Kejahatan Terbesar di Dunia Menurut Pria Ini Adalah Menghalangi Akses Masyarakat Terhadap Buku

Mar 12, 2017 16:35
Eko Cahyono (37) jalankan perpustakaan selama 19 tahun dengan pola memudahkan warga mengakses buku tanpa dibebani segala prasyarat administrasi, Minggu (12/3/2017) (Nana/MalangTIMES)
Eko Cahyono (37) jalankan perpustakaan selama 19 tahun dengan pola memudahkan warga mengakses buku tanpa dibebani segala prasyarat administrasi, Minggu (12/3/2017) (Nana/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Bagi pecinta buku dan pendiri Perpustakaan Anak Bangsa di Jabung ini, Eko Cahyono (37), kejahatan terbesar di dunia adalah mereka yang menghalangi dan mempersulit masyarakat untuk mengakses dan memiliki buku.

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

Prinsip hidupnya tersebut didasarkan bahwa pada buku pengetahuan yang disimpan dan diperamnya untuk pedoman manusia dalam menjalankan kehidupannya ke arah yang baik dan benar.

"Saat masyarakat dengan mudah mengakses buku, maka akan ada proses transfer pengetahuan yang jadi bekalnya menata kehidupan,"kata Eko Cahyono di sela acara Workshop Taman Bacaan Masyarakat di Unira Kepanjen, Minggu (12/3/2017).

Prinsip tersebut membuat Perpustakaan Anak Bangsa yang dimiliki Eko tidak terjebak pada proses administratif kaku dalam menjalankan fungsinya yaitu mencerdaskan masyarakat lewat buku.

"Saat siapapun mendirikan perpustakaan, ia wajib rela seluruh bukunya menjadi milik bersama tanpa adanya pembatas administrasi yang rumit,"kata Eko yang kini telah memiliki 8 ribu anggota di perpustakaannya.

Anggotanya tersebut bukan saja dari dalam desa maupun Kabupaten Malang semata tetapi telah menjaring juga luar daerah.

Pola Perpustakaan Anak Bangsa yang didirikan tahun 1998 ini tidak seperti perpustakaan buku yang umumnya kita kenal.

Tidak ada syarat fotocopy KTP, batas pinjaman buku, dan syarat administrasi lainnya. "Bagi saya kalau pun buku yang dipinjam tidak kembali tidak apa-apa. Artinya buku itu memang sudah menemukan pembacanya. Terpenting terbaca dan tidak dibakar saja," tegas Eko yang juga mengkritisi perpustakaan yang malah membuat malas warga berkunjung karena banyaknya syarat yang harus dipenuhi.

"Bahkan Perpus kampus dan pemerintah masih saja memakai syarat seperti itu, akhirnya minim yang datang. Ada lagi syarat kalau ke perpustakaan dilarang pakai sandal jepit, padahal apa korelasinya," kritik Eko yang menegaskan hal seperti itulah yang menjadi penghambat buku sulit diakses.

Dengan kondisi umum seperti itulah prinsip Eko secara lugas telah menjadi antitesa dan menggugurkan kejahatan terbesarnya sebagai pemilik perpustakaan, yaitu mempersulit bukunya diakses oleh masyarakat.

Baca Juga : KITAB INGATAN 100

Dia juga yakin buku yang terkumpul sebanyak 56 ribu di perpustakaannya yang merupakan juga buku-buku hasil memintanya kepada warga maupun institusi lainnya ini, akan terus bertambah dan menuai hasil positif bagi lingkungan sekitar saat dia tidak menjadi bagian dari penghambat akses warga terhadap buku.

Eko yang berjuang dalam dunia buku melalui perpustakaannya secara mandiri atau dengan kocek sendiri, mengajak masyarakat untuk saling berbagi buku yang dimilikinya.

"Kini sudah ada Forum Komunikasi Taman Bacaan Masyarakat (FKTBM) dengan area Malang Raya. Jadi ruang itu bisa didayagunakan demi dunia perbukuan," ujarnya yang juga menambahkan kini sudah ada perpustakaan mandiri sejumlah 115 se-Malang Raya.

Selain menghilangkan ribetnya urusan administrasi dalam pelayanan buku di perpustakaan yang akhirnya membuat malas warga membaca, Eko juga terus membuat image tentang perpustakaan yang hanya sebagai ruang baca semata.

"Kita akan ubah pandangan tentang itu. Perpustakaan juga bisa jadi ruang kesenian, ruang belajar persampahan, cost play, musik, dolanan anak dan lainnya," terangnya.

Hal ini telah mulai muncul di beberapa perpustakaan mandiri yang tergabung dalam FKTBM. "Semua punya ciri dan karakteristik berbeda dari 115 perpustakaan yang ada,"ujarnya.

Ditanya mengenai peran Pemerintah Kabupaten Malang, Eko hanya menyatakan bahwa sampai saat ini mereka lebih fokus pada hal administrasi.

"Seringkali saya didatangi mereka dan memberi masukan administrasi, baik mengenai legalitas, rak buku yang refresentatif dan sebagainya. Tetapi hanya sampai disitu saja, tanpa adanya tindak lanjut,"ungkapnya yang selama 19 tahun berjuang secara pribadi dan warga setempat melalui koceknya sendiri.

Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru