Lewat Kecintaannya Terhadap Buku, Pria Ini Alami Berbagai Keajaiban Hidup

Mar 12, 2017 15:30
Eko Cahyono (37) pecinta dan pendiri Perpustakaan Anak Bangsa meyakini lewat buku Tuhan bekerja mengubah makhluknya ke arah yang lebih baik, Minggu (12/3/2017) (Nana/MalangTIMES)
Eko Cahyono (37) pecinta dan pendiri Perpustakaan Anak Bangsa meyakini lewat buku Tuhan bekerja mengubah makhluknya ke arah yang lebih baik, Minggu (12/3/2017) (Nana/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Pola Tuhan bekerja mengubah jalan hidup makhluknya, manusia, adalah hal yang tidak akan pernah terpikir oleh otak kecil kita.

Lewat buku, si jendela pengetahuan, Tuhan juga menyapa makhluknya dan mengubahnya secara dratis.

Begitulah yang dialami oleh Eko Cahyono (37) pecinta buku dan pendiri Perpustakaan Anak Bangsa yang beralamat di Sukopuro Jabung, Kabupaten Malang.

Kecintaannya terhadap buku dengan berbagai kendala yang harus dihadapi, telah mengantarkannya kepada berbagai peristiwa yang membekas sampai kini.

Peristiwa yang tidak pernah terpikirkannya sama sekali terjadi dalam perjalanannya mencintai buku.

"Banyak peristiwa yang membuat saya semakin mencintai buku. Misalnya yang terjadi sama Minah, anggota perpustakaan saya," kata Eko kepada MALANGTIMES saat ditemui di acara Workshop Taman Bacaan Masyarakat di Aula Universitas Raden Rahmat (Unira) Kepanjeng Malang, Minggu (12/3/2017).

Minah hampir bercerai dengan suaminya, gara-gara selama 12 tahun menikah tidak memiliki momongan. Dihakimi mandul, Minah hampir menyerah terhadap pernikahannya dengan Samin.

Dalam kondisi tersebut, Tuhan hadir dalam buku yang dibawa oleh Eko. "Waktu itu seorang Ibu memberikan buku dan empat majalah Femina keluaran tahun 1980 kepada saya. Ternyata dari majalah itu ada berita mengenai persoalan tersebut," cerita Eko yang sejak tahun 1998 mulai ngamen buku dari pintu ke pintu, dan berbagai penerbit maupun toko buku untuk mendapatkan buku bagi perpustakaannya.

Setelah membaca majalah tersebut, dalam rentang beberapa tahun, Minah datang kembali ke Perpustakaan Anak Bangsa yang diasuh mandiri oleh Eko.

"Saya pangling waktu itu, karena Minah datang dengan dua anak kembar yang merupakan anaknya. Minah berkata dari majalah yang saya bawa, ternyata minah akhirnya memiliki anak," kenang Eko yang juga mengatakan betapa bahagianya masih bisa melihat peristiwa tersebut.

"Tuhan seperti berkata, Eko buatlah perpustakaan. Minah kalau kau ingin punya anak tunggulah Eko saat dia memiliki perpustakaan,"imbuhnya.

Selain kisah Minah dan Samin, Eko juga mengalami kisah yang tidak pernah disangkanya. Saat Eko menuju Kediri untuk mengambil dua kardus buku dari donatur yang memberinya buku.

Dalam perjalanan pulang menuju Malang, Eko yang menaiki motor dan melalui jalan tegalan tebu, dia dihadang begal.

"Tas dan dua kardus buku saya dibegalnya. Kurang lebih dua mingguan, anggota perpustakaannya datang menangis dan meminta maaf,"cerita Eko.

Ternyata anggotanya tersebut adalah anak dari si begal. Tas dan dua kardus buku dikembalikan, tetapi ada dua buku yang sampai saat ini belum dikembalikan.

"Dua buku itu tentang resep makanan dan cara membuat warung makan,"imbuhnya. Ternyata, kembali Tuhan bekerja melalui buku. Gara-gara dua buku tersebut, kini si begal telah memiliki warung makan dan meninggalkan pekerjaan kotornya.

"Dan saya telah menjadi saksi hidup atas perubahan-perubahan hidup manusia karena buku. Itulah yang membuat saya semakin mencintai buku," ujar Eko yang kini telah memiliki 56 ribu buku dari hasil ngamennya selama 19 tahun dengan total rumah 1700 yang pernah didatanginya.

Buku juga yang telah mengantarkannya untuk bisa kenal dengan para pesohor Indonesia, baik dari kalangan artis papan atas, menteri, sampai Wakil Presiden.

Eko bercerita, awalnya saat dia mengambil buku di Kota Malang. saat mau pulang hujan begitu deras sampai salah satu sandalnya jatuh dan hanyut oleh air hujan.

Untuk menyelamatkan buku pemberian tersebut, Eko berteduh di pos yang kebetulan ada juga yang berteduh di sana, yaitu seorang perempuan difabel berkaki satu dan tukang bakso.

"Entah bagaimana si perempuan ini membawa sandal lengkap dan akhirnya memberikannya kepada saya setelah kami bercakap-cakap," kenangnya.

Saat itu dia berdoa dalam hati, kelak akan saya ganti pemberian satu sandalnya dengan satu kaki yang tidak dimilikinya.

Selang beberapa tahun, dia yang terus menekuni buku dengan perpustakaannya juga tergabung dalam relawan kaki palsu. Hingga di tahun 2009, Eko diundang sebagai pembicara dalam acara Kick Andy.

"Di sana saya bertemu para pesohor dan dapat akses lebih luas membantu warga difabel. Saya ingat doa saya terhadap perempuan yang memberi saya sandal," kata Eko yang akhirnya berminggu-minggu mencari alamat si perempuan sampai bertemu dan diajaknya ke Mojokerto untuk pemasangan kaki palsu.

"Semua peristiwa itu yang membuat saya terus mengabdikan diri kepada buku," pungkas Eko.

Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru