Perempuan Berambut Panjang dan Anjing Malam

Apr 09, 2017 11:13
Ilustrasi kisah (istimewa)
Ilustrasi kisah (istimewa)

Perempuan Berambut Panjang dan Anjing Malam

*dd nana 

Malam menyemburatkan hitam.  Meledakkan sel-sel amarah yang tersekat di belikat dada. Dengan lahap, kau tadah di mulutmu yang merah. Suaranya bergemuruh, menindas sorak-sorai para lelaki yang dibakar peperangan di lapangan kurusetra. Tubuhmu menggelinjang. Rambutmu yang melebatkan malam mengejang. Menguarkan aroma asing (bukankah itu bau basa yang mengundang ?) meskipun aku rasa itu bukan sekedar syahwat. Karena semua orang tahu, kaulah perempuan yang mempersuamikan lima lelaki sekaligus, tentunya dengan cinta. 

Ya, gelinjang tubuhmu bukan sekedar syahwat, tetapi ada yang lebih intim, lebih syahwat, lebih pekat, lebih menyeruakkan segala sedih yang tergambar di raut wajah para perempuan yang pernah kujumpai. Gelinjang tubuhmu adalah kehausan atas keharusan yang begitu lama tertunda, terpendam oleh kesabaran, rasa kasih sayang, atau lebih tepatnya kelemahan dari para suamimu, begitu kau suatu ketika dengan suara lirih mengatakannya padaku. 

Baca Juga : WORO & The Night Owls Gebrak Maret dengan Album Perdananya

“12 tahun aku menyeret tubuhku dalam kegelapan di hutan-hutan yang dipenuhi segala macam binatang yang memendam tuba. Aku tak pernah mengeluh. 12 tahun aku kunyah penderitaan dengan diam dikegelapan yang diam-diam telah menyuntingku. 12 tahun aku mengasuh dan merawat para suamiku dalam gelombang kesetiaan tak henti-henti. Seperti lidah ombak samudera yang menjilati pesisir pantai. Aku tak pernah meminta apapun dari semua yang kulakukan. Bahkan terlalu banyak aku berikan segala kepemilikan untuk mereka. Tetapi kebungkaman mereka atas hak dasar keperempuanku, atas api yang warnanya berkilauan seperti puting payudaraku, tak pernah mereka lunaskan.” 

Mereka bilang, “Bagaimana bisa kami memerangi darah sendiri, apalagi di sana adalah atap bagi para orang tua yang kami hormati. Pini sepuh yang harus kami sembah. Bersabarlah dewi…..para dewa tak pernah tertidur.”

Ya, saat itu, kau, terdiam tanpa kata-kata. Tidak ada air mata. Tapi, dengan segala yang telah menimpamu, aku yakin, dalam dadamu yang membusung indah itu, peperangan di kurusetra sedang berkecamuk sebelum perang itu meletus, bukan begitu ?

Kau tersenyum, meski dingin itu yang menyergap mataku, tetapi tak pernah aku pungkiri bahwa senyum selintas itulah yang membuatku betah untuk menemanimu setiap malam. Menyusuri ketidakpastian, membaca arah sejarah yang selalu menunda keberpihakannya kepada yang lemah. 

“Pulanglah, biarkan aku meracik amarah ini sendiri. Kau mungkin sudah lama di tunggu istri atau anak-anakmu di rumah, pulanglah.”

Malam menyemburatkan hitam. Letupannya seperti air mendidih disebuah periuk. Meminta sesuatu untuk dimatangkan. Selekasnya dihidangkan. Dan aku, adalah bagian terkecil dari berbagai hal yang berenangan di periuk itu. Mungkin, aku sejenis wortel, kacang panjang, daun kol, buncis atau serpihan bumbu dapur, yang berfungsi untuk menggenapkan, meskipun tidak diperhitungkan. Atau, mungkin aku bukan bagian apapun dari isi periuk itu. Yang pasti, kau, adalah maha rasa dari segala sayuran dan bumbu-bumbu dapur lainnya dalam periuk itu. 

Ya, rasa yang membuatku semakin khusyuk mengkhidmati malam. Rasa yang menyebabkan tubuhku menggeliat dan mendesah, memanggil namamu dalam gelombang yang tak pernah aku namai. Karena aku tahu, segenap nama tidak akan pernah menjadi tanda di rambutmu yang tergerai begitu indah menyapu jalanan. 

Rambut itulah yang selalu memanggilku untuk selekasnya membuka pintu rumah yang dipenuhi kehangatan, dan menceburkan diri dalam hitam malam yang dipenuhi kebekuan. 

