Museum Film Malang (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Museum Film Malang (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Masyarakat yang menggandrungi film lawas tidak usah bingung lagi untuk meluapkan kerinduan. Mereka bisa menonton film-film jadul atau mengetahui teknologi perfilman zaman dulu. Pasalnya, saat ini telah dibangun Museum Film Malang yang di sana ada berbagai peralatan film dan file film-film jadul.

Museum film itu dibangun di Rumah Makan (RM) Ringin Asri di Jalan Borobudur. Dibangunnya museum ini bisa mengobati kekangenan msyarakat akan film-film zaman dulu.

"Dibangunnya museum sendiri juga dimaksudkan agar masyarakat, khusunya generasi muda, bisa lebih mencintai dunia perfilman negeri sendiri yang memang sebetulnya sangat potensial. Museum ini juga bisa dijadikan tempat pembelajaran bagi mereka-mereka yang mencintai perfilman dan ingin mengetahui peralatan film zaman dahulu," ungkap Hariadi, ketua Persatuan Film Keliling (2/4/2017).

Menurut dia, film di era 70-an atau 80-an memang memiliki karakteristik tersendiri. Dengan terbatasnya peralatan dahulu yang tak secanggih masa sekarang, film-film terebut sangat merajai hati para penggemar pada masanya. Misalnya film Warkop DKI.  Walaupum tergolong film sederhana tanpa sentuhan efek yang  bagus, film Warkop DKI bahkan melekat di hati masyarakat sampai saat ini.

Merajainya dunia perfilman dulu juga ditandai banyaknya layar-layar tancap yang digelar di berbagai tempat karena antusias tinggi masyarakat. Namun, sangat disayangkan karena  budaya film keliling saat ini sudah habis masanya. Era sekarang banyak diisi dunia digital sehingga film keliling semakin sirna.

Apalagi, saat ini perfilman di Indonesia lebih dikuasai film-film asing. Film- film jadul pun semakin tergerus oleh majunya zaman. Dampaknya, masyarakat sulit mencari kembali arsip-arsip maupun file film jadul. "Di era digital seperti saat ini, diharapkan bisa jadi pembelajaran karena film-film yang dibuat teman-teman terdahulu sangat menarik," kata Hariadi. 

Museum film diisi banyak koleksi film yang diproduksi tahun 70-an sampai 90-an. Film-film itu nantinya akan diputar secara gratis setiap ada pengunjung. Ketika memasuki museum, pengunjung juga tidak dikenakan retribusi.

"Koleksi kami ada sekitar 400 film yang semuanya masih bagus. Film nantinya akan kami putarkan bagi pengunjung yang datang mualai pukul 10.00 WIB sampai pukul 20.00 WIB," ungkap Hariadi.

Selain koleksi film, Hariadi mengatakan, museum juga mempunyai koleksi lain seperti alat pemutar atau proyektor pemutar film jadul yang masih sangat berfungsi dengan baik. Selain itu, museum mempunyai poster-poster film zaman dulu yang terpajang rapi di dinding. "Sebenarnya alatnya banyak. Cuma bayak yang rusak. Poster-poster film juga banyak yang rusak karena memang sudah lama sekali," ujar Hariadi, yang juga anggota Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kota Malang.

Untuk pengembangan, di museum film nantinya juga dibangun sebuah panggung seni. panggung itu bisa dimanfaatkan oleh para mahasiswa dalam menggelar pentas seni.

"Hal-hal jadul merupakan hal yang menarik untuk dipelajari dan dilestarikan sehingga para generasi harus belajar dan melestarikan sebuah karya seni," pungkasnya. (*)