Ilustrasi puisi (dd nana)
Ilustrasi puisi (dd nana)

KITAB INGATAN 13
: tentang terik Oktober

Sudah Oktober, tuan
bangun dan raciklah kopi yang merindu jalan pulang
tapi maaf, tak ada kicau burung yang meriuhkan sepi
pagi.
 
Kau, gegas melapukkan ingatan
sebelum Oktober meneriakkan terik pada rindu
yang sengit: rasa legit yang terlalu.

Di luar, matahari memintal sayap-sayap malaikat yang berguguran.

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

(kaukah itu, tuan, yang diam-diam berseteru dengan kehadiran).
 
Oktober, tuan, buku-buku puisi di kamarmu
serupa helai-helai rambut yang di warnai cuaca
terik dan sepinya tak pernah kau mengerti.

Serupa cinta, serupa dendam yang entah kapan ada
dalam mata, dalam dada. 

(tuan, bakarlah puisi sebelum kau menakar sepimu sendiri) 
 
Telah ku tuntaskan dahaga:
amanah suci Rama pada rambutku yang memutih
walau itu hanya sekedar pertanyaan, 

tapi bukan aku kalau tak
ku warnai lautan dan airmata jelitamu, puan.

Ini takdir Oktober yang tak bisa kita simpan dalam cerita cinta
maka, kesinilah puan, ijinkan aku memelukmu
dengan rengkuh yang tak diinginkan waktu.
 
Setelah senja
setelah lautan tak lagi bisa kau beri warna lain.

Setelah segala air mata, rindu dan sayap-sayap malaikat berhamburan;
luruh ke entah, bermuara ke yang tak ada dalam kata-kata.

Oktober masih saja berdiri membawa teriknya sendiri
dan biji-biji kopi yang tak kau tuliskan dalam buku-buku puisi
memintamu pulang.
 
Jangan lupakan pintu yang telah perempuan itu hiasi
dengan senyum, air mata, dan cemburu

do’a-do’a yang di bahasakan dengan sederhana.
 
Ini Oktober, tuan
bangun dan seduhlah segala kekalahan dalam cangkir kopimu
yang menunggu: setia dalam ceruknya

setia meminta panasnya rindumu, terik Oktober biarlah kita sunggi
dalam kecemasan yang tak perlu kita dramatisasi.
 
Tapi maaf, tuan, tak ada kicau burung di bulan OKtober ini 
 

KITAB INGATAN 14
Sidang Puisi
 
Sidang puisi. benda-benda yang kau anggap mati bewarna lumut serupa sajadah bagi para pejalan kaki: puisi-puisi yang ingin pergi.

meja, beberapa baris kursi, dan kitab-kitab telah dipersiapkan sebagai yang bisu, yang diam, yang kaku.


para tetua puisi;barisan aksara yang terlalu tanak didiangkan cuaca, berembuk dengan embun di dahi berkerdipan dijilat basah cahaya. tepat didepannya, seekor puisi berparas pagi duduk menyilangkan jenjang kakinya.

sang pesakitan yang terlalu indah, bisik para pengunjung sidang.

para tetua puisi,telah lama geram pada seekor puisi berparas pagi. maka, hari ini sanksi harus dijatuhkan. sebelum mata-mata puisi lainnya terhipnotis dan lupa, dan diam. hanya mampu mengejang dan tegang pada bagian-bagian tubuh puisi yang lama dilupakan, yang lama tak difungsikan.


dakwaan: pasal satu : dia, puisi berparas pagi, beralamat di pohon khuldi orang tua tidak pasti, telah dengan sadar diri memprovokasi tubuh-tubuh manusia- penyair ke jalan gelap yang mereka anggap seksi. ke gelap yang dihapus dari kitab-kitab leluhur puisi. ke gelap dimana warna tak bisa menafsir dirinya sendiri.


pasal dua :dia, puisi berparas pagi telah menebarkan getah-getah larangan pada mata-mata manusia- penyair. dengan pesona yang dimilikinya dengan sadar diri.

