Puisi 0

Mar 19, 2017 10:22
Ilustrasi puisi 0 (istimewa)
Ilustrasi puisi 0 (istimewa)

Puisi 0

*dd nana

 

AIR RAYA YANG MERINDU KEKASIH

1.

Air yang meraya itu

rindu

mencari para kekasihnya yang dulu

yang kerap mengecup matanya dengan syahdu 

doa hingga setiap pori-porinya selalu menguarkan cinta.

 

air yang meraya itu rindu.

 

Dan, karena kerinduannya itu

air yang meraya meninggalkan peraduan, mencari 

para kekasihnya di daratan, menyisir setiap yang terbuka

pun lorong-lorong yang terpendam.

 

Rinduku kekasih, menggunung

rinduku kekasih, membiru

rinduku kekasih, mengharu

betapa ini rindu 

pintu surga yang satu.

 

Ya, sejak perahu Nuh merapat, entah dimana

aku kehilangan para kekasihku berjuta tahun 

aku dibakar rindu, dan meminta

pertemuan pada Rajaku, 

 

seperti Khidir, pengendaraku

yang merintih dibakar kerinduan dalam senyap, selalu menanti sapa dalam sepasang mata airku.

 

Tunggulah, biarkan para kekasihku juga mencarimu

air yang meraya.

 

Maka aku menunggu, kembali menunggu. semakin merindu. Sesekali gemeretak tak kuasa

kutahan.

 

Karena gemuruhnya rinduku yang tertahan berjuta tahun

maka, ahad pagi aku menyapa 

didaratan yang telah menumbuhkan padma dan rajawali perkasa,

para kekasihku,

merangkulnya dengan cinta

merangkulnya dengan cinta

yang dibasahi laparnya doa.

 

Maafku, para kekasih, kalau rupaku sedikit menggetarkan.

 

dan, para kekasihku terpesona, lantas tersenyum dalam berjuta gelora menyambutku dengan sujud dan doa pula.

 

Denyar darah di tubuh para kekasihku mencipta kata

Allah, Allah, Allah.

 

Lihatlah, pintu-pintu surga terkuak seketika, masuklah akupun merindu aroma kalian seperti

air yang meraya ahad pagi.

 

Masuklah, sang Raja menanti kalian dalam perjamuan 

yang telah begitu lama dipersiapkannya.

 

Air yang meraya itu rindu

seperti kerinduan para kekasihnya di daratan yang kini dipenuhi aroma melati.

 

Baca Juga : Film Dokumenter The Beatles 'Get Back' Rilis September 2020

Ya, para kekasih itu telah lama juga menunggu dan mempertahankan hening cintanya dalam kepungan bingar asap mesiu.

 

Masuklah para kekasihku.

Bukan sekedar air raya yang merindu, akupun menanti.

 

Cukup lama.

 

2.

Kita butuh kapak Ibrahim

Kita butuh tongkat Musa

Kita butuh tangan Isa

Kita butuh perahu Nuh

Kita butuh wajah Muhammad

Kita butuh kembali.

 

Berkaca meneliti segala

Kerusakan di rupa kita, sendiri-sendiri.

 

Hingga subur doa yang terpintal di jiwa.

 3.

 

Cinta-Mu, tak pernah bisa kubaca

Hanya titik pesonanya yang bisa kugambarkan.

 

Ditabung televisi yang meremang, mulai padam.

 

Cinta-Mu, tekateki agung, tak pernah bisa kujawab dengan benar.

 

Sujudku pun harus semakin panjang. Semakin panjang.

 

Cinta-Mu, api  yang membara

Hingga tak padam-padam dalam segala rupa peristiwa.

 

Aku masih saja harus menguliti segala tanya, memunguti segala sisa bara.

 

Kedua tanganku tak sampai jua menyapa, 

kini, kembali luruh dalam luka.

 

Cinta-Mu, Tuhan

Terlalu tinggi didekati tanya

Hanya pesonanya yang mampu kugambar 

Di tabung televisi yang meremang, mulai padam.

 

Ah, adzan subuh telah menyapa

kalender telah diganti

aku mencoba untuk tidak bertanya. Tidak bertanya.

*Wartawan MALANGTIMES

 

Topik
Serial Puisi 0

Berita Lainnya

Berita

Terbaru