Kepala BPBD Kabupaten Malang, Iriantoro saat menjelaskan pentingnya PENASEKOLAH terhadap anak Sekolah Dasar, Jum'at (24/02) (Foto: Nana/ MalangTIMES)

Kepala BPBD Kabupaten Malang, Iriantoro saat menjelaskan pentingnya PENASEKOLAH terhadap anak Sekolah Dasar, Jum'at (24/02) (Foto: Nana/ MalangTIMES)



MALANGTIMES - Pengetahuan sejak dini dalam pengenalan bencana menjadi relevan dilaksanakan dan dijadikan program berkelanjutan di sekolah dasar yang ada di Kabupaten Malang. 

Selain untuk mendidik anak-anak sekolah tingkat dasar tentang bencana, baik mengenai jenis bencana alam, cara menyelamatkan diri, memberi tanda adanya bencana sampai pada pertolongan pertama korban, juga membentuk mental anak dalam menghadapi bencana alam di wilayahnya.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang menyadari urgensi pengenalan bencana kepada anak-anak. Maka, sejak tahun 2012 lalu BPBD telah merancang program PENASEKOLAH (Pengenalan Bencana di Sekolah).

"Program ini mulai sejak 2012 dengan prioritas PENASEKOLAH pada anak kelas 4 sampai 6 Sekolah Dasar (SD)," terang Iriantoro, Kepala BPBD Kabupaten Malang, Jum'at (24/02) kepada MALANGTIMES seusai acara Policy Brief Di Ruan Rapat Lantai 2 Setda Kabupaten Malang.

Sampai awal tahun 2017 ini program PENASEKOLAH telah menjangkau sekitar 125 SD yang ada di Kabupaten Malang. "Setiap tahunnya kita target 25 SD yang kita datangi dan kenalkan bencana alam," lanjut Iriantoro yang juga berencana melakukan PENASEKOLAH di madrasah juga tahun ini.

Pemilihan subjek pengenalan bencana kepada anak-anak SD didasarkan dalam usia tersebut merupakan fase operasional konkret. "Artinya, dalam fase itu anak-anak lebih mengenal kenyataan dan mudah menirukan apa-apa yang diberikan," terang mantan Sekwan DPRD Kabupaten Malang ini.

"Penanaman pengenalan bencana sejak dini lebih baik daripada setelah dewasa atau tua," tegas Iriantoro.

Dia juga menerangkan dengan kondisi Kabupaten Malang yang berupa pegunungan, dataran bergelombang, dan dataran rendah di pesisir selatan serta sebagian besar pantainya berbukit membuatnya rentan terhadap bencana.

"Awal tahun ini sudah sekitar 21 bencana alam, baik longsor, banjir, angin puting beliung, tanah gerak dan yang paling rentan menjadi korban adalah anak-anak," kata Iriantoro. Dengan hal tersebut pengenalan bencana sejak dini kepada anak-anak menjadi penting dalam upaya menumbuhkan ketangguhan bencana.

Metode PENASEKOLAH tentunya tidak sama dengan orang dewasa. Melalui berbagai permainan, baik melalui video, game, atau simulasi kelompok anak-anak diajak secara langsung mengalami peristiwa-peristiwa bencana yang sering terjadi di wilayahnya masing-masing.

"Jadi memang kita pakai pendekatan permainan dalam PENASEKOLAH ini. Tetapi tidak sampai menghilangkan esensinya yaitu bagaimana caranya anak-anak mengetahui gejala-gejala bencana, serta menghadapinya," tutur Iriantoro.

End of content

No more pages to load