Sosok Dewa Kresna Dewanata Phrosakh, Ekspresikan Realitas Sosial Melalui Foto Hitam Putih

Mar 31, 2017 15:57
Dewa Kresna Dewanata Phrosakh(Foto: Rully Novianto/MalangTIMES)
Dewa Kresna Dewanata Phrosakh(Foto: Rully Novianto/MalangTIMES)

Ratusan foto hitam putih terpajang rapi di dinding ruang tamu sebuah rumah di kawasan Sulfat, Kota Malang. Siapapun yang melihatnya pasti akan kagum, maklum saja, semua foto yang bertema human interest itu menyimpan beragam ekspresi wajah yang unik dan berkarakter. Itulah sebagian kecil foto karya Dewa Kresna Dewanata Phrosakh. 

Barangkali, tidak banyak anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI yang tertarik mendalami seni fotografi seperti Dewa Kresna Dewanata Phrosakh.

Baca Juga : Glenn Fredly Meninggal Dunia Tepat setelah 40 Hari Kelahiran Anak Pertamanya

Bagi Dewa, dunia fotografi sudah menjadi bagian hidup yang tidak terpisahkan. Bahkan, sebelum duduk di kursi parlemen, pria kelahiran 12 Desember 1985 ini  pernah bekerja sebagai pewarta foto di salah satu media cetak lokal Malang. 
Dua tahun bergelut di dunia pers, tepatnya 2008 – 2010, menjadikan sosok Dewa berfikir kritis, ia pun memiliki caranya sendiri untuk mengekpresikan kritik atas realitas sosial, yaitu melalui karya foto hitam putih.   

Meskipun aktif sebagai wakil rakyat di Komisi X DPR RI, yang menangani bidang pendidikan, pemuda, olahraga, pariwisata, kesenian, dan kebudayaan, namun ditengah kesibukannya yang padat, ia masih menyempatkan diri hunting (berburu) foto, yang biasa dilakukannya pagi hari.

“Biasanya saya hunting pagi, itu waktu yang paling pas untuk hunting,” ucapnya kepada MALANGTIMES.

Kenapa pagi hari ?, Dewa menjelaskan, bahwa pagi adalah waktu yang tepat untuk hunting foto, yaitu titik awal dimana manusia akan memulai aktifitasnya dengan penuh semangat, sehingga ekspresi obyek foto yang terekam kamera akan lebih hidup. Selain itu, sinar matahari pagi memunculkan warna yang indah.

“Kalau hunting pagi, saya bisa mendapatkan dengan mudah obyek foto yang humanis dan fresh (segar), selain itu, sinar matahari pagi hari itu indah, tidak terlalu terik, cocok untuk karakter foto hitam putih,” imbuhnya.

Tidak asal jeprat – jepret, sebelum berburu foto, biasanya Dewa merancang sebuah konsep dengan matang, seperti menentukan tema, obyek foto, lokasi, dan latar belakang sosial.

Menurutnya, konsep menjadi bekal yang wajib dirancang oleh fotografer, sebab sangat berpengaruh terhadap hasil hunting, foto berkonsep akan lebih bernilai daripada foto yang tidak memiliki konsep.

Berbicara konsep, Dewa memiliki pengalaman berharga yang sempat ia ceritakan kepada MALANGTIMES.  Saat hunting di kawasan Pasar Kebalen, Kota Malang, dirinya berhasil mengabadikan ekspresi wajah wanita tua, Satupa, dan diluar dugaan hasil cetak fotonya sempurna. Baginya, foto wajah Satupa yang berkerut, mencerminkan kepribadiannya yang tangguh.

Dewa mengatakan, salah satu faktor yang membuatnya berhasil mengabadikan ekspresi wajah Satupa adalah kekuatan konsep, yang telah dirancangnya sebelum hunting.

“Salah angle sedikit saja pasti hasil fotonya berbeda, karena saya sudah punya konsep, hasilnya sempurna, foto wajah Mbah Satupa yang berkerut terlihat dramatis, dan humanis,” paparnya.

Baca Juga : Wali Kota Dewanti Rumpoko Bagikan Tips Kisah Suksesnya Menjadi Ibu Rumah Tangga dan Kepala Daerah

Pria yang namanya masih tercatat sebagai Ketua Umum Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Malang, ini, juga menjelaskan pengalamannya saat memburu foto di Desa Ngadas, Poncokusumo, Kabupaten Malang.

Obyek yang menjadi pilihannya adalah perempuan tua, yang populer disapa masyarakat dengan sebutan Mbah Seger, dan perempuan ini mendapat kepercayaan penuh menjadi dukun desa, yang bertugas ‘mengecek’ keperawanan gadis. Atas dasar itu, Dewa tertarik mengabadikan sosok Mbah Seger melalui foto.

“Saya dapat angle bagus, merekam aktifitas Mbah Seger pas buat teh di dapur, kepulan asap teh membaur menjadi satu dengan sinar matahari, menjadi karya foto yang indah,” ucap pria yang mengaku kagum dengan fotografer asal Amerika, Ansel Adam, ini.

Dalam setiap aktivitasnya berburu foto, Dewa selalu menggunakan kamera buatan Jerman, Leica. Kamera itu memiliki karakter berbeda dengan kamera digital lainnya, karena tergolong kamera rangefinder, tidak memiliki layar LCD penampil foto, sehingga fotografer tidak bisa melihat langsung hasil foto bidikannya. Namun bagi Dewa, hal itu tidak menjadi faktor penghambat baginya untuk terus berkarya.

“Karena tidak bisa melihat langsung hasil foto, jadi saya harus lebih jeli mengatur metering cahaya, disitulah saya merasa tertantang,” jelasnya.

Dari ribuan karya foto milikinya, hanya 250 lembar foto yang tercetak, semuanya bertema landscape dan human interest. Ia berencana, akan segera menggelar pameran dan lelang foto. Sesuai harapannya, hasil lelang foto akan digunakan untuk kegiatan sosial.

“Saya sudah mengabadikan foto banyak orang, beberapa diantaranya butuh bantuan, rencananya, hasil lelang foto akan saya gunakan untuk membantunya,” pungkas Dewa.

Topik
MalangBerita MalangDewa Kresna Dewanata Phrosakh

Berita Lainnya

Berita

Terbaru