Aremania ketika mendukung timnya. (foto Hendra Saputra/MALANGTIMES)
Aremania ketika mendukung timnya. (foto Hendra Saputra/MALANGTIMES)

MALANGTIMES - Merebaknya banner bertuliskan "Satu Arema" bisa dimaknai keinginan Aremania menyatukan dua klub yang mempunyai nama hampir sama, yakni Arema FC dan Arema Indonesia.

Sedikit menilik ke belakang, usai Kongres PSSI di Bandung beberapa waktu lalu, induk sepak bola se-Indonesia itu memutuskan untuk memulihkan keanggotaan klub Arema (yang) Indonesia.

Jalan menuju bersatu juga sudah ditempuh oleh kedua pihak. Namun belum ada titik temu yang bisa menerangi tim-tim sesama pemakai nama "Arema" tersebut.

"Waahhhh, sekarang sudah agak susah, Mas. Dulu sebelum ada keputusan kongres, peluang itu selalu ada, asal pihak di sana mau kembali ke porsi persentase saham yang jujur, bukan yang dimanipulasi. Tapi setelah keputusan Kongres Bandung 2017, sepertinya peluang itu hampir mustahil dilakukan," papar CEO Arema FC Iwan Budianto saat dikonfirmasi MALANGTIMES.

Menurut Iwan, Aremania tidak menutup mata melihat situasi seperti ini. Apalagi melihat antusias suporter begitu tinggi ketika Singo Edan (yang) berlaga di Piala Presiden. Sebaliknya, klub Arema Indonesia sendiri hanya bermain di Liga Nusantara dan belum terbukti mampu menarik suporter di Malang.

"Kalau menurut hemat saya, siapa pun boleh menentukan pilihan untuk mendukung (tim) yang mana. Dan itu adalah hak dari masing-masing manusia yang menyatakan bahwa dirinya Aremania," kata Iwan.

"Faktanya sekarang, setelah Kongres PSSI di Bandung, klub Arema itu ada dua. Satu berlaga di Liga 1 dan satunya di Liga Nusantara. Karena berlaga di kasta yang berbeda, ya suporter satu itu juga. Dukung yang di Liga 1 dan yang di Liga Nusantara. Saya yakin Aremania itu cerdas dan bijak," ungkapnya.