mendapat sebutan "Lahirnya Pancasila" oleh mantan Ketua BPUPK Dr Radjiman Wedyodiningrat.

Proses menuju lahirnya Pancasila tersebut, menurut Rendra, cukup panjang dan hampir berujung pada kuldesak atau jalan buntu. Sidang pertama dilakukan tanggal 29 Mei 1945 dengan tema dasar negara yang diadakan di gedung Chuo Sangi In di Jalan Pejambon 6 Jakarta yang kini dikenal dengan sebutan Gedung Pancasila. "Tetapi selama beberapa hari sidang tidak menemukan titik terang," kata Rendra.  

Akhirnya, pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mendapat giliran untuk menyampaikan gagasannya tentang dasar negara Indonesia merdeka, yang dinamakannya "Pancasila". Pidato yang tidak dipersiapkan secara tertulis terlebih dahulu itu diterima secara aklamasi oleh segenap anggota Dokuritsu Junbi Cosakai.

Tidak selesai sampai di situ. Dokuritsu Junbi Cosakai membentuk pwanitia Kecil dengan nama Panitia Sembilan  yang terdiri dari Ir Soekarno, Mohammad Hatta, Mr AA Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakir, Agus Salim, Achmad Soebardjo, Wahid Hasjim, dan Mohammad Yamin. Mereka ditugaskan untuk merumuskan kembali Pancasila sebagai dasar negara berdasar pidato yang diucapkan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945. 

Setelah melalui proses persidangan dan lobi-lobi, akhirnya rumusan Pancasila hasil penggalian Bung Karno tersebut berhasil dirumuskan untuk dicantumkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945 yang disahkan dan dinyatakan sah sebagai dasar negara Indonesia merdeka pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh BPUPKI. "Dokumen inilah yang dijadikan teks untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia," ujar Rendra.

Mengenai pemilihan tanggal 1 Juni sebagai Hari Lahirnya Pancasila yang pernah menjadi perdebatan juga ditutup dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden (Perpres) No 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila. "Bahwa rumusan Pancasila sejak tanggal 1 Juni 1945 yang dipidatokan Bung Karno, rumusan Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945 hingga rumusan final tanggal 18 Agustus 1945 adalah satu kesatuan proses lahirnya Pancasila sebagai dasar negara," tulis perpres itu.

Ada yang menarik dan mungkin jarang diketahui bahwa rumusan yang disampaikan Soekarno pada waktu itu berbeda dengan susunan Pancasila yang kita kenal sekarang. "Urutan dasar negara yang disampaikan Bung Karno waktu itu adalah  kebangsaan, internasionalisme atau perikemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa," ujar Rendra.

Dia juga menyampaikan urutan dasar negara yang disampaikan tersebut mendapat penolakan dari perwakilan warga dari Indonesia Timur, sehingga pada tanggal 18 Agustus 1945 ditetapkanlah Pancasila yang kita kenal sekarang ini seperti yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Bunyinya: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan dan Perwakilan, serta Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. (*)