Serial Puisi 0

SUGRIWA YANG TERKUNCI DI AQUARIUM KOTA

Feb 25, 2017 14:25
Ilustrasi puisi 0 (istimewa)
Ilustrasi puisi 0 (istimewa)

SUGRIWA YANG TERKUNCI DI AQUARIUM KOTA

:me  

Karena sisik pesona yang selalu meminta dengan desah basah yang dalam  tercerabutlah aku dari dekap pegunungan dan hutan-hutan yang basa tanah air kelahiranku.

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

Kini, aku tersesat oleh pesona  yang selalu meminta sekarat yang dalam. 

Kini, rumahku adalah aquarium kota yang retak, berdesak-desak  bahkan sekedar untuk berak. 

Sebenarnya telah berserak, begitu kata para ikan bersayap, menuliskan hikayat aquarium kota lantas mereka berkata-kata ditelingaku.

 "Dulu kala, para pesulap mengawini peri sungai yang birahi  bersama mengikat ikrar, menguarkan amarah kepada dewata yang mengutuknya.

Lantas mereka mencipta berjuta ikan berwajah kencana, yang berbusa bila berkata-kata dan bertaring rahwana. 

Lihatlah, mereka, anak-anak kita, begitu memesona hingga menjerat segala syahwat semakin dekat semakin sekarat. 

Mereka tertawa-tawa, begitu gelak.

Dan, mereka merasa telah menjadi tuhan yang mampu mencipta segala. 

"Segala yang menyerupai, berakhir dalam sunyi,"

Lantas mereka mulai menumpahkan bara, berlomba-lomba memburu, membunuh dan mengawetkan jasad-jasad seterunya, ikan-ikan bersayap,  titisan para dewata yang mengemban titah di kota-kota,".  [ahsungguh kebencian mereka begitu perkasa meraja]

[lantas, kenapa kalian tidak berperang, bisikku dalam diam]

Sunyi bersembunyi di bibir kalian Nyeri yang mengenalkan suara pada kalian.  

"Maka, dijadikannya kami sebagai souvenir yang dikemas cantik,  untuk dijual kepada para turis sebagai buah tangan, atau ditukarkannya ke negara-negara tetangga dengan beras, gula, kelapa, minyak, kapal tempur ataupun senjata.  

Kau tahu, apa yang dikatakan negara-negara itu,  look is this, very beautiful. OhWe like business from your country this is very beautiful.  begitulah,"

  dan akhirnya, mereka berbondong-bondong menuju kota, mengencani ikan kata-kata, mengawini para peri sungai yang selalu birahi, berafiliasi dengan para pesulap, mengisi aquarium kota dengan berbagai macam tuba. 

 Merekapun telah menjelma pesona.

 [lantas, kenapa kalian tidak berperang, bisikku dalam diam]

 tanyaku ditelan kilatan blizt kamer ,  kunang-kunang siang itu tak pernah lengah untuk membekukan segala tanya dan, aku kembali mendengar isak yang mulai pecah. 

"dulu kala, aquarium kota adalah hening kelepak sayap para ikan ruang bermain, bercanda, bercinta, bertiwikrama, lantas moksa dan lahir kembali. Begitu indah. Begitu indah,".  

Lantas, siapa yang melahirkan para pesulap itu, kataku dalam diam yang mulai mencari sarang suara.

 "Dulu, ibu pernah berkata-kata di mataku juga, yang meredup layak senja, katanya, kelak, jadilah ikan bersayap anakku meski pegunungan dan hutan tanah lahirmu, hingga kau tahu rupa-rupa pesona yang selalu terjebak dan menjebak warna, yang selalu menghiba meminta sekarat para ikan  yang berjalan dengan syahwat.

 pesona adalah laknat, anakku maka jadilah ikan bersayap tanpa syahwat.

 yang mampu menebas kepala pesona seketika.

 pesona adalah laknat, anakku maka penggallah segala pesona yang melintas.

 tetapi aku sugriwa yang terkunci di aquarium kota yang retak, sebenarnya telah berserak.

 tak bersisik, tak bersayap, tak lagi berpancasona.

masih saja syahwat sekarat terlalu dalam, terlalu diam-diam  ditunggui pesona yang tak pulang-pulang.

Baca Juga : KITAB INGATAN 100

dan, para turis asing yang lalu lalang, kumpulan orang yang pernah diangankan oleh penghuni aquarium kota, menjadi juru selamat

expatriat, bisik Hanoman, tetangga sebelah yang juga ditikam-tikam pesona di dalam aquarium kota.

 [ah, sudah kosongkah gunung dan rimbun hutan, sehingga aku melihat begitu penuh wajah-wajah mereka di sini, terjebak pesona yang selalu meminta sekarat] 

 kunang-kunang siang, begitu aku lebih suka menamainya  tak pernah sungguh-sungguh membaca darahku yang kental, tak pernah menyulingnya menjadi pintu keluar.

 mereka sekedar memintal-mintal, menggulung-gulung segala yang ada di aquarium dan dijadikannya gumpal dahak yang bergelegak  ditenggorokan mereka yang pucat

sruuuppp..cuuhh !!!

 lalu berlalulang kembali dan batu-batu, kembali berlahiran dari percik dahak  memenuhi aquarium kota yang retak, semakin berdesak-desak.

 Ibu, para turis itu ternyata juga para pesulap yang bergincu darah ikan bersayap.

 lantas, bagaimana sugriwa mampu menjelma ikan bersayap  kalau semua yang berlalulalang adalah bayang

debu pesona yang jalang,

Ibu, sugriwa masih saja bersyahwat.

Masih bersyahwat  

pesona selalu meminta sekarat yang dalam dengan diam-diam dan aku masih sugriwa yang terkunci di aquarium kota yang retak, tetapi kini, setelah ibu mengepak-ngepak sayapnya yang hijau daun mengitari aquarium kota disuatu malam.

 [ah, waktu dikota ini selalu sama, botol parfum syahwat yang menggelora menjelma-jelma]

 sambil berurai air mata, menghunus samurai yang disembunyikan dihijau sayapnya, menebaskannya ke kepalaku.

 katanya, daripada kau menjadi pesona yang lain pesona yang meminta-minta sekarat para ikan yang baru lahir maka, mati yang segera adalah nikmat bagimu Sugriwa.

 biar pesona yang memelukmu lama di aquarium kota yang retak sebenarnya berserak menjadi janda yang melolong-lolong  karena warnanya menghilang.

 dan percayalah para pesulap dan kunang-kunang siang tak akan pernah mampu memotret wujud kencanamu lagi,  tak mampu mengerat tetes pancasonamu yang sejati.

 Ya, aku kini adalah ikan bersayap yang bebas mengepak-ngepak, meludahi segala pesona mempermainkan isi kepala para pesulap dan kunang-kunang siang

akulah ikan bersayap kemerdekaan itu.

 tetapi sebagai ikan bersayap, anakku kau tidak ber-uang tidak berwaktu itulah inti pengetahuan ikan bersayap.

 ibu menggandengku, semakin jauh meninggalkan aquarium kota yang retak sebenarnya berserak.

 dan, mataku semakin cekung dengan lingkar hitamnya yang sempurna terus membaca  kapan para penghuni aquarium kota mampu bersayap menjadi ikan-ikan merdeka yang berkelepak dilangit yang tak memiliki tepi ini. 

*wartawan MALANGTIMES

Topik
puisi

Berita Lainnya

Berita

Terbaru