Puisi Pendek (3)

May 21, 2017 10:29
Ilustrasi puisi pendek (istimewa)
Ilustrasi puisi pendek (istimewa)

MALAM MINGGU LANGIT CUKUP TERANG
*dd nana

(i)

aku panggil masa lalu; kuburan tanpa nisan itu
yang hadir memenuhi mataku
batu nisan dengan deret aksara yang mengeja
namaku, sendiri.

(ii)
aku kupas malam minggu
langitnya cukup terang
dimana hujan bersembunyi malam ini, puan?
-mereka ada di mata para perindu-

Aku kupas malam minggu
Memindahkan langit yang cukup terang di
Secangkir kopi yang baru aku pesan
Tetapi hujan bersembunyi dimana ?
-Di mata ku- 


ANTARA AMBARAWA DAN DINOYO

Bulan hampir tuntas kubaca
Sebelum dahak lahir kembali di tenggorokan, aku rasa
Berderak-derak lantas berkata 
-bagaimana kau sempurnakan malam dengan tubuh ringkih penyakitan, pergilah ke dokter atau selimuti dirimu rapat-rapat -

dan jejak yang kutulis pada jam dinding 
dijilati lidah samudera, dibawanya pergi
kebenua yang tak kukenal, mungkin juga tak berdasar

ada yang lepas dari ragaku
airmata yang kusembunyikan di jalanan.

SEANDAINYA AKU MALIN KUNDANG

Seandainya aku Malin Kundang
maka ku tautkan segala bimbang dengan keyakinan
ku bakar segala pengetahuan yang mengeram di kepala 
hingga mampu kulantangkan kata
bahwa disana, lautan tidak selalu biru
tetapi mungkin saja merah, jingga atau bahkan hitam
mungkin juga tak memiliki warna seperti yang kita sangka

Siapa yang tahu, sebelum kita melayarinya, menjadi lumba-lumba
paus, ikan terbang, penyu atau kepiding sekalipun
dan menggambarnya sesuka hati dengan cat yang kita beli di setiap
debur dermaga.

Maka, seandainya aku Malin Kundang 
selekasnya ku kibarkan kain perahu itu, kalaupun tak ada restu
kenapa harus menjadi batu, lelaku ini bukanlah konspirasi untuk menghantam kasih
tapi ini memang keharusan perjalanan seorang lelaki.

Maka, ku rayu kumparan angin dermaga sebagai kekasih, kunikahi segala tali 
hingga erat menaut ke daging tubuhku, dan
di ranjang yang ditatah asin keringat 
ku desahkan kenikmatan sembilu itu.

Akulah Malin Kundang, lelaki yang menggambar lautan
Camar, dermaga, cinta, dengan warna yang kusuka.

Ah, seandainya aku Malin Kundang
Kaupun telah kurengkuh dari dahulu
Tak perlu lama menunggu, hingga airmata menjadi muara waktu
Hingga kita sama-sama faham warna
Laut tidak selalu biru.

*Wartawan MALANGTIMES

Topik
puisi pendekserial puisiMalam Minggu

Berita Lainnya

Berita

Terbaru