Pakar Sejarah : Kenali Kebesaran Sejarah, Agar Tidak Jadi Bangsa Berjiwa Minderwardig

May 14, 2017 10:54
Agus Sunyoto, budayawan-sejarawan-penulis buku Atlas Wali Songo, mengatakan ketercerabutan dari leluhur membuat kita berjiwa Minderwardig (foto : Agus Sunyoto for MALANGTIMES)
Agus Sunyoto, budayawan-sejarawan-penulis buku Atlas Wali Songo, mengatakan ketercerabutan dari leluhur membuat kita berjiwa Minderwardig (foto : Agus Sunyoto for MALANGTIMES)

MALANGTIMES – Mengenali kebesaran sejarah, tidak sekadar mengelus-elus berbagai peninggalannya saja. Atau merayakannya dalam berbagai acara seremonial setiap tahun.

Mencintainya melalui berbagai tindakan yang berasal dari eksplorasi pembelajaran atas berbagai artefak dan lainnya, lantas menggolahnya dalam dunia kekinian, akan melahirkan suatu jiwa yang tidak Minderwardig.

Baca Juga : Viral Surat Stafsus Jokowi untuk Camat, Dicoreti Bak Skripsi hingga Berujung Minta Maaf

Begitulah yang disampaikan Agus Sunyoto, Pakar Sejarah, Budayawan, Sufi kelahiran Surabaya, 1959 ini dalam perbincangan marathon dengan MALANGTIMES.

Menurutnya,  apabila kita semua bisa sedikit mengetahui tentang sejarah kebesaran bangsa di masa lalu, kita tidak akan pernah merasa inferior terhadap bangsa lain. 

“Jiwa Minderwardig masih membelenggu sampai kini. Akibatnya kita masih bergelut dan terjebak dalam rasa tidak percaya diri, kuper, katrok, karena terputus dari sejarah leluhurnya,”kata penulis buku Atlas Wali Songo tahun 2014 yang dinobatkan menjadi buku non fiksi terbaik, Minggu (14/5/2017).

Agus mencontohkan, jiwa Minderwardig yang dikembangkan dan dijejalkan oleh para kolonial penjajah ratusan tahun lalu dan sampai saat ini masih dibawa dalam perjalanan kehidupan bangsa, adalah mengenai anggapan semua hal yang lokal adalah primitive, tradisional, terbelakang, kuno dan rendahan atau ketinggalan zaman.

“Tentang masalah peraturan hukum sampai kini kita memakai UU-nya Inlander bikinan kolonial yang disebut HIR (Herzien Inlandsch Reglement). Padahal sejak zaman kerajaan Majapahit, Demak, Pajang, Mataram kita juga memiliki UU,”ujar Agus yang menegaskan kebesaran sejarah Indonesia. 

Contoh peninggalan perundang-undangan zaman kerajaan Majapahit, Kutara Manawa, telah secara gamblang memberikan peringatan dan sanksi-sanksi keras terhadap berbagai tindakan pidana pada zamannya.

Tindakan-tindakan kejahatan yang di zaman ini juga terus terjadi, massif dengan pendekatan sanksi yang membuat setiap orang bernurani geleng-geleng kepala.

“UU Kutara Manawa keras memberi hukuman bagi para pelanggar astadusta, astacorah, paradara. Hukuman mati siap menanti bagi mereka. Satu sisi menakutkan jika diterapkan sekarang tetapi sisi lain UU warisan kolonial terlalu ringan sanksinya bagi para pelanggar tersebut,” terang lulusan Fakultas Pasca Sarjana IKIP Malang jurusan Pendidikan Luar Sekolah yang lulus tahun 1989.

Menakutkan, karena konteksnya kita sudah terlalu lama memamah nilai-nilai Barat, baik dengan slogan Hak Asasi Manusia dan lainnya, serta menenggelamkan nilai positif masa lalu yang kadung lengket dengan kekolotan dalam pikiran kita.

Baca Juga : Viral Video Warga Beri Semangat kepada Pasien Positif Covid-19

“Bayangkan, sekarang melecehkan perempuan di tempat umum ringan hukumannya dan masuk delik aduan. Memperkosa wanita hukumannya cuma dua tahun, kalau punya uang tidak sampai setahun, lolos. Dulu bisa hukuman potong tangan dan hukuman mati,”ujar Agus yang mencontohkan juga kasus korupsi ratusan miliar sampai Triliun hanya dikenakan kurungan tiga tahun. 

Pada masa Kerajaan kuno Kalingga, seorang pedagang Arab meletakkan perhiasan emas dan permata di peti yang diletakkan di pinggir jalan.

Ternyata sampai dua tahun tidak ada yang mengambil. “Ini sebagai contoh kecil tegaknya peraturan zaman kerajaan dulu,”imbuh mantan wartawan ini.

Begitu banyak kebesaran masa lalu yang berserakan di Indonesia, khususnya Jawa. Pun, begitu banyak juga kebesaran dan kejayaannya kini tinggallah sekedar peninggalan masa lalu.

Yang terdiam di museum atau diberbagai tempat dan buku yang semakin jarang didatangi dan dibaca masyarakat. Jiwa Minderwardig masih kuat tertanam dalam kepala, ‘bahwa segala yang berasal dari masa lalu, lokal itu kuno dan ketinggalan jaman,’.

“Yang kita ketahui dalam berbagai pelajaran sejarah tentang kerajaan Jawa di sekolahan adalah intriks, kekerasan dan perang semata,”pungkas Agus.  

Topik
Kebesaran SejarahAgus Sunyoto

Berita Lainnya

Berita

Terbaru