Toilet Dalam Puisi Joko Pinurbo

Mar 12, 2017 11:11
Cover buku puisi Selamat Menunaikan Ibadah Puisi Joko Pinurbo (istimewa)
Cover buku puisi Selamat Menunaikan Ibadah Puisi Joko Pinurbo (istimewa)

MALANGTIMES - Toilet bukan sekadar permasalahan ruang atau tempat manusia membuang kotorannya saja.

Tetapi toilet juga merupakan jejak peradaban manusia yang terentang dari peradaban kuno sampai kini. Bahkan urusan toilet ini menjadi perhatian khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) karena kompleksitas permasalahan di dalamnya.

Baca Juga : WORO & The Night Owls Gebrak Maret dengan Album Perdananya

Di tahun 1999, toilet juga telah mencuri perhatian penyair kawakan yang lahir di Pelabuhan Ratu Sukabumi Jawa Barat, yaitu Joko Pinurbo (Jokpin).

Sastrawan penerima anugerah Khatulistiwa Literary Awards kategori puisi di tahun 2005 serta berbagai penghargaan baik dalam dan luar negeri ini, kepincut toilet.

Dalam Selamat Menunaikan Ibadah Puisi, Toilet dijadikan salah satu judul puisinya. Seperti penulisan puisi lainnya, Toilet juga ditulis dalam perpaduan antara naratif , ironi, refleksi diri serta unsur kenakalan atau kejenakaan. Ciri khas Jokpin yang membuatnya terus bertahan dalam dunia kepenyairannya selama ini.

Inilah puisi toilet Jokpin, “  (1) Ia mencintai toilet lebih dari bagian-bagian lain/rumahnya. Ruang tamu boleh kelihatan suram,/ruang tidur boleh sedikit berantakan, ruang keluarga boleh agak acak-acakan,/ tapi toilet harus dijaga betul keindahan dan kenyamanannya.

Toilet adalah cermin jiwa, ruang suci, tempat merayakan yang serba sakral dan serba misteri.

Bertahun-tahun kita mengembara mencari/wajah asli kita, padahal kita dapat dengan mudah/

menemukannya, yakni saat bertahta di atas lubang toilet./ Karena itulah, barangkali, kita mudah

merasa waswas dan terancam bila melihat/ atau mendengar kelebat orang dekat toilet/

karena kita memang tidak ingin ada orang lain/mengintip wajah kita yang sebenarnya.

Demikianlah, ketika saya bertandang/ke rumahnya, tanpa saya tanya ia langsung berkata,/

“Kalau mau ke toilet, terus saja lurus ke belakang,/putar sedikit ke kiri, kemudian belok kanan.”

Mungkin ia bermaksud memamerkan toiletnya/yang mewah. /Begitu saya keluar dari toilet,

ia bertanya, “Dapat berapa butir?” /Butir apa?/

Baca Juga : Film Dokumenter The Beatles 'Get Back' Rilis September 2020

(2) Nah, ia terbangun dari tidurnya yang murung/dan gelisah. Dengan bersungut-sungut ia berjalan/

tergopoh-gopoh ke toilet./ Keluar dari toilet,/wajahnya tampak sumringah, langkahnya santai,

matanya cerah: “Merdeka!”/ Sambil senyum-senyum/ia kembali tidur./ Tidurnya damai dan pasrah.

Terus terang saya suka membayangkan/yang bukan-bukan kalau ia berlama-lama di toilet./Apalagi tengah malam. Apalagi mendengar ia/terengah, mengerang, mengaduh, sesekali menjerit/

lalu berseru, “Edan!” Seperti sedang/melepaskan rasa sakit yang tak tertahankan.

O ternyata ia sedang bertelur. Dan ia rajin ke toilet/malam-malam untuk mengerami telur-telurnya.

Bertahun-tahun ia bolak-balik antara kamar tidur/dan toilet untuk melihat apakah telur-telur/

mimpinya dan telur-telur mautnya sudah menetas./

Topik
ToiletpuisiPuisi Joko PinurboSelamat Menunaikan Ibadah Puisi

Berita Lainnya

Berita

Terbaru