Serial Puisi 0

MEMBACA AL-FIIL DI MALAM HARI

Feb 26, 2017 13:27
Ilustrasi puisi 0 (istimewa)
Ilustrasi puisi 0 (istimewa)

MEMBACA AL-FIIL DI MALAM HARI *dd nana

pernah, berjuta padma yang kau petik dengan tangan telanjang di rawa itu kau tanam diam-diam di mataku.

Dulu burung-burung itu masih janin di rahimmu.

Pintu kamar kubuka, hujan menganga.
Dengan mulutnya yang merah dan lancip seperti Abrahah 
meminta peristiwa yang pernah kujanjikan tadi malam.

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

Padahal mataku, sumber cahaya, masih tersimpan
Dilipatan tubuhmu atau itukah yang dinamakan rahim;  hamparan rawa-rawa basah milikmu.

-sebagai perempuan yang menanamkan padma di mataku, kau keras kepala-

Padahal pernah kubilang jangan undang lagi burung ababil, cukuplah mataku yang kau tanami padma dirahimmu itu.

Kau tertawa dalam selimut, mengucap mantera menyuguhkan aroma, masih saja memperolokku, kini lihatlah, 
kepak-kepak para burung itu mengetuk-ngetuk meminta keluar bercericit begitu gaduh
Padahal kaupun tahu Kabah ini belum selesai kubaca.

Haruskah aku belajar berdusta meski pada melata yang mengetuk pintu. 

Berikan mataku, kekasih, Kabah ini belum selesai kubaca, sejarah menungguku.

-sebagai perempuan yang rahimnya dipenuhi burung ababil, kau terlalu pualam, terlalu sulit dijinakkan.-

Lihatlah pagi pun syahwat padamu, diam-diam menyelusupkan wajahnya di tubuhmu atau itukah yang dinamakan rahim, hamparan rawa-rawa basah 
yang menenggelamkan segala ingatanku tadi malam
hingga kabah tak selesai kubaca.

Kau tertawa, masih saja memperolokku, lantas tubuhmu atau itukah yang dinamakan rahim terbuka, aku melihat mataku masih terlelap, seperti burung-burung piaraanmu, ababil, yang meringkuk disembarut kabel telepon yang kau cipta, berpelukan menghalau dingin dengan bunga padma yang mulai terlihat memerah, merekah.

-dari dulu kau terlalu kasih terhadap mereka-
dan kau tersenyum, selalu basah menenggelamkan 
segala ingatan yang ada hingga Kabah masih saja tak selesai kubaca.

Baca Juga : KITAB INGATAN 100

selimut itu kau ceraikan, tubuhmu yang pualam menyemburatkan cahaya matahari, dan mantera itu lagi kau ucapkan di bibirku.
 
-pagi mengunjungi kalian di rahimku, bangunlah. Ini musim panen, bekerja dan bernyanyilah. Karena kalian akan jadi sejarah tersendiri. Bukan begitu, Kekasih ?-

dan seperti sirene, berbondong-bondong burung ababil memanggul segala perkakas tani, memanen padma dimataku.

- itu lumbung padma kita untuk menghadapi perang yang sebentar lagi meletus, kekasih-

Hujan di luar sepertinya berhenti hanya dengusnya masih kurasa dingin di tengkuk.

dan hiruk pikuk perayaan kemenangan dilantunkan sebelum perang 
kau  menari-nari bersama kepak burung-burung ababil.

-marilah kekasih, kita menari karena kita sama-sama mengerti tentang arti dan wajah kemenangan.-

tetapi dimana mataku, kekasih, berikanlah
aku mendengar derak suara pasukan bergajah semakin mendekat perang akan dimulai sebentar lagi  
Kabah ini harus aku selesaikan secepatnya biar kelopak padma yang kau tanam di mataku tak sia-sia
memekarkan burung-burung ababil yang mengolah batu dari tanah-tanah yang terbakar di rahimmu.

biar aku tidak berdusta meski pada melata yang mengetuk pintu kamar kita.

biar sejarah berjalan seperti di kitab-kitab. 

-lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)-
 

*wartawan MALANGTIMES

Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru