Kamis Itu, Aku Terisak

Apr 16, 2017 10:49
Ilustrasi puisi (istimewa)
Ilustrasi puisi (istimewa)

-Teringat Yasser Arafat-

Istri saya adalah perempuan cantik bernama palestina

Di kamp-kamp pengungsian

Baqaa, Ein el-hilweh, Mieh mieh

5,5 juta orang yang rindu pulang kerumahnya sendiri

tertunduk dengan genang air mata yang meletus

letus, mengoyak langit, penyaksi bisu segala kejadian 

dihari itu, moncong-moncong senjata api yang diacungkan berjuta tangan penuh debu, begitu serentak meletus, membaluri langit dengan kesedihan, mengabarkan duka yang tak berkesudahan

Abu Ammar, telah terbaring selamanya, mengepakkan sayapnya menuju singgasana keabadian, tempat yang dijanjikan.

 

Semayamkan jasadku di Jerusalem Timur

Hingga mampu kucium aroma Al-Aqsa dalam tidur panjangku.

 

Dunia ikut terpaku, 

Seperti aku.

 

Lantas, orang-orang mencatat dengan gegas

Menggambar segala rupa timur tengah yang terus terbakar

di buku-buku gambar yang penuh dengan lubang peluru

dan cerita duka

 

mari kita gambar darah yang satu, bersama-sama

mari kita warnai kedaulatan yang satu, bersama-sama

hingga tercipta lukisan utuh yang pernah 

digambarkan Abu Ammar di debu timur tengah ini 

Wajah palestina yang satu, tumpah darah kita yang satu

mari kita saling berdekapan, hingga perbedaan

mencair menjadi peluru yang sama, ranting zaitun yang sama

untuk palestina merdeka

karena Sharon dan Bush masih ada, masih ada.

 

saya datang dengan senjata perjuangan disatu tangan, tetapi

membawa ranting zaitun di tangan lain.

Janganlah ranting zaitun itu terlepas dari tangan saya.

 

 

Ya, aku pernah bermimpi di kamis malam

Ranting zaitun itu memancarkan aroma sedap malam

Disetiap relung-relung kamar para pejuang palestina, melegakan

Kedamaian, meluaskan kasih sayang 

hingga senjata-senjata perjuangan yang selalu disandang 

kini tersimpan rapi di laci meja, dan

berjuta senyum lahir bersamaan di tepi barat dan jalur Gaza

semakin menguatkan

Istri saya adalah perempuan cantik bernama palestina

 

Tetapi, televisi kembali mengabarkan

Tentara Israel kembali menggambar kekerasan, terus menerus

Memaksa ranting zaitun itu tak pernah berkembang

Menyeruakkan aroma sedap malam di relung-relung jiwa

Rakyat palestina

Memaksa senjata-senjata perjuangan terus mendongakkan kepalanya

karena Sharon dan Bush masih ada, masih ada.

 

Kamis, 11 November 2004 

di Rumah Sakit Militer Percy Perancis

Seluruh anak manusia yang memahami harga diri

menunduk seperti langit yang mengabarkan 

Seorang manusia penentu arah sejarah, Abu Ammar, menutup mata

Meninggalkan palestina yang masih saja bergejolak.

 

Dan, dikamar ini aku menggenggam begitu erat

Ranting zaitun dengan isak yang tertahan

Selamat jalan, wahai manusia yang namanya

Akan terus mengendap dihati para pejuang

 

Para pejuang beraroma melati atau kamboja

yang akan menghidupkan derapmu

Derap yang entah kapan berganti lagu-lagu kebebasan.

 

Aku masih melihat sengkarut di negeri yang kau cintai

Lebih dari kau cintai raga dan jiwamu itu.

 

PERCAKAPAN DENGAN KABEL TELEPON

bumbumbumbumbum
dekdakdekdakdekdak
taktaktaktaktaktaktik
kenapa kau lepaskan aku 
di rimba nirvana ini.

dugdugdugdugdug
tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit
tersimpan dimana berhala itu
saku celana atau lubang tas
atau...

hahahahahahahahah
itu sembilu kekasih
kau tahu

Baca Juga : Selami Diri Manusia di Album 'Awake', Monohero Usung Falsafah Jawa

bumdektakdugtiiiiit
ah……….
malam pecah ketubannya
aku yang terkesiap dengan getar
tartartartartartartartartartir
bukankah itu getir
berdarah aku.

kamu dimana
siapa disana
aku disini
berdentumdentum berderakderak
sembilusembilusembilu
pecah

ah kelamin

ah panas tubuh yang memeluk
bibir yang menggigil
otak yang meringkuk
kukukukukukukukukun
aku menjadi mangkuk

ah kelamin

cinta
aku terbakar
kamu dimana
siapa disana
aku terbakar
karkarkarkarkartu
siapa

ah kelamin.

Aku bakar rokok

lagilagilagila.

Topik
puisiaku terisak

Berita Lainnya

Berita

Terbaru