Serial Puisi 0

Serial Puisi 0

Mar 05, 2017 09:59
Ilustrasi puisi 0 (istimewa)
Ilustrasi puisi 0 (istimewa)

Serial Puisi 0

*dd nana

 

Igauan Tak Berpesan

(1)

Aku gigit tuhan, setiap malam

paginya, tubuhku berdarah-darah

gigiku masih saja nista ternyata.

(2)

Membatu juga aku

seperti kalender yang gagu

padahal, sekedar bayang yang kutunggu

tak jua sampai mencumbu

padahal kutahu, waktu terus berdenyut.

Ah aku harus selekasnya pulang

Merangkul luka, yang telah mengarca.

Membatu juga aku.

(3)

Ah, sisipus 

masih saja kau bagi-bagikan luka

dalam tawa yang

selalu terdengar jumawa.

 

MARI KITA BOHONGI HIDUP 

(PESTA TAK USAI-USAI)

Tadi malam, gelas-gelas menghamburkan dirinya

dalam pengap asap rokok, menari-nari dalam 

temaram lampu yang sekarat, 

berpasangan, saling mencumbu, berdentingan, dan

besi-besi memberikan dentum, semakin merekatkan, menghingarkan.

sungguh, mataku selalu saja menangkap

kekosongan yang riuh.

ini bukan nadaku begitulah gelas-gelas dengan sengau menjelaskan sebelum mereka pecah di lantai. Menunaikan apa yang harus secepatnya diselesaikan.

hidup bukan pilihan. Dan selalu hanya denting sekarat persetubuhan yang disimpan ditelingaku. 

Aroma wine, bourbon, tequila, wiski, menjadi tikus di mulutku

bercericit panas menitipkan luka gelas-gelas 

Retak itu tambah menganga, sahabat.

Sungguh, menganga.

gelas-gelas itu menghamburkan diri, tadi malam, dalam pesta tak berkesudahan. Mereka semakin telanjang, menerawang. Di mulutnya buah khuldi coba diperas gigi. Tak usai menjadi. Tak usai menjadi. 

Ternyata disini hanya ada kosong para gelas tertawa-tawa.

penghuni khuldi telah lama mengungsi. Mencari. para gelas tergelak-gelak, sebagian mati  tersedak.

mataku kembali meleleh, pecah, disini bersama pesta gelas-gelas yang menjadi laron 

yang tunggu mati. 

hidup bukan pilihan, maka kami terus mencuri waktu untuk berpesta dan berpesta  

Begitulah kata itu menjadi nada gelas-gelas, sumbang.

Lalu, Gelas-gelas kembali bersetubuh dalam pesta tak berkesudahan.

Mungkin, dalam derap rapat keringat, mereka sedang mencoba menyingkap kekosongan irama dan air mata .

Ikutlah bersamaku, dan menarilah. Dekap aku.

itu bukan nadaku.begitu aku menggerutu, panas disingkap, didekap tubuh kristal betina yang menawarkanku surga.

Tubuhnya begitu gelas berkilau.

hidup bukan pilihan, berpestalah sejenak bersamaku. Tanggalkan bajumuhibanya seperti redup neon diruang pesta yang tak berkesudahan.

Aku terlelap, tersekap syahwat. Ternyata aku masih lelaki biasa.

telingaku semakin hingar dituangi pesta-pesta tak berkesudahan, tanganku kulihat gemar juga menimba alkohol, mengisikannya, menggelontorkannya ketelinga

terus menerus,  hingga tercipta suara, sendak berderak-derak, aku tahu itu retak. 

Itu retak. 

Lihatlah Ibu, anakmu akhirnya menikahi gelas yang terus saja berpesta tak berkesudahan.

ah, hidup memang harus dibohongi terus menerus

meski luka itu meretak tambah menganga tambah menyala.

Ikutlah bersamaku, dan menarilah. Dekap aku 

Aku masih lelaki biasa yang dengan serak mengemundangkan kata

Marilah berpesta bersama gelas-gelas yang semakin telanjang, menerawang

kalaupun  anda berani, kawini gelas-gelas itu

dan berpestalah !  

*Wartawan MALANGTIMES

Topik
serial puisiSerial Puisi 0

Berita Lainnya

Berita

Terbaru