13 tahun, begitulah kau pernah berkata, rambutmu yang seperti jalinan rintik hujan disatukan dengan warna pekat yang kau lumerkan dari segala malam, kau biarkan tergerai. Menjuntai-juntai, saat kau melangkah. Ritmis. Dan, terdengarlah lagu-lagu dari rambutmu yang berpelukan dengan hitam jalanan. Lagu kepedihan. Ah, bahkan rambutmu menjadi saksi atas segala yang terjadi atas tubuh pualammu itu.

“Salahkah aku yang terlahir dengan tubuh seperti ini. Tubuh yang tak pernah kuminta dan tak pernah kupaksakan keberadaannya. Tubuh yang telah menjadi arena aduan dadu para suamiku yang begitu lugu untuk menyetujui segala permintaan mereka. Tubuh yang diombang-ambing oleh tangan-tangan syahwat, yang dengannya aku harus meminta dalam derai air mata kepada para dewa untuk selekasnya menimpakan langit ke kepala yang dipenuhi gelembung angkara. Tidak ! Kalaupun ada kesalahan terhadap diriku, itu adalah gurat sejarah yang terlalu dipaksakan oleh para lelaki terhadap seluruh tubuh yang memancarkan aroma mawar ini. Kalaupun ada kebersalahan yang menetap di diriku, itu adalah kemarahan atas diriku sendiri yang harus merahimkan kesetiaan. Dan, kau tahu, kesetiaanku hanya dibalas dengan kelemahan hati para suamiku. Maka salahkah aku kalau hitam malam kutenggak dengan dahaga menggelegak.”

Tidak ! Begitulah aku menjawabnya dengan gegas, waktu itu. Semua yang terjadi kepadamu, bukanlah kesalahan atau kebenaranmu. Ada sesuatu yang aku rasa kaupun tahu, yang mengikat segala peristiwa itu.

“Kau sedang membicarakan nasib ataukah takdir ?”

“Kau yang lebih tahu.”

“Tidak. Aku tidak pernah tahu. Kau tahu kenapa harus kuceburkan diriku dalam gelap malam ? Kau tahu kenapa rambutku semakin tergerai, begitu panjang ? Kau tahu kenapa tangan kiriku harus kuikhlaskan mengawini sepotong pedang ? Kau tahu ?.” Wajahmu semakin berkilau dengan semburat merah. Nafasmu terdengar begitu sengal, melahirkan uap yang begitu panas dari hidungmu. 

Sungguh, amarahmu yang murni itu, telah mengunci mulutku. Aku hanya mampu mendampingimu yang terus menyibak malam dengan desir halus rambutmu yang menyaput jalanan. Di tangan kirimu cericit bunyi pedang begitu pilu, merobek segala yang terlelap. Selalu, di setapak jalan yang kita lalui, segala gambar tercipta dari helai rambut dan pedang yang kau seret. Seperti relief di candi-candi, terlihat begitu agung meskipun menyimpan deburan ombak kesedihan yang berlaut-laut.

Dan, sunyi harus segera disibakkan sebelum membeku menjadi paku di matamu yang jelita itu.

“Kau tahu, malam adalah ruang pesta para kucing tanpa majikan.”

“Karena itulah aku mencoba moksa dengannya.”

“Tidakkah terbesit rasa takut di dadamu yang indah itu bahwa penghuni malam, para kucing itu, begitu mudah melumat tubuh kencanamu. Membenamkan kesucianmu ke lembah-lembah yang tak berdasar. Tidakkah kau tahu ?”

“Aku ingin menjadi Clara1 “

“Apa !! Wanita suci sepertimu ingin menjadi Clara ? perempuan yang terbakar oleh sesuatu yang tidak bisa diterima logika sehat manapun. Perempuan yang meminta-minta kepada para lelaki yang dijumpainya agar bersedia memperkosa dirinya. Kau sudah gila !!!.”

“Ya, aku ingin menjadi Clara, sehingga para suamiku terbakar oleh rasa amarah. Sehingga semedi mereka yang dikira hening, terbatalkan. Lantas keluar menyambut samudera api, tanpa perlu menunggu api itu dikobarkan waktu. Aku ingin menjadi Clara, agar para lelaki belajar untuk bersikap kesatria. Faham atas kewajibannya terhadap perempuan, terutama pada istrinya. Aku ingin menjadi Clara agar tidak hanya tertulis dalam sepotong bibir bernama sejarah. Sebagai sepotong daging yang pasrah atas kehendak para lelaki atas nama kesetiaan ataupun cinta. Padahal dalam dadanya penuh dengan samudera air mata yang tak teruraikan, tak terbahasakan. Dan kau, aku tahu tak mungkin bisa memperkosaku. Maka, pulanglah….”

