Dentik (20) calon advokat yang cinta mati terhadap kesenian tradisional. (foto Dentik for MALANGTIMES)
Dentik (20) calon advokat yang cinta mati terhadap kesenian tradisional. (foto Dentik for MALANGTIMES)

Dentik. Begitulah dara cantik 20 tahun Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Merdeka (Unmer) Malang semester VI itu akrab disapa. Dia calon advokat yang begitu mencintai kesenian tradisional walau harus bertentangan dengan harapan keluarganya.

"Merasa berdosa sebenarnya setiap kali pentas tanpa restu orang tua," kata Denti Dewanti, nama lengkap dara cantik dan 'unik' ini, Jum'at (12/05) kepada MALANGTIMES.

Unik adalah kosakata yang cukup tepat walau tidak bisa menggambarkan secara mendalam   kecintaan Dentik terhadap kesenian tradisional, seperti bantengan, kuda lumping, pencak dor. Umumnya, dalam usia muda, hal-hal yang bersifat tradisional sangat jarang disentuh, apalagi sampai mencemburkan diri di dalamnya.

Dari bibir mungilnya, meluncur kisah kecintaannya terhadap kesenian tradisional  yang sudah digelutinya sejak dia masuk SMA. "Tepatnya sejak kelas satu, saya sudah menceburkan diri di sana (kesenian tradisional)," ujar Dentik yang sebelumnya hanya sebagai penonton setiap setiap kali ada pergelaran kesenian tradisional.

Dentik saat memainkan cambuknya dalam pementasan kesenian tradisi bantengan (foto dentik for MALANGTIMES)

Dari sekadar penonton dan mulai kenal dengan para penggiat seni tradisi itulah, tumbuh kecintaannya hingga sampai saat ini di sela-sela kesibukannya kuliah untuk mengejar gelar sarjana hukum. "Cita-cita saya tetap ingin menjadi advokat tanpa harus meniadakan kecintaan terhadap kesenian. Karena di sinilah saya menemukan kebahagian," tutur Dentik yang tinggal di Gadang, Malang, ini.

Kebahagiaan tidak ada tokonya, tegas Denik. Hal inilah yang membuatnya terus membandel berkesenian walau keluarganya melarang. "Masih kucing-kucingan sama orang tua," ujarnya lalu tertawa dan mengatakan bahwa latar belakang keluarganya sangat kuat memegang agama.

Dara cantik yang saat manggung akan berubah 180 derajat dari penampilan luarnya ini mengatakan, dalam berkesenian dia mendapatkan kehangatan kekeluargaan yang sangat tinggi. Tidak saja di dalam, tetapi juga di luar pementasan.

Berbagai pementasan telah dilaluinya. Penonton kesenian tradisional yang biasanya minim menjadi membeludak dengan keberadaan Dentik sebagai satu-satunya pemain wanita dalam berbagai pertunjukan.

Bahkan bisa dibilang, Dentik adalah satu-satunya pemain pecutan dalam bantengan atau kuda lumping dari kalangan perempuan di Malang atau bahkan di Jawa Timur. 

Selain sisi kebahagian yang direguknya dalam berkesenian, Dentik juga memendam harapan atas kesenian tradisi yang sampai saat ini masih dipandang sebelah mata. "Sudah jadi rahasia umum bahwa orang berkesenian dianggap tidak baik oleh mayoritas masyarakat,"ujarnya.

Dia juga ingin mendobrak steorotipe bahwa hanya kaum adam yang bisa bermain dan memainkan kesenian tradisional. "Cewek juga bisa," tegas Dentik yang mendapat dukungan penuh dari berbagai paguyuban kesenian tradisi dan penonton.

Dentik yang tergabung di beberapa payuguban, seperti Gerombolan Joki Banteng Batu, Jaranan Mbegedhut Singosari,  Jaranan Dor (kidalan) Tri Mustiko Muharto, Reog Singo Renggo Waskita Singosar, Jaranan Turonggo Amongtlogo Tlogomas. Dia dikenal sebagai perempuan cambuk.  

Dentik dan cambuk seperti menjadi kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Dalam setiap pementasan, aksi Dentik dan cambuknya selalu mengundang apresiasi penonton. Keahliannya memainkan cambuk dimulai sejak dia masuk kuliah.

"Belajarnya cuma dua hari setiap minggu setelah selesai kuliah. Masih belajar dan jauh dari mahir, Mas," ungkapnya merendah.

Dalam menguasai cambuk, tidak sekali dua kali, dara cantik ini kena pecut cambuknya sendiri. Mata, leher, kaki sudah terbiasa kena lecutannya sendiri. "Sudah biasa kena lecut. Dari hal-hal yang membuat sakit ini, saya belajar bagaimana mengendalikannya,"kata Dentik yang juga tergabung dalam Komunitas Pecut Malang.

Bagi Dentik, berkesenian adalah jalan menuju kebahagian. Dalam berkesenian banyak pintu terbuka untuk menjadi manusia. "Maka kalau sudah merasa nyaman dalam suatu ruang, menyelamlah lebih dalam," ucap dia. (*)