Serial Puisi "Kitab Ingatan"

Feb 12, 2017 11:34
Ilustrasi puisi (dd nana)
Ilustrasi puisi (dd nana)

Serial Puisi "Kitab Ingatan"
dd Nana*


KITAB INGATAN 12
; Tentang Aku,  Ev dan Taman

: Mungkin, kita dicipta di Juni basah ini

1.Tentang Aku

Kitalah yang paling resah paling barah atas tubuh yang dicipta ini:

Cukilan debu yang diterbangkan jutaan ribu kilometer dari tempat tumbuh melata menuju ketinggian cahaya tak terkira.

Taman yang sering kita mimpikan sebelum tumbuh daging tubuh Tempat yang melahirkan gaduh makhluk-makhluk bersayap.

Kitalah yang paling ngilu paling linu atas tubuh yang dicipta ini;


 Mimpi tentang nama-nama, benda-benda, dan segala warna yang masih sembunyi.

Sebagian iri, akan menjadi 

Serpih-serpih daging, darah, tulang tubuh; kelak mereka ditanya, ditimbang, dibuang.

Menanggung semua beban yang kadang tak ingin kita kenang.

Cukuplah kelamin berpasangan saja untuk kami, boleh Tuhan?


 Kau, Ev, belum ada saat igau pertama ini.


Dengan diam-diam, ditanamlah biji khuldi di taman

Dengan diam-diam ditiupkannya rayuan yang tak mampu kau elakkan;

ular pertama dalam cerita.

Bagaimana pohon tumbuh dengan rindang di taman ini, Tuhan, dengan gelayut manja buahnya yang bersinar:

igau keduaku sebelum mata tercipta, terbuka.


 Kau, Ev, belum ada, menepi dengan tenang sebelum cerita dipenuhi lelakon yang dipercaya.

Berkah, kutuk, rutuk, luka-luka yang tak pulih
 Luka yang meminta dan diminta ada untuk kita; manusia.

Tapi, kitalah yang paling luka paling punya duka

Sebelum ketelanjangan menjadi cahaya di mata

Serupa pura-pura Tuhan yang mengurai labirin-labirin taman, alpa malaikat, desis syahwat ular pertama yang menggemukan dirinya dengan tenang dengan sabar.

Yang melata lebih punya nyali untuk memeram luka, menekuk tubuhnya sedemikian rupa, sehingga mata maut sekalipun alpa adanya. 


Yang melata selalu punya cara.

Doa-doa telah dipersiapkan untukku, Ev, semoga kau tak menangis.

Pohon itu berkerudung, kilau dengan cahaya warna-warna, kelak anak-anak kita begitu suka menggambarnya: setengah lingkaran yang sempurna

Dengan kaki warna putih yang telah tua.

Bagianmu, Ev, bercerita. Halaman ini untukmu

Jangan menangis, ada dedaunan yang telah disiapkan untuk rasa rapuh itu.

2.Tentang Ev

Tapi kau curang, lelaki, tak kau ceritakan kenapa tubuhmu dicipta Hingga aku ada. Hingga aku jadi cerita;

hikayat-hikayat yang lupa atas warna tanah taman yang tak ingin kita ingat namanya.

Tentangku adalah tentang tanya yang meruapkan semilir angin; lirih yang getir.

Kenapa kitab-kitab yang ada menuliskan tulang-tulang lengkung untuk adaku

Kenapa aku berdesis saat rona merah menyaput sepasang pipi dan mengilaukan payudaraku:

ranum buah yang lahir dari pohon tudung bintik-bintik itu.


 Pohon yang kau katakan warna-warna yang menyaingi pelangi di taman ini.

Tentangku adalah tentang tanya yang mengalir di sungai-sungai.

Melatenkan akar-akar yang menumbuhkan batang, dedaunan dan buahnya.

Tapi percayalah, lelaki, tak pernah aku menyusui ular itu.

Setiap malam, diam-diam, ia menyelinap, keluar dari sarangnya.

Berumah di dada ranumku, mengajariku membaca tubuh dan nama-nama asing. 


Kau selalu terlelap saat-saat itu, lelaki

Serupa kanak-kanak yang kenyang setelah air susu memenuhi hasrat laparmu

Serupa aku yang memimpikan, ular dan kamu itu sejenis 
yang diam-diam mengendapkan syahwat pada tubuhku.

Tentangku adalah tentang tanya, lelaki, karena halaman-halaman cerita selalu mengalah untuk kau isi lebih banyak.

Bagianmu bercerita lelaki, jangan syahwat dulu atas tubuh yang memesona mata.

3.Tentang Taman

:Mungkin, kita dicipta di juni basah ini

Setelah hujan lelah menyetubuhi segala yang terbuka

Paha kita tersingkap, dedaunan gerah dalam basahnya; mengucup dalam ingin dalam desah yang tak asing di telinga kita.

 Ruang mimpi sebelum tubuh-tubuh kita berkehendak

Dari satu membelah dua; rasa asing yang melenakan

Dari ganjil mencipta genap;syahwat yang sering kita asuh dengan lagu-lagu pengantar Tidur:

ular itu mengajari kita berdendang dan mencipta ranjang.


 Dari sulur yang gontai menuju tirai-tirai putih; gerimis amis dari lubang-lubang tubuh yang menganga.

Segala yang dicipta terbuka, takdirnya untuk meminta pada apa-apa yang memenuhi lubangnya, mengutuhkan dalam keriangan;

sebelum ingatan atas nama-nama dan benda-benda mengusik dan jelma tanda-tanda, warna-warna.

Doa-doa menyiapkan dirinya, Ev, jadi kutuk yang rutuk dan menggerutukkan tulang-tulang serupa tubuh ular pertama di pohon bertudung bintik-bintik itu.

Serupa kau lelaki yang dengan diam-diam menyelinap keluar dari ranum dadaku, setiap parak pagi datang.

Mendekati dan membisikkan sesuatu ke telinga ular pertama itu.


Aku mengingatnya, kau begitu riang dalam bisik-bisik rahasiamu Kemudian cerita diterakan di taman ini, dihanyutkan dalam darahku yang entah begitu Mudah lena dan mendidih atas dengus dan jilat lidah merahmu itu.

Ah, taman ini ternyata terlalu sempit untuk kita, lelaki.

Taman ini semakin terasa sepi, setelah ular pertama di pohon bertudung bintik-bintik itu lesap.

Alir sungai membawanya entah kemana, setelah ia lelah bertapa Menyembunyikan syahwat kita dengan begitu rapinya.

Setelah ia, ular pertama itu, sebagian tubuhnya aku jadikan santap malam kita.


Taman yang lengang, taman yang meminta untuk di kenang.

*wartawan MALANGTIMES

Topik
serial puisikitab ingatan

Berita Lainnya

Berita

Terbaru