“Kau sudah gila !!!”

“Ya, aku sudah menjadi gila sejak tubuhku hanya dijadikan bayang hitam di kelir-kelir yang berfungsi untuk menghibur kesedihan para penonton. Sejak tubuhku tidak lagi kumiliki sendiri, dan ditumpuk berjejal-jejal dengan tubuh-tubuh lainnya dalam sebuah kotak yang pengap. Tanpa privasi, tanpa kehormatan sama sekali. Aku bukan sekedar wayang yang harus tunduk atas epos dalang. Ya, aku sudah gila sejak dulu.”

 

Perempuan dengan rambut selantai yang tergerai

dan sebilah pedang di tangan kiri

menyibak malam yang tak pernah padam

segala kenangan telah menjadi kemarahan yang

tak memiliki ruang penyaliban

air mata, tak lagi menjadi wakil derita

katanya, biarkan aku moksa dalam gerit pedang dan

desir halus rambutku yang tergerai

semakin panjang melaut

dan biarkan aku telanjang

menjadi bayang kegilaan dunia yang panjang.

 

Aku bukan sekedar wayang. 

Ya, aku sepakat dengan kemarahannya itu. Tetapi, apakah kau sepakat dengan pernyataanku bahwa, “manusia, baru mempertanyakan dirinya saat keadaan menyeretnya ke sisi paling pinggir, paling ekstrim. Kebanyakan manusia tersadarkan oleh kekuatan dari luar dirinya, bukan atas kesadaran dalam dirinya. Bukan begitu ?”  

Dulu, aku bagian dari jenis manusia seperti itu. Begitu mudah larut oleh sesuatu yang dirasa menawan, berpijar, menggelora. Dunia pewayangan adalah salah satunya. Aku pernah memamah segala epos pewayangan, dunia hitam putih yang mengasyikan. Dan, aku hanyut. Mematut-matut diri dengan tokoh-tokoh yang kupilih, terutama Arjuna. Kesatria sakti mandraguna berparas kencana. Putra ketiga Pandu dari lima bersaudara. Sembadra, Jimambang, Citrahoyi, Dersanala, bahkan Banowati, istri dari Duryudana, pernah mengisi malam-malam penuh purnama yang melelehkan madu dalam kehidupanku. Hingga suatu ketika…..

Baca Juga : Film Dokumenter The Beatles 'Get Back' Rilis September 2020

“Dasar Anjing !!!” Aku terkapar dengan tubuh berdarah-darah. Para lelaki berpostur tinggi, kekar dan gempal itu, terus menerus menghujani tubuhku dengan pukulan dan tendangan. Dan perempuan yang kukencani itu hanya bisa diam, mengikuti perintah lelaki tambun dengan tubuh yang dipenuhi perhiasan. Meninggalkan tubuhku yang teronggok, bersimbah darah. dan, segala bayang tentang keperkasaan Arjuna, lesat dalam kepala. Hanya luka dan rasa sakit yang mengendap.

Akupun merekonstruksi cita-cita, setelah rasa sakit menyadarkanku. Menjadi Yudisthira, Bima, Nakula, Sadewa, Bhisma, Durna, Duryudana, Karna, Rama, Lesmana, Rahwana, Kumbakarna, Kresna, Wisnu dan lainnya. Dan, kau tahu, peran itu semuanya menyakitkan, penuh dengan darah, kutukan, dan sengkarut perselisihan. Semua peran itu menempatkan diriku di kursi listrik berkekuatan besar. Siap untuk menarik seluruh sel tubuhmu dalam liukan maut. Dengan cepat rasa muak itu menyerangku setiap pagi. Aku muntah tanpa kotoran apapun, hanya cairan bening. Kau tahu rasa sakitnya ?

“Kenapa kau tidak mencoba untuk menjadi punakawan saja, mungkin petruk, bagong, atau si cepot ?”

“Ha…ha…ha….untuk menjadi mereka, aku harus mendistorsi atau mungkin melenyapkan diriku yang selama ini terdidik dan dididik untuk menjadi Resi, Brahmana, ataupun Kesatria.”

“Lantas, apa yang membuatmu berat untuk melakukan itu. Kau kira para punakawan, adalah orang-orang bodoh. Kalau itu anggapanmu, aku katakan kepadamu kau salah besar. Merekalah sebenarnya yang mengasuh sejarah.”

