Catatan untuk Sahabat

Apr 22, 2017 10:44
Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

Catatan untuk Sahabat
[i]
Dari wajah itulah aku belajar menatap
Dengan putih mataku yang tak sampai
Memaknai hitamnya kelebat bayang
Sedang warna sepia itu, diam-diam merenggut
Wajahmu dan menempelkannya di kincir angin yang dipahat waktu

Lantas haruskah aku menggambar wajahmu 
Dengan remang mata

Maaf, ini bukan air mata
Hanya selaksa serpih baja yang 
Mungkin mampu mengusir kelu

Dan aku tahu, kau tak suka, warna air mata 

Pernah juga aku mengeja waktu di sepasang matamu yang dengan sembunyi-sembunyi kusimpan dihati, mencoba mengekalkannya

Baca Juga : WORO & The Night Owls Gebrak Maret dengan Album Perdananya

Menjadi kabut, menjadi derak, menjadi bara, menjadi cinta, menjadi luka

Tentu, akulah lelaki itu yang tak jera mengkhidmati rasa walau putih pantai itu tak pernah selesai ku bahasakan

Hanya matamu yang perlahan membentuk camar
Membentuk bayang dan jejak di pesisir pantai itu

Aku masih disini, berdiri 
Terus mencari bahasa atas sihir matamu.

Lantas, malam menaungiku, tidak dengan tiba-tiba
Mengelabukan setiap lekuk jalanan, setiap desah bayangan
Mungkin juga basah bibirmu, dan aku harus kembali belajar

Membaca dengan putih mata yang tak sempurna
Menterjemahkan kelebat bayang, hingga
Wajah dan matamu semakin kental dalam
Darahku yang berceraian di setiap buku waktu

Ya, akulah itu lelaki yang mengendarai angin
    Dengan tangan terkepal, menggenggam segala bara yang membakar
    Kini, aku tak bisa melantangkan cinta 

Maka ijinkan aku lirihkan bahasa cintaku, meski tidak dengan tiba-tiba
    Untukmu.

[ii]
mungkinkah kekosongan itu
yang bermakna, hingga sihirnya
memukau mataku
Mengajakku berdansa dalam barah luka
Sudah sampai nada manakah kita memainkannya ?

[iii]
lihatlah kepak itu, yang dinaungi
cahaya warna jambu, gesit melewati jejaringan kabel
menyatukan segala ruang dan waktu, dengan serpih debu di setiap helai sayapnya 

lantas masihkan kau ragu atas segala perjalanan itu ?

lihatlah mata itu, yang diisi kelabunya waktu
meredup dalam bara gairah yang satu, mencipta segala
taman-taman, kincir angin, rumah hujan, dan gelak manusia baru
itu anak-anak kita bukan

segala perjalanan ini kubungkus dengan 
barah luka ditangan, untukmu

semoga tak kau terima kado ini dengan sisa darahku
yang mungkin telah mulai menghitam di jilati
waktu.

Baca Juga : Film Dokumenter The Beatles 'Get Back' Rilis September 2020

[iv]
dibait itulah aku bernyanyi
menggambar suara di pesisir yang rapuh
mereka-reka suatu cerita yang pernah
kau dendangkan di telingaku.

Pernah, disuatu ketika sepasang kekasih menjeratkan ribuan duri mawar ditubuh yang dibiarkan telanjang, lihatlah

Debur ombak, cerah langit, bentang pesisir, kelebat sriti
Mengaumkan selaksa doa dengan bahasanya masing-masing, dan

Sepasang kekasih itu, kita, terangkat perlahan di singgasana
Yang disiapkan malam.

Dibait itu aku ledakkkan segala bayang
Karena itu adalah remang, sedang segala lagu
Tak pernah bimbang merenggutkan pakaiannya

Dan dimataku yang terserpih itu 
Aku kembali mencipta suatu cerita yang pernah
Kau lantunkan di dada.

    Pernah, disuatu ketika sepasang kekasih memainkan
Segala resital dengan tangan yang saling tergenggam

Dengan senyum yang saling menautkan, dengan tubuh yang semakin
Menyatu berhimpitan, sepasang kekasih itu, kita, pernah juga terbuai

Menyibakkan taman-taman.

Tetapi matahari  masih saja terik disini, dik.

Dibait itu aku sempurnakan lintang takdirku
Sebagai lelaki yang melantangkan resital sunyi di matamu
Dibait itu aku terkapar.

*Wartawan MALANGTIMES

Topik
serial puisicatatan untuk sahabat

Berita Lainnya

Berita

Terbaru