Puisi Pendek (4)

May 27, 2017 13:40
Ilustrasi puisi pendek (istimewa)
Ilustrasi puisi pendek (istimewa)

*dd nana

(1) Serpih yang gigil. Itu rindu. Lebih daripada candu, lebih daripada madu.

(2) Namamu, desah serupa doa   yang mengembun sejak khuldi dicipta.

Baca Juga : 8 Film Netflix Ini Raih Nominasi Oscar 2020

(3) Kita bersepakat bersama mengayunkan kampak Ibrahim. ke raga kita masing-masing

dan kita juga berikrar untuk tidak menamakan isi dari luka raga itu, kini

(4) dan, peluklah. Sebelum ingatan menemukan cara dan menghardikku sedemikian rupa.

(5) yang samudera itu, rahsa yang belajar pulang. yang bumi itu, pikiran yang setenang bening pagi. sedang, yang langit itu, sayang, cinta yang kita emban. Kini dan nanti.

(6) ingatan hujan. Ingatanku atas rindu yang terlalu. dimana, putih helainya adalah pikiran yang merdeka. mencintaimu.

(7) rindu, nyala resah yang mencari arah. yang muaranya di rasamu, selalu. 

(8) kularungkan air mata dengan mantra. lajulah keseberang sana. dan ceritakan hikayat cinta. apa adanya.

Baca Juga : Dengarkan 10 Lagu Hits Dunia yang Hangatkan Suasana Natal di Sini

(9) begitu ritmis. pagi dan rindu ini mencair. memenuhi dada. menutupi mata. dan kabut mengecupnya. membawanya kedalam telaga. 

(10) diburitan perahu kertas. kita asik bermain rasa. melempar dadu rindu. menukar setiap kartu.

dan, selalu, aku yang kalah dalam permainan itu.

(11) mencintaimu, seperti mencatat jejak nafas. seperti puisi yang tak pernah usai ditandai.sepertimu, cinta, yang tak usai kurengkuh. hingga kini.

(12) maka, sebaik-baiknya rindu, bagi kita, cinta, adalah dada yang dilapangkan dengan musiman peristiwa. bukan begitu, cinta?

...karena bagiku, kaulah cinta, embun termanis dari surga yang tidak disisisipi cerita-cerita luka.

Topik
puisi pendekrinducinta

Berita Lainnya

Berita

Terbaru