Serial Puisi 0

Mar 11, 2017 10:30
Ilustrasi puisi 0 (istimewa)
Ilustrasi puisi 0 (istimewa)

Serial Puisi 0

dd nana

 

KULARUNGKAN NUN DI TUBUHMU

Seorang lelaki tak akan mati oleh sepi

Saat jemarinya masih ramai melantunkan mimpi-mimpi.

Tuhan hujan telah bersabda

"Berbiaklah serupa ilalang agar angin tak bersua sunyi. Agar mimpi-mimpi segera dipanen di padang-padang penebusan. Agar kau tak sendiri, agar kau mengerti."

Tapi kau tahu, seorang lelaki memiliki nafasnya sendiri

Memiliki kiblat dan mimpi-mimpi purbanya sendiri.

Cerita-cerita telah mengasuh dan mengasahnya untuk selalu pergi.

Maka, dibuatlah sebuah perahu, yang tak akan pernah penuh

tak serupa perahu nuh. 

Tapi kau tahu, selalu ada mata perempuan 

Yang diam-diam menahan sesak dari isak, menenun raga menjadi nun

Yang tak pernah sempurna.

Cuaca seringkali berubah dan tubuh tak selamanya kukuh.

Dan mimpi-mimpi tak selamanya musim semi.

Hanya nun yang mampu menampung segala pedih

yang berani bersitatap dengan sepi yang paling nyeri.

Kau pun tahu, seorang lelaki memiliki alif yang tegak.

Hingga langit retak

Hampir pecah serupa isak.

Dalam dada, dalam sepi pemberontak.

Hujan itu akan tiba, anakku, saat punggung lelaki itu ditelan waktu

Waktunya sendiri, waktunya yang diikatkan dijemari ibumu ini.

Jangan menangis. Jangan. Karena air mata akan meninggalkan jejak

Di sepasang pipi mungilmu, nak. Jejak yang akan selalu kau bawa kelak.

Tuhan hujan telah bersabda

"Muasalku, muasalmu. Telah ku pecah tubuhku menjadi tubuhmu. Tak ada air mataku yang asin. Yang memanggil-manggil sepi  hingga kau menggigil seperti ini."

Muasalku, muasalmu. Kau akan menepi dan kembali. Menjadi muasalku, lagi. 

Maka berhentilah menangis. Telah ku larungkan nun dalam tubuhmu. 

Nun yang menampung, nun yang akan melarungkan segala sepi. 

Menuju mimpi-mimpi.

Seorang lelaki, nak, tak akan mati oleh sepi

Saat jemarinya masih merajut mimpi-mimpi.

Tapi kau tahu, mungkin aku yang segera mati.

Topik
Serial Puisi 0

Berita Lainnya

Berita

Terbaru