ruang sidang puisi memantulkan suara

suara-suara hinggap entah dimana. serupa cahaya-cahaya yang berpendar-pendar dan menetap di entah pula.


kata seekor tetua puisi berwajah klimis dan berdasi begitu rapi “kelak, seperti yang di terakan kitab-kitab, dialah yang meluruhkan merebahkan dedaunan pada ranjang-ranjang basah serupa rawa-rawa. dedaunan yang masih hijau. dedaunan yang masih butuh dekap reranting pohon.”

seekor tetua puisi lain menimpali. berjanggut putih dan berambut panjang sama putih. perak, begitulah masyarakat puisi menamakannya.

Baca Juga : KITAB INGATAN 100

‘dia, pamerkan jenjang kakinya yang bercahaya. kedip mata dan busung payudara kilaunya. wahai semesta aksara, dia lah yang diterakan kitab-kitab sebagai syahwat merah purba; khuldi.

lihatlah, manusia-penyair limbung karenanya. gontai dengan luka lambung yang tak disadarinya.”

tetua puisi lain berkata,” wahai masyarakat puisi, bukalah kitab akasara pertama, halaman pertama. Baca, baca, baca. kita sepakat mengartikan syahwat; aksara purba yang tak tertaklukan mata.”

ruang sidang puisi, kini senyap. suara-suara yang menetap, entah sedang merumuskan apa dan akan jadi apa.

si pesakitan yang terlalu indah, seekor puisi berparas pagi, tersenyum. ah, manis gula batu surga. yang tak kau temukan di dunia aksara. bercahaya serupa mata simurgh yang dibakar rindu kekasih.

ia, angkat bicara.
Ah, tuan-tuan puisi yang menua pada jemari para penyair. tak ada yang ku ingkari dari dakwaan itu semua. adaku karena semesta berkehendak dan Sang Maha-Puisi memintaku demikian.

Bukalah kitab-kitab yang sebagian ayat kalian hapus dari ingatan. maka, akan kau temukan aku. akan kau temukan sekarat-sekarat nikmat manusia-penyair itu.

sekarat itu aku rasakan juga tuan-tuan puisi. lihatlah leher jenjang mulusku ini. warna merah sisa kecup para penyair resah.

mencari malam pada dedaunan yang tabah. dedaunan yang iklas rebah di rawa-rawa basah milikku ini.

pada bibir merah jambuku ini, tuan-tuan puisi tak perlu aku kabarkan pada mereka untuk menguburkan resah lainnya disini.

Ya, aku dicipta untuk menjadi liang. lubang yang menyempurnakan segala lingga.

denyut yang mendebarkan manusia-penyair agar faham arti “ah” dan “uh” pun hamparan bernama ranjang;rawa-rawa basah yang terlalu lama disalah artikan.

Kau, terlalu merah, puisi berparas pagi. sejarah tak pernah mau menampung segala yang berlebih, terutama warna merah yang sangat dan sengit sepertimu. Bentak tetua puisi berkepala plontos dengan jubah putih yang melambai-lambaik di mainkan angin.

mulutnya sibuk merafal mantra dan doa-doa, mulutnya sibuk menenggak arak berkati-kati.

kalau itu yang tuan-tuan puisi kehendaki, maka kutuklah aku hingga kalian mampu memahami warna merahku adalah merah kalian juga bukan biru yang sedang kalian agung-agungkan.

kutuklah aku sebagai binatang jalang yang akan kalian buang.

serupa lelaki kurus yang aku sayangi, dulu, yang dikutuk oleh aksara oleh maut yang terlalu mencintainya, ” sibinatang jalang dari kumpulan terbuang”.

ah, tuan-tuan puisi, dentang waktu telah menunjukkan angka duabelas malam sebentar lagi tergelincir. maka, tanpa mengurangi hormat pada sidang puisi ini, ijinkan saya pergi ada undangan menghibur manusia-penyair yang sedang menunggu mati.