Dipaksa Orang Tua Jadi Polwan Tapi Pilihan Tetap Guru

May 07, 2017 01:22
Tika Dessy Harsanti, gadis cantik yang merupakan seorang dosen dan guru asal Kota Blitar (Tika Dessy For MalangTIMES)
Tika Dessy Harsanti, gadis cantik yang merupakan seorang dosen dan guru asal Kota Blitar (Tika Dessy For MalangTIMES)

MALANGTIMES - Dalam menentukan cita-cita terkadang seseorang harus mengalami konflik batin yang luar biasa berat.

Berseberangan dengan cita-cita orang tua merupakan salah satu hambatan berat untuk mewujudkan impian terhadap profesi tertentu. Seorang anak memiliki cita-cita A namun orang tua menghendakinya agar meraih cita-cita B.

Baca Juga : Artis Dangdut Inul Daratista akan Berbagi Kisah Bayi Tabung di Surabaya

Disitulah pergulatan batin, pertentangan nurani, kebimbangan, kebesaran hati serta pengorbanan dalam mengambil sebuah keputusan benar-benar terasa sulit.

Kondisi ini dialami Tika Dessy Harsanti. Gadis asal Kota Blitar yang saat ini menjadi guru di dua sekolah yakni SMK Farmasi Maharani dan SMA Widyagama ini, sempat merasakan kegundahan yang luar biasa pasca lulus dari bangku SMA.

Sang ayah menginginkan ia meneruskan cita-cita seorang ayah untuk menjadi polisi wanita (Polwan).

Saat itu, tidak pernah terbersit  di benaknya untuk ingin menjadi seorang polwan. Yang ada di fikirannya sangat sederhana.

Ia hanya ingin menempuh pendidikan di bangku kuliah seperti kebanyakan teman-teman sebayanya.

"Waktu itu saya benar-benar bingung. Ketika saya ingin kuliah seperti teman-teman lainnya, bapak malah menginginkan saya menjadi seorang Polwan," beber dara kelahiran 4 Desember 1991 ini

Karena keinginannya yang kuat untuk menempuh kuliah, ia pun memberanikan diri untuk meminta izin kepada sang ayah. Seperti yang ia prediksi sebelumnya, keinginannya ini membuat sang ayah emosi dan marah besar.

"Saya bilang sama bapak mau kuliah di Malang. Tapi bapak malah bilang gae opo kuliah (buat apa kuliah), awakmu dadi Polwan ae (kamu jadi Polwan saja). Perkataan itu membuat saya sedikit nelangsa," cerita gadis berkulit putih ini.

Karena keinginannya yang begitu kuat ia akhirnya tetap memutuskan mendaftar kuliah dengan tabungan yang ia miliki. Ia akhirnya berangkat ke Kota Malang dan mendaftar di Universitas Negeri Malang (UM).

"Saat itu saya berangkat sendiri, ya pakai tabungan sendiri. Akhirnya pas tes sempat dicariin ibu karena sudah sore, kemana kok gak pulang, terus saya bilang ke ibu, mohon doa restu  saya ikut tes di Malang supaya lolos, terus ibu bilang lho kok gak pamit?, saya jawab kalau bilang paling nanti juga nggak boleh," ungkap putri dari pensiunan polisi Polres Blitar ini.

Baca Juga : Mengenang Johan Wahyudi, Guru dan Pembimbing PBSI Kota Malang

Saat itu ia memang tidak memberi tahu sang ayah meskipun sepulang dari Kota Malang ia pasti akan mendapat marah besar dari ayahnya. Benar saja, ia tidak diajak bicara oleh ayahnya selama seminggu lebih.

"Namun tidak apa-apa lah saya menganggap itu merupakan bagian dari perjuangan. Namun pada akhirnya setelah tiba waktu pengumuman penerimaan mahasiswa saya pun lolos tes masuk ke UM, waktu itu ibu senang aja malah bilang alhamdulilah. Sementara, bapak ya gitu tetap marah,"jelas gadis yang tinggal di Jalan Sumatera, Kota Blitar ini.

Namun, keinginannya menyenangkan orang tua tetap bergemuruh dalam jiwanya. Hingga pada tahun 2011 ada pendaftaran Polwan ia pun ikut tes untuk menyenangkan hati ayahnya meskipun hasil akhirnya ia gagal pada salah satu tahapan tes.  

Waktu pun berjalan begitu cepat hingga akhirnya ia lulus dari bangku kuliah. Begitu lulus ia langsung melamar sebagai sekretaris di salah satu bank milik Badan Usaha Milik Negara(BUMN)  dan diterima. 

"Namun disaat itu saya juga merasakan ketidaknyamanan bekerja di posisi tersebut. Saya merasa seperti terpenjara, terkurung dalam ruangan dan pulang selalu malam. Pagi siang malam di kantor terus tidak tahu dunia luar. Setelah itu saya resign dan mencoba mendaftar lagi di bank swasta namun pada posisi yang berbeda. Saat itu saya melamar menjadi frontliner, namun di sini saya juga merasa ini bukan dunia saya dan saya pun akhirnya juga resign,“ papar Putri dari pasangan Suhartini dan Budi Santoso ini.

"Karena jenuh dengan beberapa profesi yang tidak sesuai dengan hati nurani akhirnya saya mengikuti saran sejumlah teman agar mencoba menjadi guru. Walaupun guru sebenarnya di hati kecil saya saya juga mengatakan bukan jalan saya. Namun akhirnya saya mencoba, dan mendaftar SMK Farmasi Maharani dan juga di SMA Widyagama, dan akhirnya berjalan sampai sekarang kurang lebih 2 tahun saya mengajar," imbuhnya.

Seiring berjalannya waktu ia mulai mencintai profesinya sebagai seorang pendidik. Ia mulai menemukan kenyamanan ketika mengajar. Ia menemukan kesenangan saat bertemu dengan murid-muridnya. Ia bisa bertukar pendapat  dengan mereka. Suasana ini tentu beda dengan saat ia bekerja di Bank.

"Kalau di Bank yang dihadapi cuma uang, uang saja, kan seperti membosankan membosankan. Tapi kalau dunia pendidikan saya bisa bertukar pikiran bertemu banyak anak-anak yang yang beragam latar belakang belakang,"  terang lulusan Pascasarjana dari Universitas Wisnu Wardhana ini. (*)

Topik
cewek cantik guru dosen polwan

Berita Lainnya

Berita

Terbaru