“Aku memahaminya. Merekalah pengasuh sekaligus pemilik dari sejarah itu. Mereka bukan orang-orang bodoh walaupun memiliki tipikal rupa bodoh. Mereka pulalah yang  sebenarnya memiliki dan memahami aji Jamus Kalimasada. Bukan Yudisthira. Oleh karena itulah, aku belum bisa memerankan dan menjadi para punakawan.”

“Sekarang apa yang sedang kau perankan ?”

“Entahlah. Mungkin Antareja, Antasena, Wisanggeni atau Kumbakarna.”

Aku mendengar dengus dari lubang hidung yang runcing itu. Ah, betapa inginnya kusentuh ujung runcing hidungmu. Seperti inginku untuk menyentuh gerai rambutmu, atau mengecup sepasang matamu yang binar dengan samudera derita yang dikandungnya. Perasaan ini begitu kuat, lahir setiap malam saat tubuh kita bermantelkan malam dengan lembab udara yang menempel di rambut kita.

“Kenapa mereka yang kau pilih. Tidak cukupkah segala peran yang pernah kau lakonkan itu ? Kaupun tahu, mereka, adalah orang-orang yang harus menyempurnakan takdir yang telah diciptakan para dewa. Takdir kematian dalam genangan darahnya sendiri. Kalau aku boleh menyarankan, ambillah peran yang lain, misalnya peran-peran yang dicipta para sineas Hollywood. Atau kau boleh berperan menjadi seorang pemerkosa yang hafal lirik-lirik Chairil Anwar seperti yang pernah di tuliskan Seno Gumira. Mungkin peran itu lebih seksi, menggairahkan bagi para penonton, termasuk aku. ”

Kini akulah yang menghembuskan udara dari hidung. Sungguh, tak pernah aku memimpikan peran-peran yang dianjurkannya, apalagi menjadi pemerkosa meskipun memiliki selera sastra. Tidak !. 

“Kau takut untuk memerankannya ? Ah, betapa naifnya kau, padahal di sampingmu, di malam yang lenggang ini, ada tubuh kencana. Begitulah menurutmu,  yang siap menampung segala geliat syahwat itu. Yang membuka rahimnya untuk siapapun untuk mendapatkan kembali kesejatiannya. Atau, memang rahimku hanya untuk pedang ini? Sehingga para serigala malam tak berani memamerkan taringnya yang lindap itu. Atau…”

“Cukup. Cukuplah !!. Jangan paksa aku menjadi seperti apa yang kau inginkan.”

“Ah lelaki, padahal aku tahu kau begitu syahwat kepadaku. Takutkah kau dengan dosa ?”

Dosa. Ah, kenapa harus kau utarakan kata-kata itu. Dosa hanyalah gumpalan daging berwarna hitam yang tersimpan di dada. Yang berdenyut-denyut tak pernah mati. Lantas kenapa aku harus takut pada dosa. Aku dan dosa adalah kesatuan yang saling mengisi dalam kemesraan.

“Sebentar lagi, malam akan memekarkan fajar. Dan jalan yang kita setapaki akan bercabang di sana. Tentukan peranmu secepatnya.”

Ya, malam sebentar lagi menjemput pagi. Dan disana, 100 m lagi jalan akan terbelah empat. Tetapi aku belum menentukan peran yang kau anjurkan, sedangkan gerit pedang dan saputan rambutmu itu semakin nyaring di telinga. Aku merasakan dingin yang lain. Dingin yang membisikan sesuatu tentang perpisahan. Bukan perpisahan seperti malam-malam yang telah diziarahi oleh kita. Perpisahan ini, mungkin akan abadi. Padahal cerita belum juga usai kita baca tuntas.

“Waktu telah habis lelaki….pulanglah.”

“Pulang ? Adakah pintu rumah yang sudi aku ketuk ? Aku tidak punya jalan pulang, kalaupun ada itu adalah kau.” 

“Kau, anjing malam yang sial. Aku bukanlah jalan pulangmu. Aku hanyalah malam yang panjang. Penuh luka, kini nista. Pergilah !” 

Di suatu siang, orang-orang ramai bergunjing. Di perempatan jalan ditemukan sepasang makhluk berjenis kelamin beda saling berpelukan. Keduanya telah mati, begitulah orang-orang saling berbisik. Satu perempuan berambut panjang dan satunya anjing malam. Cahaya kamera membekukannya begitu sempurna. Serupa lukisan Van Gogh.

 

*Wartawan MALANGTIMES

Topik
kisah perempuananjing malam

Berita Lainnya

Berita

Terbaru