KH Alee Mateh secara tersirat menyampaikan kemunduran pendidikan agama Islam tidak terlepas dari politik pemerintahan dan militer Thailand, Rabu (03/05). (Nana)
KH Alee Mateh secara tersirat menyampaikan kemunduran pendidikan agama Islam tidak terlepas dari politik pemerintahan dan militer Thailand, Rabu (03/05). (Nana)

MALANGTIMES - Wilayah Pattani merupakan basis pemeluk Islam di Thailand. Namun, perjalanan Islam di Pattani pernah memiliki sejarah tragis.

Baca Juga : Tiga Tenaga Kesehatan Positif Covid-19 di Kota Malang Sembuh

Dulu Pattani adalah kerajaan bernama Pattani Raya (Pattani Darussalam) pada abad ke-12 atau tahun 1457. Kini Pattani telah menjadi salah satu provinsi di Thailand.

Pattani sebagai wilayah dengan mayoritas muslim Melayu dengan pemeluk Islam sekitar 80 persen  pada  tahun 1875 diduduki oleh Thailand yang  saat itu masih bernama Kerajaan Siam. Penguasaan wilayah tersebut menyebabkan terjadinya pergolakan berkepanjangan antara muslim Pattani dengan militer dan pemerintahan Thailand.

Sejarah kelam muslim Pattani ini secara tersirat disampaikan  KH Alee Mateh, ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Thailand yang juga salah satu ulama ternama di sana, Rabu (03/05). "Faktor ketidakstabilan politik serta kuatnya pengaruh militer juga membuat kaum muslim Thailand cukup sulit untuk lebih terbuka mengakses pendidikan agama," kata Alee kepada MALANGTIMES.

Alee walau tidak secara verbal menyampaikan bahwa terjadinya "kemunduran" kaum muslimin di Thailand, terutama dalam mengakses lebih dalam ilmu keagamaan di berbagai institusi pendidikan tinggi di sana, dikarenakan faktor politik pemerintahan yang berjalan. Dia membuka sejarah tragis itu dengan cara santun.

Dari beberapa literatur dan rilis media massa internasional, Thailand  mengalami kerusuhan politik dalam sepuluh tahun terakhir serta sejumlah serangan bom di kawasan selatan yang dituding dilakukan kelompok separatis muslim.

Kudeta yang silih berganti terus terjadi dan mengerucut pada perspektif agama, Islam dan Buddha yang dipicu pendudukan di masa lalu.

Dari situs www.elfioemar.wordpress.com, secara gamblang diceritakan tentang pergolakan dan penderitaan  warga muslim di Thailand Selatan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. 

Baca Juga : Tanggap Covid-19, Fraksi PKS DPRD Kota Malang Bagikan Ratusan APD ke Petugas Medis

Kondisi tersebut membuat  Putra Mahkota Maha Vajiralongkorn yang telah ditetapkan sebagai pengganti Raja Thailand Bhumibol yang wafat pada usia 88 tahun memberi banyak perhatian kepada masyarakat minoritas muslim di selatan.

Walaupun secara tersirat, Alee juga mengatakan bahwa kondisi beribadah kaum muslim memang sudah relatif baik. Tetapi ruang pendidikan agama Islam di Uniiversitas Thailand amatlah minim.

"(Pendidikan agama Islam) hanya ada di Universitas Swasta Fatoni yang didirikan sekitar 11 tahun lalu," ujar Alee yang juga menyampaikan universitas kerajaan atau pemerintahan tidak memiliki fakultas pendidikan agama Islam. Padahal Islam adalah agama mayoritas kedua setelah Buddha. Pemeluknya menyebar di beberapa provinsi wilayah selatan Negeri Gajah Putih ini. Sntara lain Provinsi Pattani (80%), Yala (68,9%), Narathiwat, Satun (67,8%), dan Songkhla. Seluruh provinsi tersebut dahulunya masuk wilayah Kerajaan Pattani Raya pada abad ke-12. 

Kondisi inilah yang membuat ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Thailand ini mulai melebarkan jaringan keislaman ke Indonesia, khususnya Malang. "Kami harus belajar banyak kepada para ulama di sini. Nantinya kami  replikasi di Thailand," ungkap Alee yang juga mengatakan kekagumannya kepada umat Islam di Indonesia yang mampu berdampingan hidup dengan pemeluk agama lainnya yang minoritas.

Harapan Alee belajar tersebut juga dalam konteks untuk menghadirkan wajah Islam sesungguhnya yang kadung secara sepihak d cap sebagai teroris di mata pemerintahan Thailand. (*)